
TUGUJOGJA– Misteri kebakaran beruntun yang terus menghantui sebuah rumah di Mriyan X RT 5 RW 20, Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, memasuki babak baru.
Setelah lebih dari dua pekan menjadi perhatian publik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turun langsung ke lokasi untuk menyelidiki penyebab fenomena yang hingga kini belum terpecahkan.
Di tengah berbagai dugaan yang bermunculan, BRIN justru meragukan salah satu teori tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni kemungkinan munculnya gas fosfin yang berasal dari tulang dan bulu hewan sisa aktivitas pemotongan ayam di sekitar rumah.
Keraguan itu muncul setelah BRIN melakukan pengamatan awal terhadap kondisi lingkungan dan sistem pengelolaan limbah di sekitar lokasi kejadian.
Kebakaran Misterius Terjadi 113 Kali di Sleman
Fenomena kebakaran misterius di rumah warga tersebut pertama kali terjadi pada Jumat, 22 Mei 2026. Sejak saat itu, api muncul berulang kali tanpa penyebab yang jelas. Hingga Senin (8/6), tercatat sebanyak 113 kali kemunculan api di berbagai sudut rumah.
Api tidak hanya muncul di satu titik. Kobaran api membakar sejumlah barang rumah tangga, mulai dari mukena, sofa, lemari, hingga berbagai perabot lainnya. Kejadian yang terus berulang ini memicu kekhawatiran warga sekitar sekaligus mengundang perhatian para peneliti dari berbagai institusi.
Ketidakmampuan menemukan sumber api secara pasti membuat kasus ini menjadi salah satu fenomena yang paling membingungkan dalam beberapa waktu terakhir.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN dari Kelompok Teknologi Kebencanaan dan Energi Perairan Darat, Hari Soekarno, menjelaskan bahwa kedatangan tim BRIN ke lokasi bertujuan melakukan survei awal sekaligus berkoordinasi dengan tim peneliti yang sebelumnya telah melakukan kajian.
Menurut Hari, BRIN tidak ingin mengulang penelitian yang sudah berjalan. Sebaliknya, lembaga tersebut berupaya melengkapi data yang sudah ada agar penyelidikan dapat berjalan lebih komprehensif.
“Kami datang untuk melakukan survei awal sekaligus berdiskusi dengan peneliti sebelumnya. Kami ingin mengetahui penelitian apa saja yang sudah dilakukan dan apa yang perlu kami lengkapi,” ujarnya, Senin (8/6).
Hari menegaskan bahwa fokus utama penyelidikan saat ini bukan hanya mencari keberadaan gas tertentu, melainkan juga menemukan sumber pemantik yang menyebabkan gas tersebut dapat menyala secara spontan.
BRIN Ragukan Dugaan Gas Fosfin dari Limbah Ayam
Salah satu dugaan yang berkembang sebelumnya menyebutkan bahwa kebakaran mungkin dipicu oleh gas fosfin yang terbentuk dari proses dekomposisi limbah organik berupa tulang dan bulu hewan hasil usaha pemotongan ayam yang berada di sekitar rumah.
Namun, Hari Soekarno menilai teori tersebut masih sulit diterima berdasarkan kondisi lapangan yang diamati tim BRIN.
Ia menjelaskan bahwa apabila gas fosfin benar-benar terbentuk dari limbah tersebut, kemungkinan besar gas itu sudah terlepas ke atmosfer dan tidak terkonsentrasi dalam jumlah yang cukup untuk memicu kebakaran berulang.
“Kalau melihat instalasi limbahnya, seandainya terbentuk gas fosfin pun, menurut saya sudah akan lepas ke atmosfer,” kata Hari.
Menurutnya, proses alami di udara terbuka akan membuat gas hasil dekomposisi organik bercampur dengan atmosfer sehingga konsentrasinya semakin menurun dan sulit memicu kebakaran secara terus-menerus.
Meski meragukan teori gas fosfin, BRIN belum menutup kemungkinan adanya jenis gas lain yang terlibat dalam fenomena tersebut.
Hari menyebut masih terdapat berbagai kemungkinan terkait keberadaan gas piroforik, yakni kelompok gas yang memiliki kemampuan terbakar secara spontan pada suhu ruang.
Namun hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk memastikan jenis gas yang sebenarnya muncul di lokasi kejadian. Menurut dia, proses identifikasi harus hati-hati karena setiap jenis gas memiliki karakteristik berbeda, termasuk mekanisme penyalaannya.
Jika sumber gas berasal dari dekomposisi limbah organik, konsentrasinya harus cukup tinggi untuk dapat memicu kebakaran. Sementara itu, kondisi lingkungan terbuka justru memungkinkan gas tersebut menjadi netral karena udara atmosfer.
Georadar Akan Telusuri Kemungkinan Rekahan Tanah
BRIN juga menilai pentingnya meneliti kondisi bawah permukaan tanah di sekitar rumah yang mengalami kebakaran berulang.
Hari mengatakan hasil pemindaian menggunakan georadar dapat membantu mengidentifikasi keberadaan sesar, rekahan tanah, atau jalur migrasi gas dari bawah permukaan.
Jika ada rekahan geologi, para peneliti dapat menelusuri kemungkinan adanya gas tertentu yang naik dari lapisan bawah tanah menuju permukaan.
“Baru nanti bisa dilakukan penelusuran jenis gas yang melewatinya,” jelas Hari.
Langkah tersebut penting untuk memastikan apakah terdapat hubungan antara kondisi geologi setempat dengan kemunculan api. Hari juga menyoroti kemungkinan keberadaan gas alam seperti metana. Namun, menurutnya, teori tersebut juga masih menyisakan pertanyaan besar.
Gas metana memang mudah terbakar, tetapi tetap memerlukan sumber pemantik untuk menghasilkan api. Dalam kondisi normal, gas metana tidak dapat terbakar sendiri hanya karena berada pada suhu ruang.
“Kalau itu gas alam metana tetap harus ada pemantik. Tidak bisa di suhu ruangan langsung terbakar sendiri. Ini yang masih jadi tanda tanya,” tegasnya.
Untuk memperoleh jawaban yang lebih akurat, BRIN berencana melakukan pengambilan sampel udara dan gas dari ruangan yang paling sering mengalami kebakaran.
Pihaknya akan menganalisis sampel tersebut menggunakan teknologi gas kromatografi guna mengidentifikasi kandungan senyawa yang terdapat di dalamnya. Hari mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya konsentrasi gas yang mungkin muncul di lokasi.
Kondisi tersebut membuat proses pengambilan sampel menjadi lebih rumit karena membutuhkan metode khusus agar kandungan gas tetap dapat terdeteksi.
“Kami punya alat di Jakarta, tetapi mungkin sulit membawa sampel ke sana. Kami akan diskusikan dahulu, tetapi untuk mengetahui jenis gasnya memang harus dilakukan sampling,” katanya.
Sebagai peneliti yang telah lama berkecimpung dalam bidang sumber daya air dan kebencanaan, Hari mengaku belum pernah menemukan kasus serupa sepanjang kariernya.
Ia mengatakan bahwa fenomena gas yang muncul dari alam umumnya di kawasan rawa atau area terbuka. Namun dalam kasus di Sleman, api justru muncul di dalam rumah dan mampu membakar berbagai benda pada suhu ruang.
Karakteristik inilah yang membuat kasus tersebut menjadi sangat unik sekaligus menantang bagi para peneliti. Menurut Hari, jawaban mengenai jenis gas yang terlibat dan mekanisme pembakarannya menjadi kunci utama untuk mengungkap kebakaran misterius di Sleman. (ef linangkung)