
TUGUJOGJA — Seorang pelajar berinisial AA (17) tewas setelah mengalami penganiayaan bersenjata tajam di kawasan Jalan Yos Sudarso, dekat Stadion Kridosono, Kota Yogyakarta, Minggu (17/5/2026) dini hari.
Polisi kini memburu pelaku dengan memeriksa sedikitnya lima saksi dan menelusuri rekaman CCTV di sejumlah titik jalan utama Kota Jogja.
Kasus yang awalnya ramai disebut sebagai aksi klitih itu kini mengarah pada dugaan bentrokan antar-geng pelajar.
Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Eva Guna Pandia menegaskan insiden tersebut bukan aksi klitih acak seperti yang selama ini meresahkan masyarakat.
“Jadi itu bukan klitih, itu diawali dengan tantang-tantangan dua geng. Sehingga kejadian di hari itu ada yang meninggal,” ujar Eva saat ditemui di Polresta Yogyakarta, Senin (18/5/2026).
Polisi Periksa Lima Saksi
Penyidik Polresta Yogyakarta bergerak cepat setelah peristiwa berdarah itu viral dan memicu keresahan publik.
Hingga Senin malam, polisi telah memeriksa lima orang saksi yang diduga mengetahui rangkaian kejadian.
Salah satu saksi disebut berada langsung di lokasi ketika aksi penyerangan berlangsung.
“Kami masih terus bekerja di lapangan sejak Minggu hingga tadi malam. Saksi sementara ada lima orang,” kata Eva.
Selain pemeriksaan saksi, polisi juga mengumpulkan bukti digital berupa rekaman CCTV dari sejumlah ruas jalan yang dilalui korban dan pelaku.
Penyidik hingga kini belum mengumumkan tersangka dalam kasus tersebut.
Namun, polisi memastikan proses penyelidikan masih terus berkembang.
Korban Sempat Dikejar di Sejumlah Titik Kota
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian menjelaskan hasil penelusuran sementara CCTV menunjukkan korban sempat berusaha melarikan diri sebelum akhirnya terpojok di kawasan Kridosono.
Rangkaian kejadian diduga bermula dari Jalan Magelang.
Korban kemudian melintas menuju kawasan Borobudur Plaza, Simpang Pingit, simpang Samsat Yogyakarta, hingga masuk jalur satu arah Jalan Margo Utomo sebelum akhirnya mengarah ke Jalan Yos Sudarso.
Di lokasi itulah diduga terjadi penyerangan fatal sekitar pukul 03.30 WIB.
Polisi menduga sempat terjadi aksi kejar-kejaran di jalanan kota sebelum korban diserang menggunakan senjata tajam.
“Ini kami sinkronkan dengan keterangan saksi, belum bisa disimpulkan. Tapi ini street crime atau kejahatan jalanan,” ujar Riski.
Korban Alami Luka Sayatan dan Tusukan
AA yang masih berusia 17 tahun 9 bulan mengalami luka serius akibat serangan senjata tajam.
Polisi menyebut korban mengalami luka sayatan di bagian dada serta sejumlah luka lain di tubuhnya.
Korban sempat dilarikan ke RS Panti Rapih Yogyakarta dalam kondisi bersimbah darah.
Namun nyawanya tidak tertolong.
Jenazah kemudian dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses autopsi guna kepentingan penyelidikan.
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang kasus kekerasan jalanan yang melibatkan remaja di Yogyakarta.
Warga Khawatir Konflik Geng Pelajar Meluas
Kasus tewasnya pelajar di pusat Kota Yogyakarta itu langsung menjadi perhatian luas masyarakat.
Di media sosial, banyak warga mengaku khawatir konflik antar-kelompok pelajar kembali meningkat dan berujung kekerasan menggunakan senjata tajam.
Insiden tersebut dinilai mencoreng citra Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota wisata.
Pihak keluarga korban melalui penasihat hukum juga telah melaporkan kasus itu secara resmi kepada kepolisian.
Keluarga berharap pelaku segera ditangkap dan diproses hukum secepatnya.
Hingga Senin malam, polisi masih terus mendalami motif bentrokan dan memburu pihak yang terlibat dalam penganiayaan yang menewaskan AA.