
TUGUJOGJA – Deru angin kencang dan hujan lebat pada Selasa, 19 Agustus 2025, meruntuhkan atap rumah milik Aniek Suprihatin, warga RT 01 RW 01 Kelurahan Notoprajan. Cuaca ekstrem itu tak hanya merusak bangunan, tetapi juga hampir merenggut nyawa salah satu anggota keluarganya yang tertimpa reruntuhan tembok.
Namun, di balik kepanikan dan duka itu, Pemerintah Kota Yogyakarta bergerak cepat menyalurkan bantuan berupa material bangunan agar keluarga Aniek bisa kembali memiliki rumah yang layak huni.
Warga Terdampak Cuaca Ekstrem
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turun langsung menyampaikan rasa prihatin. Ia berdiri di hadapan reruntuhan rumah yang masih basah oleh sisa hujan, menyaksikan bagaimana cuaca ekstrem meninggalkan luka. Dengan nada penuh empati, ia menegaskan bahwa Pemkot hadir untuk warganya yang terdampak.
“Pemkot memberikan bantuan berupa material dengan harapan bisa meringankan perbaikan rumah. Atap yang jebol dan tembok yang roboh tentu menjadi beban berat, apalagi ada anggota keluarga yang sempat tertimpa reruntuhan. Kami ingin sedikit meringankan duka itu,” ujar Hasto.
Bantuan yang disalurkan berupa kayu glugu sebanyak 31 batang, 13 lembar seng galvalum, serta satu lembar terpal. Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, memastikan bahwa bantuan tersebut sesuai dengan standar operasional penanganan bencana.
“SOP kami jelas, ketika rumah warga roboh atau mengalami kerusakan akibat bencana, kami menindaklanjuti dengan bantuan pemulihan. Tujuannya agar rumah itu kembali layak huni. Selain material, ketika warga harus mengungsi, kami juga menyalurkan bantuan logistik dan makanan,” terang Nur Hidayat.
Bantuan material itu tiba bersama gotong royong warga sekitar dan personel Kampung Tanggap Bencana (KTB). Mereka bekerja bahu-membahu membersihkan reruntuhan, mengevakuasi korban, hingga menyiapkan tempat aman sementara.
Hasto Ingatkan Bahaya Sampah yang Sebabkan Banjir
Dalam kesempatan itu, Hasto juga menyoroti persoalan klasik yang semakin memperparah dampak cuaca ekstrem, yakni tumpukan sampah di saluran air. Ia menyebut banjir yang melanda beberapa titik di Kota Yogyakarta terjadi karena aliran air tersumbat sampah.
“Kalau di pinggir Sungai Winongo airnya tidak sampai masuk rumah warga, tapi di wilayah lain seperti Klitren kemarin air meluap hingga masuk rumah. Itu terjadi karena saluran tersumbat sampah. Maka dari itu, kami mengajak semua warga untuk lebih peduli mengelola sampah. Jangan buang sampah ke sungai, pilah sampah di rumah, manfaatkan bank sampah, dan kelola sisa dapur menjadi kompos,” tegas Hasto.
Ia menambahkan, cuaca ekstrem semakin sering melanda Kota Yogyakarta. Tanpa kesadaran bersama menjaga lingkungan, bencana seperti banjir dan kerusakan rumah akan terus mengancam.
Dengan mata berkaca-kaca, Aniek Suprihatin (68) mengungkapkan rasa syukurnya. Ia tidak hanya menerima material untuk memperbaiki rumah, tetapi juga menyaksikan solidaritas warga dan BPBD yang sigap membantu sejak menit pertama musibah terjadi.
“Alhamdulillah terima kasih atas bantuannya. Warga sekitar dan personel KTB langsung menolong saat tembok rumah roboh. Anak saya yang tertimpa reruntuhan cepat ditangani, dibawa ambulans, dan sekarang bisa rawat jalan. Besoknya kami langsung dikabari soal pengukuran kebutuhan material perbaikan rumah. Semua ini sangat membantu kami,” ungkapnya. (ef linangkung)