
TUGUJOGJA– Suasana sekolah-sekolah di Kabupaten Bantul pagi itu berubah menjadi arena demokrasi yang penuh semangat. Ribuan siswa tingkat SMP hingga SMA sederajat terlihat sibuk menyiapkan kotak suara, bilik suara, hingga surat suara.
Mereka tidak sedang menghadapi pemilu nasional, melainkan Pemilos, pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS yang berjalan serentak di 171 sekolah se-Bantul.
Anak-anak muda Bumi Projotamansari tampil percaya diri. Mereka belajar tampil sebagai calon pemimpin, berdebat di depan teman-temannya, hingga berkampanye layaknya kontestan politik sungguhan.
Sementara itu, siswa lain memegang peran sebagai pemilih yang berhak menyalurkan suara. Semua proses berjalan tertib, penuh antusiasme, dan sarat dengan nilai edukasi demokrasi.
Belajar Pemilu lewat Pemilos
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantul menggagas program ini bukan sekadar rutinitas OSIS, melainkan laboratorium demokrasi nyata. Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia KPU Bantul, Wuri Rahmawati, menegaskan bahwa pemilos dirancang semirip mungkin dengan pemilu sesungguhnya.
“Kami ajarkan siswa untuk memahami mekanisme pemilu. Mereka belajar langsung membuat bilik suara, menyiapkan kotak suara, hingga menggelar debat antar calon. Semua berlangsung dengan prinsip learning by doing,” ujar Wuri dalam acara gelar wicara Ngopi Pagi Road to Pemilos yang tayang di Bantul TV.
Wuri menyebut, lewat pemilos, siswa tidak hanya mengerti prosedur teknis pemilu, tetapi juga merasakan atmosfer politik yang penuh dinamika. “Mereka terlibat langsung. Ada yang mencetak alat peraga kampanye, ada yang memimpin debat, hingga bertugas sebagai penyelenggara. Semua menjadi pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya dari teori,” tegasnya.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih hadir langsung dalam apel peluncuran Pemilos Serentak 2025 di SMPN 1 Bantul. Dengan suara lantang, ia menyampaikan pesan penting kepada para siswa bahwa demokrasi bukan hanya tentang memilih, tetapi juga tentang menjaga persatuan.
“Kalian penerus perjuangan bangsa. Kalian harus dilatih untuk memahami dan menjalankan demokrasi dengan adil, jujur, dan profesional. Pemilos ini menjadi pengalaman berharga agar kalian mengerti bagaimana demokrasi bekerja, dengan tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa,” tegas Bupati.
Usai apel, Bupati menyapa sejumlah sekolah secara virtual. Ia berdialog dengan siswa dari berbagai wilayah Bantul, menanyakan langsung jalannya pemilos. Momen itu menambah antusiasme peserta, karena mereka merasa diperhatikan langsung oleh pimpinan daerah.
Pemilos Lahirkan Generasi Melek Politik
Di berbagai sekolah, suasana benar-benar menyerupai pesta demokrasi. Siswa antre dengan tertib untuk masuk ke bilik suara. Ada yang menyalurkan hak pilih dengan wajah serius, ada pula yang tersenyum bangga karena bisa ikut serta.
Beberapa calon ketua OSIS bahkan tampil bak politisi muda. Mereka berorasi dengan penuh keyakinan, menyampaikan visi misi tentang kepemimpinan, kegiatan siswa, hingga rencana program kerja. Sorak-sorai teman-teman mereka menambah dramatisasi suasana debat, seolah-olah sedang menyaksikan debat capres tingkat nasional.
Tidak hanya itu, panitia pemilos juga menyiapkan perlengkapan secara detail. Surat suara dicetak resmi, tinta pemilu disiapkan, bahkan kotak suara dihias sedemikian rupa. Semua berjalan dengan standar pemilu, hanya saja dalam skala sekolah.
Pemilos menjadi tonggak penting bagi generasi muda Bantul. Lewat program ini, siswa belajar arti penting kejujuran, tanggung jawab, serta menghargai perbedaan pilihan. Mereka tidak sekadar mencoblos, tetapi juga memahami hakikat demokrasi.
KPU Bantul berharap pemilos melahirkan generasi yang tidak apatis terhadap politik, melainkan aktif, kritis, dan partisipatif. Dengan begitu, ketika kelak mereka memasuki usia pemilih, mereka sudah terbiasa dengan nilai-nilai demokrasi.
Pemilos di Bantul membuktikan bahwa demokrasi bisa dipelajari sejak dini dengan cara yang menyenangkan. Dari debat calon hingga pencoblosan, semua menjadi pengalaman berharga yang kelak membekali mereka saat berpartisipasi dalam pemilu sesungguhnya. (ef linangkung)