
TUGUJOGJA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menyehatkan siswa justru menimbulkan petaka. Puluhan anak dari empat sekolah di Kabupaten Kulon Progo mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG pada Rabu (30/7/2025).
Kepanikan menyeruak sejak Kamis pagi (31/7/2025) ketika siswa dari SMPN 3 Wates, SMP Muhammadiyah 2 Wates, SD Negeri 1 Triharjo, dan SD Sogan mulai mengeluhkan gejala mual, sakit perut, hingga diare.
Keresahan orang tua dan guru pun memuncak, setelah satu per satu siswa jatuh sakit dan tak mampu mengikuti pelajaran.
Gejala Siswa di Kulon Progo yang Keracunan
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo, Nur Wahyudi, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyampaikan bahwa laporan keracunan masuk dari empat sekolah dengan tingkat keparahan berbeda-beda.
“Dari laporan yang kami terima, dugaan keracunan muncul setelah siswa menyantap MBG kemarin. Efeknya baru terasa tadi malam dan pagi ini,” ungkap Nur pada Kamis (31/7/2025).
Ia menjelaskan, SMPN 3 Wates menjadi sekolah dengan jumlah korban terbanyak. Hampir 80 persen siswanya terdampak. Di SMP Muhammadiyah 2 Wates, tercatat 30 siswa mengalami gejala serupa. Sementara itu, di SD Negeri 1 Triharjo enam anak dan di SD Sogan dua siswa melaporkan gejala ringan.
Kondisi di SMP Muhammadiyah 2 Wates pada siang hari begitu memprihatinkan. Sejumlah siswa tampak meringkuk di ruang Bimbingan Konseling sambil memegang perut.
Beberapa anak tertunduk lesu, menahan rasa mual yang makin menjadi. Tim dari Puskesmas Wates dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo segera mendatangi sekolah dan memberikan penanganan awal.
Petugas kesehatan mulai mengambil sampel makanan yang tersisa. Mereka mencurigai adanya kontaminasi dari salah satu menu yang tersaji dalam program MBG.
Menu yang tersaji adalah ayam, tahu, dan semangka. Para siswa baru merasakan efek keracunan sekitar tengah malam setelah pulang sekolah.
Dinas Turun Tangan
Kepala Disdikpora memastikan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Nur Wahyudi mengatakan bahwa pengambilan sampel makanan menjadi langkah utama dalam penyelidikan kasus ini.
Ia berharap hasil uji laboratorium bisa segera mengungkap penyebab pasti dari kejadian tersebut.
“Kami bersyukur sejauh ini belum ada siswa yang perlu opname. Mayoritas hanya pulang ke rumah dan mendapat obat ringan. Tapi kami tetap pantau ketat perkembangan setiap siswa,” tegasnya.
Program MBG merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi siswa secara merata. Namun, kasus ini mengungkap potensi celah dalam sistem pengolahan dan distribusi makanan.
Hingga berita ini tayang, Dinas Kesehatan belum mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium. Namun, indikasi kuat mengarah pada menu MBG pada hari Rabu. Dugaan awal menyebutkan kemungkinan adanya kontaminasi bakteri pada lauk-pauk. (ef linangkung)