Pungli Pantai Watu Lawang Gunungkidul Ternyata Sudah Bertahun-tahun dan Pernah Viral, Kini Ramai Lagi Usai Wisatawan Mengeluh Dimintai Uang Seikhlasnya

Bagikan :
Pemerintah Kalurahan Tepus dan Disparekrafpora Gunungkidul menindaklanjuti keluhan wisatawan terkait aktivitas pemungutan di Pantai Watu Lawang. (Ist)

TUGUJOGJA โ€“ Aktivitas pemungutan uang kepada wisatawan di kawasan Pantai Watu Lawang, Kalurahan Tepus, Kapanewon Tepus, kembali menjadi sorotan setelah keluhan pengunjung viral di media sosial.

Berdasarkan penelusuran pemerintah setempat, praktik tersebut ternyata sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan pernah menjadi perhatian publik sebelumnya.

Kasus ini kembali mencuat setelah beredar video wisatawan yang mengaku dimintai uang secara sukarela atau seikhlasnya saat memasuki kawasan Pantai Watu Lawang pada akhir Mei lalu. Video tersebut kemudian memicu berbagai tanggapan dari masyarakat dan wisatawan.

Menindaklanjuti hal tersebut, Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Gunungkidul bersama Pemerintah Kalurahan Tepus dan Satpol PP melakukan peninjauan lapangan serta klarifikasi terhadap informasi yang beredar.

Pernah Muncul dan Dibahas Sebelumnya

Hasil penelusuran menunjukkan aktivitas serupa pernah menjadi perhatian beberapa tahun lalu. Saat itu pemerintah kalurahan telah membuka ruang dialog dan berupaya mencari solusi dengan melibatkan kelompok warga yang melakukan pungutan dalam kegiatan kepariwisataan.

Salah satu opsi yang pernah dibahas adalah keterlibatan mereka dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar dapat memperoleh manfaat ekonomi dari sektor wisata melalui mekanisme yang lebih terorganisasi. Namun upaya tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Praktik pemungutan sempat berhenti, tetapi kemudian kembali muncul. Bahkan tidak hanya dilakukan oleh kelompok yang sebelumnya sempat viral, melainkan juga oleh pihak lain yang mengaku memiliki kepentingan serupa terhadap kawasan wisata tersebut.

Baca juga  Pencarian Terduga Pembunuh Ibu Kandung di Ponorogo Terus Berlanjut, Polsek Girisubo Bersama SAR dan TNI AL Sisir Pantai

Kelompok Warga Ingin Terlibat dalam Aktivitas Wisata

Lurah Tepus, Hendra Pratapa, membenarkan adanya aktivitas pemungutan yang dilakukan oleh sekelompok warga di kawasan Pantai Watu Lawang.

Berdasarkan pendataan awal, kelompok tersebut berjumlah sekitar 18 orang dan tidak tergabung dalam struktur maupun aktivitas Pokdarwis yang selama ini mengelola kawasan wisata.

Menurut Hendra, persoalan tersebut telah beberapa kali dibahas melalui forum musyawarah yang difasilitasi pemerintah kalurahan.

Kelompok warga tersebut menginginkan ruang keterlibatan dalam aktivitas wisata karena merasa memiliki keterkaitan dengan lahan yang digunakan sebagai akses menuju pantai. Namun hingga saat ini belum ditemukan kesepakatan yang dapat diterima semua pihak.

“Diskusi dengan kelompok Pokdarwis selama ini buntu. Mereka ingin berkegiatan di pantai, tetapi belum ditemukan format yang bisa diterima kedua belah pihak,” kata Hendra.

Ia juga menyebut kelompok tersebut menyampaikan bahwa mereka sebenarnya tidak ingin terus melakukan pemungutan kepada wisatawan.

Biasanya aktivitas tersebut muncul ketika kunjungan wisata sedang ramai, sementara pada hari-hari biasa sebagian dari mereka kembali bekerja di lahan pertanian yang berada di sekitar kawasan pantai.

Disparekrafpora Sebut Tidak Ada Laporan Resmi

Ketua Tim Kerja Objek dan Daya Tarik Wisata Disparekrafpora Gunungkidul, Aris Sugiantoro, mengatakan pihaknya pertama kali mengetahui persoalan tersebut dari video yang beredar di media sosial.

Baca juga  Ngeyel Tolak Shuttle, Minibus Rombongan Mahasiswa Asal Jakarta Terperosok di Tanjakan Ekstrem Pudak Gunungkidu

Meski belum menerima laporan resmi dari wisatawan maupun masyarakat, Disparekrafpora tetap melakukan klarifikasi dengan mendatangi lokasi dan menemui kelompok yang melakukan pemungutan.

“Kami mengetahui dari video viral terkait keluhan wisatawan yang dimintai uang saat masuk Pantai Watu Lawang. Memang tidak ada laporan resmi ke kami, tetapi tetap kami tindaklanjuti dengan mendatangi lokasi,” ujar Aris.

Dari hasil pertemuan tersebut, Disparekrafpora memperoleh informasi bahwa aktivitas pemungutan sudah berlangsung cukup lama sejak kawasan Pantai Watu Lawang mulai berkembang sebagai destinasi wisata.

Menurut Aris, sebagian warga merasa belum memperoleh manfaat ekonomi dari perkembangan wisata di kawasan tersebut. Mereka juga mengklaim memiliki hubungan dengan lahan yang digunakan sebagai akses jalan menuju pantai.

“Versi mereka, tanah yang dipakai untuk jalan masuk itu milik keluarga mereka. Mereka merasa tidak mendapat kesempatan mengelola wisata maupun mendapatkan lapak usaha, sehingga kemudian melakukan pungutan kepada wisatawan,” ungkapnya.

Pemkab Dorong Penyelesaian di Tingkat Kalurahan

Kelompok warga tersebut berdalih tidak mematok nominal tertentu dan hanya meminta sumbangan sukarela kepada wisatawan yang melintas. Meski demikian, Disparekrafpora menegaskan bahwa praktik pemungutan di luar mekanisme resmi tidak dapat dibenarkan.

Menurut Aris, aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan dan memengaruhi citra pariwisata Gunungkidul apabila terus berulang.

Pemerintah Kalurahan Tepus berencana menggelar pertemuan lanjutan dengan menghadirkan seluruh pihak terkait untuk mencari solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan warga tanpa mengganggu aktivitas pariwisata.

Baca juga  Daerah Mana Saja Bisa Melihat Pink Moon April 2026 di Indonesia? Simak Lokasi dan Waktunya

“Pertama akan kami selesaikan di tingkat kalurahan. Kalau belum menemukan solusi, baru akan kami libatkan pihak-pihak terkait termasuk dinas dan Satpol PP,” tegas Hendra.

Hingga saat ini, Pantai Watu Lawang masih menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan di kawasan pantai selatan Gunungkidul.

Pemerintah berharap pembahasan yang akan dilakukan dalam waktu dekat dapat menghasilkan solusi yang disepakati bersama sehingga aktivitas wisata dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan keluhan dari pengunjung.

slot gacor hari ini

toto togel

slot gacor

togel

slot gacor

slot gacor

link slot

kampungbet

kampungbet

situs togel

slot gacor

situs togel

slot gacor

link slot

situs togel

link slot

situs togel

situs toto

slot gacor

link slot

link gacor

slot gacor hari ini

situs togel

slot gacor hari ini

situs parlay

link gacor

toto togel

slot gacor

situs slot

slot gacor

slot gacor

kotabet link

link gacor

situs togel

situs togel

toto togel

toto togel

toto togel

kampungbet daftar

kampungbet daftar

kampungbet daftar

kampungbet daftar

kampungbet daftar

toto togel

judi bola

situs togel

kampungbet

toto togel

situs gacor

situs gacor

toto togel

situs hk pools

link togel

bandar hk

toto togel

https://frankspizzapalace.com/menu

kampungbet

Berita Terbaru

tugu-diy
Inflasi DIY Naik 2,54 Persen pada Juli 2026, Emas Perhiasan hingga Beras Dongkrak Biaya Hidup
hb-x
Sri Sultan HB X Terima Dubes Qatar, DIY Sambut Delegasi Seni Peringati 50 Tahun Hubungan RI-Qatar
pp-qatar
Muhammadiyah dan Qatar Jalin Kolaborasi Pendidikan hingga Lapangan Kerja, Dimulai dari Yogyakarta
melon sumberharjo
BUMKal Sumberharjo Sleman Panen Melon Premium Perdana, Lahan Tidur Disulap Jadi Penggerak Ekonomi Desa
6305380052505399873
Rekayasa Lalu Lintas Jalan Bantul Hari Ini, Jembatan Winongo Berlakukan Sistem Buka-Tutup

Sedang Banyak Dibaca

rut-miit-mPaKMvE3sHg-unsplash

Tidak Lolos KIP Kuliah Apakah Bisa Daftar Lagi? Simak Ketentuannya Berikut Ini

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

Bisnis Truk Tangki Air Gunungkidul

Krisis Air Bersih Meluas, Pengusaha Truk Tangki Gunungkidul Panen Permintaan