
TUGUJOGJA – Gunung Merapi kembali menunjukkan napas panasnya. Dalam sepekan terakhir, gunung api paling aktif di Indonesia itu memuntahkan awan panas guguran sekali dan mengguncang sekitarnya dengan ratusan gempa guguran.
Aktivitas vulkanik yang terus tinggi membuat Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menegaskan bahwa status Gunung Merapi masih berada pada tingkat “Siaga”.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, memastikan pihaknya terus memantau setiap denyut aktivitas Merapi yang kini memperlihatkan pola erupsi efusif, pelepasan magma secara perlahan dalam bentuk lava dan guguran awan panas.
“Suplai magma masih berlangsung. Aktivitas di puncak tetap tinggi dan berpotensi memicu awan panas guguran di wilayah potensi bahaya,” tegasnya dalam laporan mingguan resmi, Sabtu, 25 Oktober 2025.
Aktivitas Guguran dan Perubahan Morfologi di Puncak Merapi
Sejak awal pekan, Gunung Merapi tampak anggun namun berbahaya. Pada pagi hingga malam hari, puncaknya kerap terlihat jelas di bawah langit cerah. Namun menjelang siang hingga sore, kabut tebal menyelimuti tubuhnya, seolah menutupi aktivitas di balik awan.
Asap putih terus mengepul dari kawah, menandakan aktivitas gas yang stabil. BPPTKG mencatat tinggi asap bervariasi dari 50 hingga 400 meter dengan tekanan lemah. Namun di balik ketenangan visual itu, aktivitas bawah permukaan terus bergolak.
Selama sepekan pengamatan, satu kali awan panas guguran meluncur sejauh 1.000 meter ke arah barat daya. Selain itu, 26 kali guguran lava teramati ke arah hulu Kali Krasak sejauh maksimum 2.000 meter, tujuh kali ke arah Kali Bebeng sejauh 1.800 meter, dan 23 kali ke arah Kali Sat/Putih sejauh 2.000 meter.
“Perubahan morfologi kecil tampak di kubah barat daya akibat aktivitas guguran dan pertambahan volume lava,” ujar Agus.
Analisis foto udara per 8 Oktober 2025 menunjukkan, volume Kubah Barat Daya mencapai 4,4 juta meter kubik, sedangkan Kubah Tengah mencapai 2,36 juta meter kubik.
Ratusan Gempa, Laju Magma, dan Ancaman Musim Hujan
Data seismik memperlihatkan betapa aktifnya perut bumi di bawah Merapi. Dalam sepekan, alat rekam mencatat satu kali gempa awan panas guguran (APG), 27 gempa vulkanik dangkal (VTB), 660 gempa fase banyak (MP), empat gempa tremor, 696 gempa guguran (RF), dan tiga gempa tektonik (TT).
Jumlah ini sedikit menurun dibanding pekan sebelumnya, namun tetap menunjukkan aktivitas tinggi. Intensitas kegempaan masih berada dalam fase aktif, hanya sedikit lebih rendah dibanding minggu lalu.
Kendati getaran tak sampai terasa di pemukiman, petugas pos pengamatan tetap siaga penuh.
“Kami terus pantau setiap getaran, karena gempa guguran sering menjadi tanda awal munculnya awan panas,” tambah Agus.
Pemantauan deformasi, atau perubahan bentuk tubuh gunung, menunjukkan kondisi relatif stabil. Data EDM di sektor barat laut menunjukkan jarak tunjam berkisar 3.840,485 hingga 3.840,489 meter, sedangkan pengukuran GPS Labuhan–Jarakah berada di kisaran 7.108,13 hingga 7.108,14 meter.
“Deformasi tidak menunjukkan perubahan signifikan,” jelas Agus. Namun kestabilan ini bukan berarti Merapi sedang tenang. “Suplai magma di bawah masih berjalan. Jika tekanan meningkat, awan panas bisa kembali muncul sewaktu-waktu,” ujarnya memperingatkan.
Musim hujan juga mulai mengetuk lereng Merapi. Pada 20 Oktober 2025, hujan deras mengguyur kawasan Kaliurang dengan intensitas 26,25 mm per jam selama 65 menit.
Walau belum memicu lahar, BPPTKG mengingatkan warga untuk mewaspadai potensi lahar dingin di sungai-sungai berhulu Merapi seperti Krasak, Bebeng, Boyong, dan Gendol.
“Hujan deras bisa menyeret material vulkanik yang tersisa di lereng. Masyarakat harus waspada terutama di kawasan bantaran sungai,” pesan Agus.
Zona Bahaya dan Imbauan Mitigasi
Saat ini, potensi bahaya Merapi meliputi:
- Sektor selatan–barat daya, mencakup Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 km.
- Sektor tenggara, mencakup Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km.
Selain itu, lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
BPPTKG menegaskan, masyarakat dilarang beraktivitas di dalam zona potensi bahaya. Pemerintah daerah di wilayah terdampak, Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, diimbau memperkuat mitigasi, menyiapkan sarana evakuasi, serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi kemungkinan erupsi.
“Masyarakat perlu memahami, status Siaga bukan berarti aman. Gunung Merapi masih sangat aktif. Kewaspadaan adalah kunci keselamatan,” kata Agus.
Ia juga mengingatkan potensi gangguan abu vulkanik yang bisa menyebar ketika arah angin berubah. Jika terjadi peningkatan aktivitas signifikan, BPPTKG akan meninjau kembali status aktivitas Gunung Merapi.