
TUGUJOGJA— Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus menggenjot produksi ikan air tawar untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), pemerintah menyalurkan sekitar 240.000 ekor benih ikan kepada 44 kelompok pembudidaya ikan di berbagai kapanewon.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk meningkatkan produktivitas sektor perikanan budidaya sekaligus menjawab tantangan rendahnya konsumsi ikan masyarakat Gunungkidul yang masih tertinggal daripada rata-rata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Penyaluran Benih Ikan
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Gunungkidul, Purnomo Sumardamto, menjelaskan bahwa bantuan benih tersebut berasal dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Jenis benih meliputi lele, nila, dan gurami, dengan jumlah bervariasi antara 5.000 hingga 25.000 ekor per kelompok.
“Penyaluran kami lakukan secara bertahap kepada kelompok pembudidaya ikan di berbagai kapanewon. Bantuan ini kami harapkan dapat memperkuat usaha budidaya dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Damto, Selasa (7/10/2025).
Pada tahap pertama, penyaluran difokuskan pada benih ikan lele, sementara benih nila dan gurami akan menyusul dalam waktu dekat. Menurutnya, seluruh benih yang diberikan merupakan bibit unggul dengan tingkat kelangsungan hidup tinggi sehingga dapat memberikan hasil panen yang optimal.
“Benih yang kami berikan sudah melalui seleksi ketat. Kami berharap pembudidaya bisa membesarkan ikan-ikan ini dengan baik agar hasil panennya benar-benar memberikan nilai ekonomi nyata,” imbuh Damto.
Ia menegaskan, program bantuan ini tidak berhenti pada distribusi benih saja. DKP juga berkomitmen memberikan pendampingan berkelanjutan agar pembudidaya mampu mengelola kegiatan budidaya secara efisien dan berkelanjutan. Pendampingan ini meliputi pelatihan teknis, manajemen pakan, hingga pengendalian penyakit ikan.
Selain mendorong produktivitas, DKP juga menargetkan peningkatan pemanfaatan potensi perairan darat seperti kolam, embung, dan sungai kecil untuk kegiatan budidaya.
“Kami ingin masyarakat bisa menjadikan potensi perairan sebagai sumber penghidupan baru. Potensi ini besar jika dikelola dengan baik,” jelasnya.
Tingkat Konsumsi Ikan Gunungkidul Rendah
Kepala DKP Gunungkidul, M. Johan Wijayanto, menambahkan bahwa program bantuan benih ikan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga untuk mendorong konsumsi ikan masyarakat yang masih rendah.
“Konsumsi ikan warga Gunungkidul masih di bawah rata-rata DIY. Karena itu, kami dorong peningkatan produksi agar ketersediaan ikan di pasaran makin melimpah dan harga lebih terjangkau,” tutur Johan.
Berdasarkan data DKP Gunungkidul, tingkat konsumsi ikan masyarakat baru mencapai 33,4 kilogram per kapita per tahun, masih di bawah rata-rata DIY yang mencapai 36,4 kilogram per kapita per tahun.
Kondisi ini menunjukkan perlunya langkah konkret untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi ikan bagi kesehatan dan gizi keluarga.
Selain penyaluran benih, pemerintah daerah juga memperkuat sektor perikanan melalui berbagai dukungan sarana dan prasarana, seperti bantuan perahu, mesin, dan cold storage bagi nelayan, serta pelatihan dan pendampingan intensif bagi pembudidaya.
“Pendampingan menjadi kunci agar bantuan tidak berhenti di penyaluran. Kami ingin para pembudidaya dan nelayan bisa naik kelas, menjadi lebih mandiri, dan mampu menggerakkan ekonomi lokal,” tegas Johan.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menargetkan dalam beberapa tahun ke depan, produktivitas dan konsumsi ikan di wilayah ini dapat meningkat signifikan.
Upaya terintegrasi dari hulu ke hilir akan menciptakan siklus ekonomi perikanan yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir dan pedesaan. (ef linangkung)