Tradisi Isra Miraj di Jogja, Mengenal Yasa Peksi Burak

Bagikan :
Tradisi Isra Miraj di Jogja, ada Yasa Peksi Burak (dok. IG @kratonjogja)

TUGUJOGJA – Setiap datangnya bulan Rajab, suasana religius terasa lebih kuat di Kota Yogyakarta. Di tengah berbagai pengajian dan peringatan di masjid-masjid, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki cara khas untuk memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, yakni melalui sebuah tradisi sakral bernama Yasa Peksi Burak.

Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi perwujudan pertemuan antara ajaran Islam dan warisan budaya Jawa yang telah dijaga selama ratusan tahun.

Bagi umat Islam, Isra Miraj adalah peristiwa agung ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit untuk menerima perintah salat lima waktu. Di banyak tempat, peristiwa ini diperingati dengan tausiah dan doa bersama. Namun di Keraton Yogyakarta, makna Isra Miraj dihadirkan dalam bentuk simbol, prosesi, dan tata cara yang kaya akan filosofi.

Apa Itu Yasa Peksi Burak?

Berdasarkan keterangan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yasa Peksi Burak merupakan tradisi resmi Keraton dalam memperingati Isra Miraj yang rutin dilakukan setiap bulan Rajab dalam penanggalan Jawa. Nama tradisi ini sendiri mengandung makna mendalam.

Kata “Yasa” berarti membuat atau merangkai, “Peksi” berarti burung, sedangkan “Burak” merujuk pada makhluk istimewa yang dalam kisah Isra Miraj menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Yasa Peksi Burak dapat dimaknai sebagai proses pembuatan simbol Burak dalam wujud burung, yang melambangkan perjalanan spiritual Nabi menuju hadirat Allah SWT.

Baca juga  Daftar Jembatan Cagar Budaya di Jogja, Apakah Jembatan Kewek Termasuk?

Dalam tradisi ini, Keraton tidak menghadirkan Burak secara harfiah, melainkan lewat simbol Peksi Burak, sebuah miniatur burung yang dibuat dari bahan-bahan alami dan penuh makna.

Simbol Peksi Burak dan Maknanya

Peksi Burak dirangkai dari kulit jeruk bali yang dikupas dan dibentuk menyerupai burung Buraq, mulai dari bagian kepala, leher, badan, hingga sayap. Kulit jeruk yang berwarna cerah dipilih bukan tanpa alasan, karena melambangkan kesucian, cahaya, dan kemuliaan perjalanan Nabi Muhammad SAW.

Miniatur ini dibuat sebagai representasi kendaraan spiritual yang membawa Nabi menembus batas langit. Dengan bentuk burung, Peksi Burak juga mencerminkan keluhuran, kebebasan, dan kedekatan dengan alam semesta, nilai yang sejalan dengan filosofi Jawa tentang harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Awal Prosesi: Pembuatan Peksi Burak

Rangkaian Yasa Peksi Burak dimulai sejak pagi hari di Bangsal Sekar Kedhaton. Pada tahap ini, putri-putri Keraton Yogyakarta berperan penting dalam merangkai simbol utama upacara.

Mereka mengupas kulit jeruk bali dan menyusunnya menjadi dua buah miniatur Peksi Burak, yakni sepasang jantan dan betina. Kedua burung ini melambangkan keseimbangan dan keharmonisan, dua prinsip yang sangat dijunjung dalam budaya Jawa maupun ajaran Islam.

Setelah selesai, Peksi Burak tersebut diletakkan di atas sebuah pohon buah buatan. Pohon ini disusun dari kerangka bambu setinggi sekitar satu meter dan dipenuhi berbagai hasil bumi.

Baca juga  Spot Nonton Pesta Kembang Api Tahun Baru 2026 Gratis di Jogja

Pohon Buah yang Sarat Makna

Pohon tempat bertenggernya Peksi Burak bukanlah hiasan biasa. Pohon ini dihiasi dengan tujuh hingga delapan jenis buah, seperti pisang raja, rambutan, manggis, jeruk, apel, sawo, dan salak, ditambah dengan untaian tebu. Aneka buah tersebut melambangkan keberkahan, kemakmuran, serta rezeki yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia.

Dalam filosofi Jawa, buah-buahan juga menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi. Dengan menempatkan Peksi Burak di atas pohon penuh buah, Keraton seolah ingin menggambarkan bahwa perjalanan spiritual Nabi membawa berkah dan kebaikan bagi seluruh umat.

Penyerahan dan Arak-arakan Menuju Masjid Gedhe

Menjelang sore hari, rangkaian Peksi Burak beserta pohon buahnya diserahkan kepada Abdi Dalem Kanca Kaji dan Suranata. Sebelum dibawa keluar dari kompleks Keraton, rangkaian tersebut terlebih dahulu didoakan agar membawa keberkahan dan makna spiritual bagi seluruh prosesi.

Setelah itu, iring-iringan pun dimulai. Rombongan keluar dari kawasan Kedhaton menuju Masjid Gedhe, dikawal oleh Kanca Abrit, Abdi Dalem Kanca Kaji, serta Suranata. Arak-arakan ini menjadi simbol perjalanan, mengingatkan kembali pada perjalanan Isra Miraj yang ditempuh Nabi Muhammad SAW.

Puncak Acara di Serambi Masjid Gedhe

Tahapan terakhir sekaligus puncak dari Yasa Peksi Burak berlangsung pada malam hari di Serambi Masjid Gedhe. Di sinilah makna spiritual peringatan Isra Miraj benar-benar diperdalam.

Baca juga  Deretan Konser Musik di Jogja September 2025, Siapa yang Tampil?

Para Abdi Dalem Pengulon membacakan risalah Isra Miraj dalam bahasa Jawa. Pembacaan kisah suci ini diawali dengan lantunan Surat Al-Isra ayat 1, ayat yang menjadi dasar peristiwa Isra Miraj dalam Al-Qur’an. Dengan menggunakan bahasa Jawa, Keraton menunjukkan bagaimana ajaran Islam dapat menyatu dengan budaya lokal tanpa kehilangan kesakralannya.

Warisan Spiritual dan Budaya yang Terjaga

Tradisi Yasa Peksi Burak bukan hanya tentang prosesi atau keindahan visual. Lebih dari itu, ia adalah cara Keraton Yogyakarta merawat nilai-nilai Islam dalam bingkai budaya Jawa. Melalui simbol Peksi Burak, pohon buah, arak-arakan, dan pembacaan riwayat Nabi, masyarakat diajak untuk merenungkan kembali makna Isra Miraj sebagai perjalanan menuju ketaatan dan kedekatan kepada Allah SWT.

Di tengah arus modernisasi, Yasa Peksi Burak tetap berdiri sebagai bukti bahwa warisan leluhur dan ajaran agama dapat berjalan beriringan. Inilah kekayaan spiritual dan budaya Yogyakarta yang terus hidup dari generasi ke generasi.

***

situs hk

situs gacor

togel online

slot gacor

slot gacor

slot gacor hari ini

situs toto

link togel

situs hk

situs gacor

situs toto

situs gacor

toto togel

situs togel

slot gacor hari ini

togel 4d

situs toto

situs gacor

slot online

situs togel

bandar togel

situs gacor

situs togel

Berita Terbaru

tugu-diy
Inflasi DIY Naik 2,54 Persen pada Juli 2026, Emas Perhiasan hingga Beras Dongkrak Biaya Hidup
hb-x
Sri Sultan HB X Terima Dubes Qatar, DIY Sambut Delegasi Seni Peringati 50 Tahun Hubungan RI-Qatar
pp-qatar
Muhammadiyah dan Qatar Jalin Kolaborasi Pendidikan hingga Lapangan Kerja, Dimulai dari Yogyakarta
melon sumberharjo
BUMKal Sumberharjo Sleman Panen Melon Premium Perdana, Lahan Tidur Disulap Jadi Penggerak Ekonomi Desa
6305380052505399873
Rekayasa Lalu Lintas Jalan Bantul Hari Ini, Jembatan Winongo Berlakukan Sistem Buka-Tutup

Sedang Banyak Dibaca

rut-miit-mPaKMvE3sHg-unsplash

Tidak Lolos KIP Kuliah Apakah Bisa Daftar Lagi? Simak Ketentuannya Berikut Ini

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

hutri80_fa_secondary-logo_on-red_ratio-16x9

Rangkaian Kegiatan HUT RI 80 Resmi, Ada Berbagai Acara Mulai 1 hingga 24 Agustus 2025

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian