
TUGUJOGJA – Setiap datangnya bulan Rajab, suasana religius terasa lebih kuat di Kota Yogyakarta. Di tengah berbagai pengajian dan peringatan di masjid-masjid, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki cara khas untuk memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, yakni melalui sebuah tradisi sakral bernama Yasa Peksi Burak.
Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi perwujudan pertemuan antara ajaran Islam dan warisan budaya Jawa yang telah dijaga selama ratusan tahun.
Bagi umat Islam, Isra Miraj adalah peristiwa agung ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit untuk menerima perintah salat lima waktu. Di banyak tempat, peristiwa ini diperingati dengan tausiah dan doa bersama. Namun di Keraton Yogyakarta, makna Isra Miraj dihadirkan dalam bentuk simbol, prosesi, dan tata cara yang kaya akan filosofi.
Apa Itu Yasa Peksi Burak?
Berdasarkan keterangan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yasa Peksi Burak merupakan tradisi resmi Keraton dalam memperingati Isra Miraj yang rutin dilakukan setiap bulan Rajab dalam penanggalan Jawa. Nama tradisi ini sendiri mengandung makna mendalam.
Kata “Yasa” berarti membuat atau merangkai, “Peksi” berarti burung, sedangkan “Burak” merujuk pada makhluk istimewa yang dalam kisah Isra Miraj menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Yasa Peksi Burak dapat dimaknai sebagai proses pembuatan simbol Burak dalam wujud burung, yang melambangkan perjalanan spiritual Nabi menuju hadirat Allah SWT.
Dalam tradisi ini, Keraton tidak menghadirkan Burak secara harfiah, melainkan lewat simbol Peksi Burak, sebuah miniatur burung yang dibuat dari bahan-bahan alami dan penuh makna.
Simbol Peksi Burak dan Maknanya
Peksi Burak dirangkai dari kulit jeruk bali yang dikupas dan dibentuk menyerupai burung Buraq, mulai dari bagian kepala, leher, badan, hingga sayap. Kulit jeruk yang berwarna cerah dipilih bukan tanpa alasan, karena melambangkan kesucian, cahaya, dan kemuliaan perjalanan Nabi Muhammad SAW.
Miniatur ini dibuat sebagai representasi kendaraan spiritual yang membawa Nabi menembus batas langit. Dengan bentuk burung, Peksi Burak juga mencerminkan keluhuran, kebebasan, dan kedekatan dengan alam semesta, nilai yang sejalan dengan filosofi Jawa tentang harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Awal Prosesi: Pembuatan Peksi Burak
Rangkaian Yasa Peksi Burak dimulai sejak pagi hari di Bangsal Sekar Kedhaton. Pada tahap ini, putri-putri Keraton Yogyakarta berperan penting dalam merangkai simbol utama upacara.
Mereka mengupas kulit jeruk bali dan menyusunnya menjadi dua buah miniatur Peksi Burak, yakni sepasang jantan dan betina. Kedua burung ini melambangkan keseimbangan dan keharmonisan, dua prinsip yang sangat dijunjung dalam budaya Jawa maupun ajaran Islam.
Setelah selesai, Peksi Burak tersebut diletakkan di atas sebuah pohon buah buatan. Pohon ini disusun dari kerangka bambu setinggi sekitar satu meter dan dipenuhi berbagai hasil bumi.
Pohon Buah yang Sarat Makna
Pohon tempat bertenggernya Peksi Burak bukanlah hiasan biasa. Pohon ini dihiasi dengan tujuh hingga delapan jenis buah, seperti pisang raja, rambutan, manggis, jeruk, apel, sawo, dan salak, ditambah dengan untaian tebu. Aneka buah tersebut melambangkan keberkahan, kemakmuran, serta rezeki yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia.
Dalam filosofi Jawa, buah-buahan juga menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi. Dengan menempatkan Peksi Burak di atas pohon penuh buah, Keraton seolah ingin menggambarkan bahwa perjalanan spiritual Nabi membawa berkah dan kebaikan bagi seluruh umat.
Penyerahan dan Arak-arakan Menuju Masjid Gedhe
Menjelang sore hari, rangkaian Peksi Burak beserta pohon buahnya diserahkan kepada Abdi Dalem Kanca Kaji dan Suranata. Sebelum dibawa keluar dari kompleks Keraton, rangkaian tersebut terlebih dahulu didoakan agar membawa keberkahan dan makna spiritual bagi seluruh prosesi.
Setelah itu, iring-iringan pun dimulai. Rombongan keluar dari kawasan Kedhaton menuju Masjid Gedhe, dikawal oleh Kanca Abrit, Abdi Dalem Kanca Kaji, serta Suranata. Arak-arakan ini menjadi simbol perjalanan, mengingatkan kembali pada perjalanan Isra Miraj yang ditempuh Nabi Muhammad SAW.
Puncak Acara di Serambi Masjid Gedhe
Tahapan terakhir sekaligus puncak dari Yasa Peksi Burak berlangsung pada malam hari di Serambi Masjid Gedhe. Di sinilah makna spiritual peringatan Isra Miraj benar-benar diperdalam.
Para Abdi Dalem Pengulon membacakan risalah Isra Miraj dalam bahasa Jawa. Pembacaan kisah suci ini diawali dengan lantunan Surat Al-Isra ayat 1, ayat yang menjadi dasar peristiwa Isra Miraj dalam Al-Qur’an. Dengan menggunakan bahasa Jawa, Keraton menunjukkan bagaimana ajaran Islam dapat menyatu dengan budaya lokal tanpa kehilangan kesakralannya.
Warisan Spiritual dan Budaya yang Terjaga
Tradisi Yasa Peksi Burak bukan hanya tentang prosesi atau keindahan visual. Lebih dari itu, ia adalah cara Keraton Yogyakarta merawat nilai-nilai Islam dalam bingkai budaya Jawa. Melalui simbol Peksi Burak, pohon buah, arak-arakan, dan pembacaan riwayat Nabi, masyarakat diajak untuk merenungkan kembali makna Isra Miraj sebagai perjalanan menuju ketaatan dan kedekatan kepada Allah SWT.
Di tengah arus modernisasi, Yasa Peksi Burak tetap berdiri sebagai bukti bahwa warisan leluhur dan ajaran agama dapat berjalan beriringan. Inilah kekayaan spiritual dan budaya Yogyakarta yang terus hidup dari generasi ke generasi.
***