TUGU JOGJA – Persoalan sampah plastik menjadi pintu masuk Fakultas Teknobiologi (FTB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) untuk mengajak generasi muda memahami hubungan antara sains, lingkungan, wawasan kebangsaan, dan masa depan bersama. Pendekatan tersebut disampaikan saat FTB UAJY mendampingi siswa SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan dalam diskusi mengenai bioplastik, wawasan kebangsaan, dan semangat Laudato Si’.
Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya diajak mengenali bioplastik sebagai material alternatif, tetapi juga memahami persoalan sampah plastik secara lebih menyeluruh. Plastik yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dipandang bukan semata-mata sebagai persoalan kebersihan, melainkan juga berkaitan dengan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Sampah Plastik Bukan Sekadar Persoalan Kebersihan
Pembahasan mengenai sampah plastik dalam diskusi tersebut ditempatkan dalam konteks persoalan lingkungan yang lebih luas. Sampah plastik dapat ditemukan di berbagai ruang kehidupan, mulai dari permukiman dan sungai hingga wilayah pesisir serta laut.
Kondisi itu menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan plastik tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Diperlukan pengetahuan untuk memahami persoalan, inovasi untuk mencari alternatif, perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, serta keterlibatan berbagai pihak.
Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak melihat bahwa persoalan lingkungan memiliki hubungan erat dengan keputusan dan tindakan manusia. Sains kemudian diperkenalkan bukan sekadar sebagai pengetahuan teoritis, tetapi sebagai salah satu cara untuk memahami masalah yang hadir di sekitar mereka.
Bioplastik Diperkenalkan sebagai Salah Satu Alternatif
Salah satu materi utama dalam diskusi adalah bioplastik. Siswa diperkenalkan pada jenis bioplastik tertentu yang dirancang agar dapat terurai secara biologis.
Material tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu mengurangi penumpukan sampah plastik. Namun, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik material dan kondisi lingkungan yang dibutuhkan agar proses penguraian dapat berlangsung sebagaimana dirancang.
Pembahasan mengenai bioplastik tidak diberikan hanya dari sisi keunggulannya. FTB UAJY juga mengajak siswa memahami bahwa teknologi tersebut masih memiliki sejumlah keterbatasan.
Bioplastik belum dapat menggantikan seluruh fungsi plastik konvensional. Biaya produksi yang masih relatif tinggi menjadi salah satu tantangannya. Selain itu, ketersediaan produksinya belum luas dan beberapa jenis bioplastik memiliki karakteristik yang kurang tahan terhadap suhu tinggi.
Berbagai keterbatasan tersebut menunjukkan bahwa inovasi di bidang material masih membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Karena itu, siswa tidak diarahkan untuk melihat bioplastik sebagai solusi tunggal atas persoalan sampah plastik.
Siswa Didorong Berpikir Kritis terhadap Teknologi
Cara pandang kritis menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan. Siswa tidak hanya diperkenalkan pada sebuah produk teknologi, tetapi juga diajak mempertanyakan persoalan yang melatarbelakanginya.
Mereka didorong untuk memahami mengapa sebuah masalah muncul, sejauh mana suatu solusi dapat diterapkan, serta bagian mana yang masih membutuhkan pengembangan.
Pendekatan tersebut membuat pembelajaran mengenai bioplastik tidak berhenti pada pengenalan material. Siswa juga diajak melihat proses berpikir yang diperlukan ketika ilmu pengetahuan digunakan untuk menghadapi persoalan nyata.
Kemampuan mengamati, menganalisis, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil tindakan menjadi bagian dari pembelajaran yang dibangun melalui diskusi tersebut.
Persoalan Lingkungan Dikaitkan dengan Wawasan Kebangsaan
Pembahasan kemudian berkembang dari persoalan plastik menuju wawasan kebangsaan. Sampah plastik digunakan sebagai contoh bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Permasalahan tersebut tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan individu. Ketika sampah berada di permukiman, sungai, pesisir, hingga laut, persoalan lingkungan memiliki cakupan yang lebih luas dan membutuhkan cara pandang yang menyeluruh.
Dalam konteks itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk mengenali persoalan, menganalisis penyebab dan pilihan penyelesaiannya, serta berani mengambil bagian dalam tindakan nyata.
Pengetahuan menjadi salah satu bekal penting, tetapi kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut untuk membaca persoalan dan mencari solusi juga menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Semangat Laudato Si’ Mengajak Merawat Bumi
Perspektif lingkungan dalam diskusi kemudian dipertemukan dengan semangat Laudato Si’, yang mengajak manusia melihat bumi sebagai rumah bersama.
Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga alam. Persoalan ekologis juga memiliki keterkaitan dengan manusia dan generasi yang akan datang.
Kerusakan lingkungan dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap kehidupan. Dampaknya dapat berkaitan dengan kesehatan, kehidupan sosial, kondisi ekonomi, hingga kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, pembahasan mengenai bioplastik di lingkungan pendidikan diarahkan agar siswa dapat melihat keterhubungan antara ilmu pengetahuan, pilihan konsumsi, kondisi lingkungan, dan masa depan bersama.
FTB UAJY Hadirkan Sains melalui Persoalan Sehari-hari
Pendampingan terhadap siswa SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan tersebut mencerminkan pendekatan FTB UAJY dalam memperkenalkan sains melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pengetahuan tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya berada di laboratorium atau ruang kuliah. Sains juga dapat digunakan sebagai alat untuk membaca berbagai persoalan nyata sekaligus mendorong keberanian untuk mencari solusi.
Pendekatan tersebut menempatkan siswa sebagai pihak yang tidak hanya menerima informasi. Mereka juga diajak memahami proses berpikir di balik sebuah persoalan dan solusi yang ditawarkan.
Bagi UAJY, pendidikan memiliki peran dalam membentuk generasi yang tidak sekadar mengetahui suatu persoalan. Pendidikan juga diharapkan mampu mendorong kemampuan berpikir kritis, kepedulian terhadap lingkungan dan bangsa, serta keberanian mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Melalui pembahasan mengenai bioplastik, siswa diajak melihat bahwa persoalan lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Diperlukan pula cara berpikir kritis, perubahan perilaku, dan kesadaran bahwa kondisi bumi berkaitan dengan kehidupan bersama.
Sains menjadi sarana untuk memahami bumi, sementara pendidikan menjadi ruang untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu ikut merawatnya.





