Gonta-Ganti Band Demi Harga Termurah: Sisi Lain Musisi Live Music di Kafe dan Tempat Nongkrong Jogja

Bagikan :
Ilustrasi | Sisi lain musisi live music di Jogja (AI // Tugu Jogja)

TUGU JOGJAย – Live music telah menjadi bagian dari budaya nongkrong di Yogyakarta. Dari kafe di sekitar Malioboro hingga kawasan Prawirotaman, pengunjung dapat menikmati penampilan musisi lokal mulai sore hingga larut malam.

Bagi pengelola kafe, kehadiran band menjadi salah satu strategi untuk menarik pengunjung dan menciptakan suasana yang berbeda.

Namun, di balik panggung kecil tersebut, ada persoalan yang tidak selalu terlihat, yakni ketidakpastian honor, jam kerja malam, dan ketergantungan musisi pada saweran.

Fenomena ini memperlihatkan sisi lain pertumbuhan industri hiburan kafe di Yogyakarta. Ketika pertunjukan musik menjadi bagian dari strategi bisnis, kesejahteraan orang-orang yang mengisi panggung juga perlu diperhitungkan.

Berdasarkan kajian yang diterbitkan melalui repositori Universitas Atma Jaya Yogyakarta, diketahui bahwa pertunjukan musik di Yogyakarta berlangsung di berbagai ruang, mulai dari kafe, gedung pertunjukan, panggung nonpermanen, hingga ruang publik.

Kajian tersebut juga menempatkan Yogyakarta sebagai salah satu pusat perkembangan komunitas musik indie.

Sementara itu, dari hasil pantauan Tugujogja.id, diketahui bahwa sejumlah kafe di Yogyakarta memang kerap menghadirkan beragam pertunjukan, mulai dari musik akustik, pop, blues, hingga penampilan band penuh.

Beberapa tempat bahkan menjadwalkan live music secara rutin beberapa kali dalam sepekan. Pola tersebut membentuk hubungan ekonomi antara pengelola usaha dan musisi.

Kafe mendapatkan hiburan yang dapat meningkatkan daya tarik tempat, sedangkan musisi memperoleh ruang untuk tampil, memperkenalkan karya, membangun audiens, dan mendapatkan penghasilan.

Namun, hubungan itu tidak selalu berjalan seimbang. Sebagian musisi bekerja berdasarkan kesepakatan per acara tanpa pendapatan tetap atau jaminan kerja seperti pekerja formal.

Baca juga  Menguak Pergeseran Makna Tradisi Merti Dusun di Era Modern

Besaran honor musisi kafe sangat bervariasi. Band pemula biasanya memiliki posisi tawar berbeda dibandingkan musisi yang sudah dikenal, memiliki katalog lagu, atau mempunyai basis penggemar sendiri.

Dalam sejumlah skema pertunjukan, honor pokok yang relatif rendah diharapkan bertambah melalui saweran pengunjung. Tambahan tersebut memang bisa meningkatkan pendapatan, tetapi jumlahnya tidak dapat dipastikan.

Persoalannya, pekerjaan musisi tidak hanya berlangsung selama mereka berada di panggung.

Ada waktu yang harus dialokasikan untuk latihan, perjalanan menuju lokasi, persiapan alat, pengecekan suara, hingga membongkar perlengkapan setelah pertunjukan.

Jika seluruh proses itu dihitung, durasi kerja sebenarnya jauh lebih panjang daripada waktu tampil yang dilihat pengunjung.

Di sinilah muncul ketimpangan risiko ekonomi. Kafe memperoleh hiburan sebagai bagian dari produk yang dijual kepada pelanggan, sedangkan musisi menghadapi ketidakpastian pendapatan yang dipengaruhi tingkat keramaian.

Situasi tersebut juga membuat sebagian musisi harus menerima berbagai tawaran atau berganti-ganti band agar tetap memperoleh jadwal manggung.

Bagi mereka, banyaknya panggung belum tentu berarti penghasilan yang cukup apabila honor setiap penampilan tidak sebanding dengan biaya dan waktu yang dikeluarkan.

Dan tawaran tampil di kafe kerap dikaitkan dengan kesempatan memperoleh pengalaman, memperluas jaringan, atau mendapatkan eksposur.

Bagi musisi pemula, kesempatan tersebut memang memiliki nilai karena dapat membantu membangun kemampuan dan memperkenalkan identitas musikal.

Namun, eksposur tidak otomatis menghasilkan pendapatan pada masa mendatang. Musisi tetap membutuhkan biaya transportasi, makan, perawatan alat, latihan, kesehatan, hingga tabungan untuk menghadapi masa ketika tidak ada jadwal pertunjukan.

Baca juga  Menguak Realitas Pekerja Seni di Luar Galeri Mewah Jogja

Jika kesempatan tampil hanya disertai honor yang sangat rendah, panggung justru berpotensi menjadi beban ekonomi.

Kecintaan terhadap musik atau passion memang dapat menjadi alasan seseorang bertahan di industri kreatif. Namun, hal tersebut tidak seharusnya dijadikan pembenaran untuk memberikan kompensasi yang tidak sebanding dengan pekerjaan.

Pengalaman dan pembayaran merupakan dua bentuk apresiasi yang berbeda. Musisi dapat memperoleh manfaat pengalaman sekaligus tetap berhak menerima honor yang jelas.

Saweran Bisa Menjadi Tambahan Pemasukan

Sementara itu, budaya saweran memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menunjukkan apresiasi secara langsung kepada musisi. Artinya, dalam pertunjukan tertentu, interaksi tersebut bahkan menjadi bagian dari suasana hiburan.

Namun, masalah bisa muncul kala saweran diposisikan sebagai pengganti honor pokok. Pendapatan musisi akhirnya bergantung pada jumlah pengunjung, suasana kafe, dan kesediaan pelanggan memberikan uang.

Kondisi ini juga dapat mengubah tuntutan pekerjaan. Musisi tidak hanya dituntut memainkan musik dengan baik, tetapi terkadang harus aktif menarik perhatian pengunjung agar mendapatkan saweran.

Bagi band yang mengusung karya orisinal atau memiliki konsep pertunjukan tertentu, tuntutan tersebut dapat menjadi tekanan tambahan. Fokus penampilan berisiko bergeser dari kualitas musikal menuju kemampuan menghibur secara komersial.

Karena itu, saweran lebih tepat diperlakukan sebagai pendapatan tambahan, bukan komponen utama untuk menggantikan kesepakatan pembayaran antara musisi dan pengelola kafe.

Dan status pekerja lepas memberikan keleluasaan bagi musisi untuk memilih tempat tampil dan mengatur jadwal. Mereka dapat menerima tawaran dari beberapa kafe sekaligus selama tidak berbenturan.

Namun, fleksibilitas tersebut juga memiliki konsekuensi. Tidak ada kepastian bahwa jadwal manggung akan tersedia setiap pekan. Ketika tidak ada pertunjukan, musisi tidak memperoleh pemasukan dari pekerjaan tersebut.

Baca juga  Dari Mistis ke Romantis, Begini Cara Industri Fotografi Jogja Ubah Wajah Mitos Laut Selatan

Mereka juga tidak otomatis mendapatkan cuti sakit, tunjangan, atau perlindungan ketenagakerjaan sebagaimana pekerja dengan hubungan kerja formal.

Merujuk informasi resmi BPJS Ketenagakerjaan, pekerja lepas dapat mendaftar sebagai Peserta Bukan Penerima Upah (BPU) secara mandiri.

Skema ini menyediakan akses terhadap program perlindungan sesuai ketentuan kepesertaan, meskipun pembayaran iuran menjadi tanggung jawab pekerja.

Dan bagi musisi dengan penghasilan tidak tetap, iuran tersebut menjadi salah satu komponen yang perlu diperhitungkan dalam mengelola keuangan pribadi.

Jadi, perbaikan kondisi musisi tak selalu harus dimulai dengan perubahan besar dalam operasional kafe.

Pengelola dapat menetapkan honor minimum, menyepakati durasi dan jumlah penampilan, serta menjelaskan fasilitas yang diberikan, termasuk konsumsi dan kebutuhan teknis.

Lalu, jika terdapat pembagian hasil dari acara khusus, mekanismenya perlu disepakati sejak awal. Dengan demikian, musisi tidak hanya bergantung pada janji lisan atau perkiraan pendapatan dari saweran.

Di sisi lain, musisi dapat memperkuat posisi tawar melalui karya orisinal, rekaman, portofolio penampilan, media sosial, dan jaringan komunitas. Identitas musikal yang jelas dapat menjadi nilai tambah saat bernegosiasi dengan pengelola tempat pertunjukan.

Dengan demikian, live music bukan sekadar pelengkap suasana atau cara membuat pelanggan bertahan lebih lama di kafe.

Pertunjukan tersebut melibatkan keterampilan, waktu, tenaga, dan investasi peralatan. Jika musik menjadi bagian dari strategi bisnis kafe, keberlanjutan panggung juga perlu ditopang oleh penghargaan yang layak terhadap musisi.***

Berita Terbaru

Sisi Lain Musisi Live Music Jogja
Gonta-Ganti Band Demi Harga Termurah: Sisi Lain Musisi Live Music di Kafe dan Tempat Nongkrong Jogja
Kenapa Sekarang Pinggiran Jogja Banyak Juragan Kos
Alasan Kenapa Warga Pinggiran Jogja Kini Berlomba Jadi Juragan Kos
6296206028130947953
Sri Sultan Luncurkan KKI Online Payment, Transaksi Belanja Pemda DIY Ditargetkan Lebih Transparan
6296206028130947955
Pemda DIY Bidik Tambahan PAD Rp3,92 Miliar dari Optimalisasi Pajak dan Retribusi
Aliansi Warga Peduli Hak Anak Sleman
Tiga Kesepakatan Perlindungan Anak dalam Program MBG Belum Direalisasikan, Aliansi Warga Peduli Hak Anak Sleman Tagih Pemkab

Pilihan Editor

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (2)

Jadwal KA Bandara YIA Terbaru: Rute, Harga Tiket, dan Tips Menggunakan Kereta Bandara di Yogyakarta

Cara Mengatasi Error Verifikasi Wajah Andal by Taspen

Catat! Ini Solusi Tidak Bisa Autentikasi Taspen setelah Verifikasi Wajah

43607930-08be-4985-9564-f74dba4ffc49

Musim Hujan Sleman Diprediksi Mulai Akhir November, Puncaknya Februari 2027

Artikel Populer

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (2)

Jadwal KA Bandara YIA Terbaru: Rute, Harga Tiket, dan Tips Menggunakan Kereta Bandara di Yogyakarta

Cara Mengatasi Error Verifikasi Wajah Andal by Taspen

Catat! Ini Solusi Tidak Bisa Autentikasi Taspen setelah Verifikasi Wajah

43607930-08be-4985-9564-f74dba4ffc49

Musim Hujan Sleman Diprediksi Mulai Akhir November, Puncaknya Februari 2027