
TUGUJOGJA – Simak 8 amalan bulan Syawal sesuai sunah Rasul yang bisa diamalkan setelah Ramadan, mulai dari puasa Syawal hingga mempererat silaturahmi lengkap dengan dalilnya.
Bulan Syawal menjadi momen penting bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Meski Ramadan telah berlalu, semangat beribadah tidak seharusnya ikut surut. Justru, Syawal menjadi kesempatan untuk menjaga konsistensi dalam beramal dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Sejumlah hadits menyebutkan berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan ini. Amalan-amalan tersebut tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan spiritual seorang muslim.
Berikut ini sejumlah amalan bulan Syawal yang dapat diamalkan sesuai sunah Rasulullah SAW.
Puasa Syawal dan Keutamaannya
Puasa Syawal merupakan salah satu amalan yang paling dianjurkan setelah Ramadan. Ibadah ini dilakukan selama 6 hari di bulan Syawal dan tidak harus dikerjakan secara berturut-turut.
Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa satu tahun.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Keutamaan ini juga ditegaskan dalam riwayat lain:
“Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa Ramadan setara dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari di bulan Syawal menyempurnakannya menjadi satu tahun.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah, tercantum dalam Shahih At-Targhib)
Menikah di Bulan Syawal
Menikah pada bulan Syawal juga termasuk amalan yang dianjurkan. Hal ini berdasarkan riwayat dari Aisyah RA yang menyebutkan:
“Nabi SAW menikahiku pada bulan Syawal dan mulai membina keluarga bersamaku pada bulan Syawal. Maka tiada istri-istri beliau yang lebih baik di sisinya selain diriku” (HR. Ibnu Majah)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW menikahi Ummu Salamah pada bulan Syawal, dan mulai membina keluarga bersamanya pada bulan Syawal.”
Puasa Ayyamul Bidh di Pertengahan Bulan
Puasa Ayyamul Bidh merupakan puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah, termasuk di bulan Syawal.
Rasulullah SAW bersabda:
“Rasulullah SAW biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR. Abu Daud dan An Nasai)
Menunaikan Salat Idul Fitri
Salat Idul Fitri dilaksanakan pada 1 Syawal sebagai bentuk syiar Islam dan ungkapan syukur setelah menjalani Ramadan. Hukum pelaksanaannya adalah sunah muakkad atau sangat dianjurkan.
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan berjalan kaki menuju lokasi salat jika memungkinkan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Termasuk sunah, yaitu engkau berjalan kaki menuju tempat salat Id dan memakan sesuatu sebelum berangkat.” (HR. Tirmidzi)
Memperbanyak Takbir di Hari Raya
Pada hari raya Idul Fitri, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Berikut bacaan takbir yang umum dilantunkan:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Latin: Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar. Allaahu Akbar Wa Lillaahil Hamdu.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan hanya bagi-Nya segala pujian.”
Puasa Senin dan Kamis
Puasa Senin dan Kamis juga menjadi amalan yang dianjurkan untuk menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim)
Mempererat Silaturahmi
Bulan Syawal identik dengan tradisi saling berkunjung dan bermaafan. Momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dengan keluarga, tetangga, dan kerabat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan puasa?” “Tentu saja,” jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar pahalanya. Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bersedekah dan Menjaga Konsistensi Amal
Selain amalan di atas, sedekah juga menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan di bulan Syawal. Amalan ini menjadi bukti bahwa semangat berbagi tidak berhenti setelah Ramadan berakhir.
Konsistensi dalam beribadah, baik melalui sedekah, dzikir, maupun ibadah sunnah lainnya, menjadi kunci agar nilai-nilai Ramadan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.
Bulan Syawal bukan sekadar penutup rangkaian ibadah Ramadan, tetapi juga awal untuk menjaga istiqamah dalam kebaikan. Dengan mengamalkan berbagai sunnah yang dianjurkan, umat Islam diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas ibadah dan meraih pahala yang berlipat ganda.
***