
TUGUJOGJA – Malam 21 Ramadhan 2026 diperkirakan jatuh pada 10 Maret, menjadi waktu utama memperbanyak ibadah untuk mengejar Lailatul Qadar dengan qiyamul lail, tilawah, dan doa.
Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan selalu menjadi momen yang paling dinantikan umat Islam. Pada periode ini, umat dianjurkan memperbanyak ibadah karena diyakini terdapat satu malam istimewa yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar. Tahun 2026, malam ke-21 Ramadhan menjadi salah satu malam ganjil yang berpeluang sebagai Lailatul Qadar, sehingga umat Islam berlomba-lomba meningkatkan amal ibadah.
Hadis tentang Lailatul Qadar
Berdasarkan hadis dari Abu Sa’id al Khudri RA:
“تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ”
Arab Latin: Taharrâu lailatal qadri fî al-witri min al-‘asyri al-âkhirati mir.
Artinya: Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil (witir) dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Hadis ini menjadi pedoman utama bahwa malam 21 termasuk salah satu malam ganjil yang dianjurkan untuk memburu Lailatul Qadar, bersama malam 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan.
Kapan Malam 21 Ramadhan 2026?
Berdasarkan kalender Hijriah 1447, yang dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026, malam 21 Ramadhan diperkirakan jatuh pada Selasa malam, 10 Maret 2026. Dalam sistem penanggalan Islam, pergantian hari dimulai setelah Maghrib, sehingga malam 21 Ramadhan berlangsung dari Maghrib 10 Maret hingga menjelang fajar 11 Maret 2026.
Meskipun potensi Lailatul Qadar tinggi pada malam ini, waktu pastinya tetap dirahasiakan Allah SWT. Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk sungguh-sungguh mencari malam kemuliaan itu melalui ibadah maksimal pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir.
Amalan Rasulullah SAW di Sepuluh Malam Terakhir
Rasulullah SAW dikenal sangat bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. NU Online mencatat beberapa praktik yang dilakukan beliau sebagai teladan:
1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah
Dalam shahih Muslim, Aisyah RA meriwayatkan:
“ماعلمته صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى الصباح”
Artinya: Aku selalu menyaksikan beliau beribadah selama Ramadhan hingga menjelang subuh.
2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah
Hadis riwayat Abu Dzar menjelaskan:
“قام بهم ليلة ثلاث وعشرين وخمس وعشرين ذكر أنه دعا أهله ونساءه ليلة سبع وعشرين خاصة”
Artinya: Bahwasanya Rasulullah SAW beserta keluarganya bangun (untuk beribadah) pada malam 23, 25, 27, khususnya malam 29. Bahkan, dalam satu riwayat Rasulullah pernah membangunkan Fathimah dan Ali di malam hari itu dan berkata: Ayo bangun-bangun, sholat-sholat.
3. Memburu Kenikmatan Ibadah
Beliau mengencangkan ikat pinggang pada sepuluh malam terakhir untuk menunjukkan kesungguhan dalam beribadah, menjauhi tidur, dan menyendiri untuk lebih fokus kepada Allah SWT.
4. Puasa Wishal
Dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW menyambung puasa tanpa berbuka hingga hari berikutnya. Amalan ini khusus bagi beliau dan tidak diwajibkan bagi umat.
5. Membersihkan Diri dan Memakai Wewangian
Rasulullah SAW mandi, merapikan pakaian, dan memakai wewangian agar menyambut sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan kebersihan lahir dan batin.
6. Beriktikaf
Iktikaf dilakukan untuk memaksimalkan konsentrasi ibadah di masjid dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, khususnya pada sepuluh malam terakhir.
Amalan Khusus Malam 21 Ramadhan
Malam 21 Ramadhan sering menjadi gerbang awal memburu Lailatul Qadar. Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:
- I’tikaf di Masjid: Berdiam diri dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
- Qiyamul Lail: Shalat tarawih, tahajud, dan witir secara khusyuk.
- Tilawah Al-Qur’an: Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.
- Doa Lailatul Qadar: Membaca doa yang diajarkan Rasulullah SAW: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku).
- Sedekah: Memberikan sedekah karena pahalanya dilipatgandakan.
- Istighfar dan Doa Khusus Hari ke-21: Memohon ampunan, dijauhkan dari godaan setan, serta memohon surga.
Di Jawa, malam ke-21 juga dikenal dengan tradisi Selikuran, namun fokus utama tetap memaksimalkan ibadah sesuai syariat untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar.
***