
TUGUJOGJA– Malam itu seharusnya menjadi malam biasa bagi RAG (17), seorang remaja asal Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Namun, pertemuan yang awalnya jadi upaya menyelesaikan persoalan seputar sebuah jaket justru berubah menjadi mimpi buruk.
Tubuh remaja itu kini menyimpan jejak-jejak luka. Memar terlihat di sejumlah bagian badan. Bekas luka diduga akibat sundutan rokok masih tampak jelas.
Kasus dugaan penculikan, pengeroyokan, dan penyiksaan terhadap remaja tersebut kini menggemparkan masyarakat Gunungkidul. Keluarga korban akhirnya melaporkan peristiwa itu ke Polres Gunungkidul dan meminta aparat mengusut tuntas seluruh pihak yang diduga terlibat.
Dua orang berinisial P dan Z telah dilaporkan oleh keluarga korban sebagai pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan rangkaian peristiwa tersebut.
Kisah Awal Dugaan Penculikan dan Penyiksaan Remaja di Gunungkidul
Di balik dugaan aksi kekerasan yang menyita perhatian publik itu, terdapat persoalan yang sebenarnya tampak sederhana. Ayah korban, Agus Remkimario, menceritakan bahwa masalah bermula dari anaknya yang meminjam sebuah jaket dari seorang teman.
Setelah meminjam jaket tersebut, korban kemudian meminjamkannya lagi kepada pihak lain. Jaket itu lalu berpindah tangan. Namun, persoalan mulai berkembang ketika pemilik jaket berusaha mencari barang tersebut.
Agus mengaku heran karena pemilik jaket terus mencari anaknya. Padahal menurutnya, pemilik jaket telah mengetahui siapa yang membawa barang tersebut.
“Pemilik jaket mengetahui siapa yang membawa jaket itu, tetapi yang dikejar-kejar justru anak saya,” kata Agus saat memberikan keterangan kepada wartawan, Rabu (17/6/2026) petang.
Keluarga tidak pernah menyangka persoalan sepele terkait pinjam-meminjam jaket itu akan berkembang menjadi kasus yang mungkin melibatkan penculikan dan penyiksaan.
Sebelum peristiwa itu terjadi, seorang pria berinisial H yang merupakan ayah salah satu terlapor datang ke rumah korban. Kedatangan pria tersebut sempat mereka anggap sebagai langkah penyelesaian masalah secara kekeluargaan.
Situasi saat itu masih terlihat normal. Tidak lama berselang, korban kemudian diajak bertemu di sebuah kafe yang berada di wilayah Baleharjo.
Pertemuan itu bertujuan menyelesaikan persoalan jaket. Tanpa curiga, korban memenuhi ajakan tersebut. Korban berangkat dengan harapan persoalan bisa selesai melalui dialog.
Ancaman Tembak di Tengah Pertemuan
Alih-alih mendapatkan ruang untuk berbicara, korban justru mengaku menghadapi intimidasi. Suasana pertemuan berubah tegang. Beberapa orang yang berada di lokasi memberikan tekanan kepada korban.
Menurut pengakuan korban kepada keluarga, seseorang bahkan melontarkan ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri. Korban mengaku sempat diancam akan ditembak.
Ancaman tersebut membuat mental remaja itu runtuh. Dalam kondisi tertekan dan ketakutan, korban tidak berani melawan ataupun melarikan diri.
Ketegangan tidak berhenti di lokasi pertemuan. Korban mengaku sejumlah orang kemudian memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil Toyota Kijang.
Saat itu beberapa orang telah berada di dalam kendaraan tersebut. Korban tidak memiliki kesempatan untuk menolak. Ia hanya bisa mengikuti kemauan orang-orang itu.
Mobil kemudian melaju meninggalkan kawasan kafe. Mereka membawa korban menuju sebuah rumah kosong yang berada di kawasan Ring Road Selatan, Baleharjo. Korban tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Namun, rasa takut terus menghantui.
Sesampainya di rumah kosong tersebut, korban mengaku langsung menjadi sasaran pengeroyokan. Sekitar enam orang bergantian melayangkan pukulan. Tangan-tangan itu menghantam tubuh korban. Korban berusaha bertahan.
Namun, jumlah orang yang lebih banyak membuatnya tidak berdaya. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuhnya. Bagian punggung menjadi salah satu sasaran utama.
Korban menduga para pelaku menggunakan benda tumpul saat memukul bagian tersebut. Akibatnya, luka lebam muncul di berbagai bagian tubuh. Rasa nyeri terus menjalar. Tubuh korban seolah menjadi sasaran pelampiasan amarah.
Penderitaan korban ternyata belum berakhir. Setelah tubuhnya luka akibat pukulan, korban mengaku menerima perlakuan yang jauh lebih menyakitkan.
Korban menemukan bekas luka yang berasal dari sundutan rokok. Namun, aksi tersebut belum membuat para pelaku berhenti.
Saat luka-luka masih terbuka, para pelaku dugaannya menggosokkan garam ke bagian tubuh yang terluka. Namun, tidak ada yang menghentikan tindakan tersebut. Penyiksaan terus berlanjut. Setelah mengoleskan garam, para pelaku menyiramkan minuman keras ke tubuh korban.
“Tindakan itu membuat anak saya menjerit kesakitan. Setelah itu dia juga diancam agar tidak melapor ke polisi maupun menjalani visum,” ungkap Agus.
Ancaman itu membuat korban semakin tertekan. Ia tidak hanya menanggung luka fisik, tetapi juga ketakutan yang mendalam.
Keluarga Menuntut Keadilan
Setelah berhasil pulang, korban ternyata tidak langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ancaman membuat korban memilih bungkam.
Saat keluarga bertanya mengenai luka-luka di tubuhnya, korban mengaku terjatuh. Jawaban itu sempat membuat keluarga percaya. Namun, penjelasan tersebut terasa janggal.
Luka yang muncul tidak sesuai dengan pengakuan korban. Keluarga akhirnya terus meminta penjelasan. Setelah mendapatkan desakan dan dukungan dari orang-orang terdekat, korban akhirnya menceritakan seluruh kejadiannya.
Pengakuan itulah yang membuat keluarga memutuskan membawa persoalan tersebut ke jalur hukum. Tangis dan kemarahan bercampur menjadi satu saat keluarga mengetahui apa yang korban alami. Mereka tidak ingin kasus itu berhenti sebagai cerita dari mulut ke mulut.
Mereka memilih melapor ke Polres Gunungkidul. Keluarga meminta aparat mengungkap seluruh pihak yang terlibat. Mereka juga meminta polisi menelusuri siapa saja yang mengetahui kejadian tersebut tapi membiarkannya terjadi.
Bagi keluarga, persoalan ini tidak lagi sekadar masalah jaket. Kasus ini telah berubah menjadi dugaan tindak kekerasan serius terhadap seorang anak di bawah umur.
Polisi Mulai Bergerak
Polres Gunungkidul membenarkan adanya laporan keluarga korban. Kapolres Gunungkidul AKBP Damus Asa melalui Kasi Humas Polres Gunungkidul AKP Subarsana menyatakan bahwa peristiwa tersebut memang terjadi pada Selasa dini hari.
Namun, laporan resmi baru masuk pada Rabu sore karena korban harus mendapatkan penanganan medis terlebih dahulu.
“Kami membenarkan bahwa peristiwa dugaan penganiayaan terhadap korban RAG memang benar terjadi pada Selasa dini hari kemarin. Mengenai keterlambatan laporan, hal itu dikarenakan pertimbangan kondisi kesehatan korban yang harus segera mendapatkan perawatan medis intensif terlebih dahulu di rumah sakit,” ujar AKP Subarsana.
Setelah menerima laporan resmi, kepolisian langsung menyiapkan langkah-langkah penyelidikan. Petugas akan mengumpulkan alat bukti, memeriksa saksi-saksi, serta mendalami seluruh keterangan yang telah masuk.
“Laporan resmi sudah kami terima sore ini. Selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh Satreskrim Polres Gunungkidul untuk melakukan penyelidikan, mengumpulkan bukti-bukti, serta memeriksa saksi-saksi guna mengungkap seluruh pelaku yang terlibat dalam aksi kekerasan ini,” tegas AKP Subarsana. (ef linangkung)