
TUGUJOGJA- Pemerintah Kota Yogyakarta mulai menggeber langkah antisipasi besar-besaran menjelang rencana penutupan penuh Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan pada 2026.
Situasi ini mendorong Pemkot untuk memperkuat seluruh lini pengelolaan sampah, terutama pada titik awal pengumpulan.
Salah satu langkah strategis yang kini bergerak cepat ialah penguatan peran transporter atau penggerobak dari dua depo besar: Depo Mandalakrida dan Depo Kebun Raya/Gembira Loka.
Pemkot Yogyakarta mengumpulkan seluruh transporter dalam sebuah pertemuan penting di Ruang Bima, Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Jumat (14/11/2025).
Pertemuan ini bukan sekadar koordinasi rutin, tetapi menjadi forum kesiapsiagaan menghadapi dampak besar dari penutupan total TPA Piyungan yang selama ini menjadi tumpuan pembuangan akhir sampah warga Kota Yogya.
Wali Kota Instruksikan Pemilahan Total
Melalui sambungan Zoom, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan arahan tegas.
Ia meminta seluruh transporter dan perangkat wilayah untuk mengubah pola lama pengelolaan sampah menuju budaya pemilahan yang disiplin dan menyeluruh.
“Pemilahan harus menjadi budaya. Yang masuk ke depo hanyalah residu. Untuk organik dan anorganik harus selesai di wilayah,” tegas Hasto.
Ia menekankan bahwa transporterlah yang menjadi garda depan perubahan. Jika transporter melakukan pemilahan sejak titik pengambilan, beban depo dapat berkurang drastis, sehingga krisis pembuangan pascapenutupan TPA bisa teratasi.
Bangun 60 Biopori Jumbo di Titik Padat Sampah Organik
Untuk menekan volume sampah organik yang selama ini mendominasi aliran sampah ke depo, Pemkot Yogyakarta mulai menggenjot pembangunan biopori jumbo sebagai solusi cepat, murah, dan efektif.
Hasto mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan pembangunan sekitar 60 biopori jumbo di wilayah yang sampahnya dibuang ke Depo Mandalakrida dan Depo Kebun Raya/Gembira Loka.
“Biopori jumbo ini akan kami tempatkan dekat dengan transporter agar memudahkan proses pengurangan sampah organik dan meringankan beban kerja mereka,” ujarnya.
Biopori jumbo tersebut akan berfungsi sebagai mulut tanah yang siap menelan sampah organik dalam jumlah besar sebelum diolah secara alami.
Pemkot menilai langkah ini dapat mengurangi tekanan logistik sekaligus mempercepat proses penguraian sampah organik di tingkat wilayah.
Selain biopori jumbo, Pemkot juga terus menggelontorkan program penggunaan galon bekas air mineral sebagai media pemilahan sampah organik.
Warga dan transporter memakai galon tersebut untuk memisahkan sampah organik basah mentah dan sampah organik basah matang.
“Langkah ini terbukti mempercepat proses pemilahan di lapangan dan mengurangi kontaminasi antarjenis sampah,” ujarnya.
Dalam instruksi lain, Hasto menegaskan bahwa sampah anorganik tidak boleh lagi masuk depo. Ia menekankan bahwa peran bank sampah dan jaringan perosok harus dimaksimalkan sebagai jalur penyerapan material yang masih bernilai.
Dengan mekanisme ini, Pemkot memperkirakan volume sampah yang masuk depo dapat turun signifikan. Jadi, depo dapat memfokuskan kapasitasnya untuk residu yang benar-benar tidak bisa didaur ulang.
Sinergi Transporter dan Perangkat Wilayah Jadi Kunci
Wali kota juga menyoroti pentingnya sinergi total antara transporter, mantri pamong praja, lurah, dan perangkat wilayah lain. Ia meminta perangkat wilayah tidak tinggal diam dan harus aktif mendampingi transporter dalam proses pemilahan.
“Jangan sampai transporter bekerja sendiri. Kalau ada masalah, perangkat wilayah harus yang pertama tahu,”katanya.
Ia menilai bahwa tanpa pendampingan intensif dari perangkat wilayah, upaya pemilahan akan berjalan setengah hati dan tidak akan pernah mencapai target.
Hasto berharap melalui kombinasi program, mulai dari pemilahan total, pembangunan biopori jumbo, penguatan bank sampah, hingga pendampingan rutin perangkat wilayah, Kota Yogyakarta dapat menghadapi penutupan TPA Piyungan dengan lebih siap, lebih sigap, dan lebih tangguh.
Dengan kerja sama seluruh elemen, Pemkot yakin dapat menekan krisis sampah, bahkan mengubah menjadi momentum perubahan besar menuju kota yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan. (ef linangkung)