
TUGUJOGJA – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan sepanjang Sabtu (10/5) hingga Minggu dini hari, 11 Mei 2025.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat belasan kali guguran lava pijar dengan jarak luncur terjauh mencapai 1.900 meter ke arah barat daya.
Berdasarkan laporan aktivitas gunung api periode 10 Mei 2025 pukul 00.00–24.00 WIB, teramati 11 kali guguran lava ke arah Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih.
Jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter. Pada periode berikutnya, 11 Mei 2025 pukul 00.00–06.00 WIB, BPPTKG kembali mencatat 2 kali guguran lava dengan jarak maksimum 1.600 meter ke arah Kali Sat/Putih.
“Guguran lava masih mendominasi aktivitas permukaan Merapi, menunjukkan suplai magma ke permukaan masih berlangsung,” jelas tim BPPTKG dalam laporan resminya.
Kegempaan Meningkat, Masyarakat Diminta Waspada
Dari sisi kegempaan, tercatat 121 kali gempa guguran pada Sabtu, 124 kali gempa hybrid/fase banyak, serta 5 kali gempa tektonik jauh. Sementara pada Minggu dini hari, aktivitas kegempaan meliputi 18 kali gempa guguran, 40 kali gempa hybrid/fase banyak, dan 1 gempa low frequency.
Cuaca selama periode pengamatan terpantau mendung dan hujan dengan volume curah hujan 22 mm/hari. Asap kawah teramati berwarna putih dengan tekanan lemah dan tinggi mencapai 50 meter di atas puncak.
Hingga kini, status Merapi masih berada pada Level III (Siaga). BPPTKG merekomendasikan masyarakat untuk tidak beraktivitas di zona potensi bahaya, yaitu:
- Sektor barat daya: Sungai Boyong maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km.
- Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km, Sungai Gendol maksimal 5 km.
- Radius 3 km dari puncak gunung untuk antisipasi lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif.
“Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas guguran dan lahar terutama saat hujan turun di sekitar kawasan Merapi,” tegas BPPTKG.
Jika terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas Merapi, BPPTKG akan segera melakukan evaluasi terhadap tingkat aktivitas gunung.***