
TUGUJOGJA– Asap tipis masih menggantung di sudut rumah sederhana milik Agus Yani di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Aroma benda terbakar sesekali tercium di antara aktivitas warga yang datang silih berganti.
Sejak pertama kali muncul pada Jumat (22/5/2026) malam, api misterius yang berulang kali menyala di berbagai sudut rumah tersebut hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar.
Hingga Sabtu (30/5/2026) dini hari, kobaran api dilaporkan masih muncul tanpa pola yang jelas dan membuat penghuni rumah terus berjaga sepanjang waktu.
Peristiwa yang mengundang perhatian warga itu tidak hanya memunculkan rasa penasaran, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran karena titik api terus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.
Di tengah ketidakpastian itu, keluarga Agus Yani harus menjalani hari-hari yang penuh kewaspadaan. Mereka tidak pernah mengetahui kapan api akan muncul dan benda apa yang akan menjadi sasaran berikutnya.
Awal Api di Rumah Warga Seyegan
Bu Agus, pemilik rumah, masih mengingat jelas awal mula kejadian tersebut. Malam itu, sebagian anggota keluarga telah beristirahat. Suasana rumah berlangsung normal. Namun, salah satu anaknya masih terjaga karena sedang menggosok pakaian.
Di saat itulah peristiwa pertama terjadi. Anaknya mendadak melihat sebuah kain yang berada di tengah rumah mengeluarkan api secara tiba-tiba.
“Anak saya yang pertama melihat. Dia bilang ada kain di tengah rumah yang tiba-tiba keluar api,” ujar Bu Agus saat ditemui, Sabtu (30/5/2026).
Keluarga sempat menganggap kejadian tersebut sebagai kebakaran biasa. Mereka berusaha memadamkan api dan mengira persoalan telah selesai.
Namun, dugaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa jam setelah kejadian pertama, api kembali muncul di lokasi berbeda. Pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 03.00 WIB, kobaran api terlihat merambat pada daun pintu kamar.
Keluarga kembali bergegas memadamkan api agar tidak meluas. Mereka berharap kejadian itu menjadi yang terakhir. Harapan tersebut ternyata tidak menjadi kenyataan.
Saat matahari mulai meninggi pada hari yang sama, api kembali muncul. Kali ini, kobaran api membakar bagian lain rumah. Sejak saat itu, kemunculan api berlangsung berulang-ulang dan berpindah-pindah tanpa pola yang dapat dipahami keluarga maupun warga sekitar.
Api muncul di kain, sofa, kasur, kursi, hingga berbagai perabot rumah tangga lainnya. Setiap kali keluarga merasa situasi mulai aman, beberapa jam kemudian muncul titik api baru di lokasi berbeda.
Bu Agus mengaku sempat berusaha berpikir positif dan menganggap kejadian tersebut sebagai kebakaran biasa yang mungkin terpicu faktor tertentu.
“Awalnya saya berpikir itu kebakaran biasa. Saya masih positive thinking,” katanya.
Namun, frekuensi kejadian yang terus meningkat membuat keyakinan itu perlahan memudar. Api tidak hanya muncul sekali atau dua kali, tetapi terus berulang selama berhari-hari. Keluarga akhirnya tidak lagi bisa menjalani aktivitas secara normal.
Tidur Bergantian dan Hidup dalam Kewaspadaan
Malam hari yang biasanya menjadi waktu beristirahat justru berubah menjadi saat paling menegangkan bagi keluarga Agus Yani. Setiap anggota keluarga harus selalu siaga karena api dapat muncul kapan saja.
Dalam rentang waktu sepekan, mereka hampir tidak pernah menikmati tidur nyenyak. Orang tua memilih tetap terjaga demi mengantisipasi munculnya titik api baru.
Sementara anak-anak menjadi satu-satunya anggota keluarga yang masih bisa beristirahat meski dalam kondisi tidak sepenuhnya tenang.
“Kalau mau tidur paling anak-anak yang tidur. Kalau orang tuanya tidak berani karena dua sampai tiga jam sekali ada yang terbakar,” ujar Bu Agus.
Setiap malam menjadi ujian kesabaran sekaligus ketahanan fisik bagi keluarga tersebut. Mereka harus memeriksa seluruh sudut rumah secara berkala, memastikan tidak ada tanda-tanda munculnya api baru. Kondisi itu berlangsung berulang selama beberapa hari tanpa kepastian kapan akan berakhir.
Data keluarga menunjukkan angka yang mencengangkan. Hingga Sabtu (30/5/2026) dini hari, jumlah kemunculan api telah mencapai 57 kali.
Angka tersebut menggambarkan betapa intens peristiwa itu terjadi dalam kurun waktu yang relatif singkat. Bahkan pada dini hari Sabtu sekitar pukul 03.00 WIB, api kembali muncul dan menjadi kejadian terbaru yang tercatat.
“Terakhir tadi pagi, sekitar jam tiga dini hari masih ada kejadian lagi,” ungkap Bu Agus.
Setiap kemunculan api selalu memicu kepanikan baru. Meski sebagian besar titik api berhasil padam dengan cepat, keluarga tetap khawatir karena belum mengetahiui penyebabnya. Situasi itulah yang membuat rumah tersebut terus menjadi pusat perhatian warga sekitar.
Berbagai Upaya untuk Mengungkap Penyebab
Berbagai langkah untuk mencari sumber penyebab kemunculan api yang berulang itu sudah berjalan. Salah satu upaya keluarga ialah menguras dan membersihkan septic tank.
Langkah tersebut dilakukan setelah muncul dugaan adanya gas tertentu yang mungkin memicu kebakaran. Namun hingga kini, dugaan tersebut belum mampu menjelaskan seluruh rangkaian kejadian yang terjadi.
Api tetap muncul di berbagai lokasi dengan karakteristik yang sulit diprediksi. Di mana Tidak ada pola waktu yang pasti dan tidak ada pula titik kemunculan yang tetap. Kondisi itu membuat proses identifikasi penyebab menjadi semakin rumit.
Warga, relawan, dan keluarga terus melakukan pemantauan sambil menunggu hasil pengamatan lebih lanjut.
Ketua Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) Kabupaten Sleman, Hermas Risriyanto, mengatakan pihaknya telah mendampingi penanganan peristiwa tersebut sejak hari pertama kemunculan api.
Menurut Hermas, jumlah titik api yang muncul telah mencapai puluhan kali dan tersebar di berbagai lokasi rumah.
“Jumlah titik api lebih dari 40-an. Titiknya tidak beraturan dan waktunya juga sulit diprediksi,” kata Hermas.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar benda yang terbakar merupakan material rumah tangga yang mudah terbakar. Api paling sering muncul pada benda-benda tipis seperti kain, plastik, busa, hingga pembungkus kabel.
“Yang paling sering terbakar itu barang-barang tipis dan mudah terbakar, seperti kain, plastik, busa, dan bungkus kabel,” ujarnya.
Karena kemunculan api tidak dapat diperkirakan, relawan pemadam kebakaran bersama warga setempat terus melakukan penjagaan secara bergantian selama 24 jam.
Mereka berusaha memastikan setiap titik api dapat segera padam sebelum membesar dan membahayakan penghuni rumah maupun bangunan di sekitarnya.
“Kami sudah dampingi sejak hari pertama kejadian. Saya tidak selalu di lokasi karena harus siaga di pos, tetapi anggota Redkar selalu ada yang standby bersama warga,” kata Hermas.
Hingga Sabtu (30/5/2026), misteri kemunculan api berulang di rumah Agus Yani masih belum menemukan jawaban pasti. Di tengah berbagai dugaan yang berkembang, keluarga memilih fokus menjaga keselamatan dan mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru. (ef linangkung)
https://frankspizzapalace.com/menu