
TUGUJOGJA – Sebuah akun Instagram yang dikaitkan dengan SD 2 Sabdodadi Bantul menjadi sorotan publik setelah mengunggah komentar terkait dugaan kasus bullying di SMA N 2 Bantul.
Unggahan tersebut memicu perdebatan dan kritik dari warganet karena dinilai meremehkan korban perundungan.
Akun Instagram @sabdo2project menjadi perbincangan setelah mengunggah komentar yang menyebut istilah “korban bullying” tidak tepat. Dalam unggahan yang beredar di media sosial, akun tersebut menuliskan:
“Korban kok bullying. Korban ki korban kecelakaan, korban bencana alam, korban begal, korban janji, korban kambing, sapi dll. Wong aleman kok ditanggepi. Kui pendapatku iho, rasah do emosi.”
Pernyataan itu muncul saat publik tengah menyoroti dugaan kasus perundungan yang dialami seorang alumni SMA N 2 Bantul. Unggahan tersebut kemudian memicu reaksi keras dari sejumlah pengguna media sosial.
Seorang pengguna Instagram dengan akun @dimasrf mempertanyakan identitas pengelola akun tersebut dan kaitannya dengan lembaga pendidikan.
“Ini akun yang mengelola guru? Guru SD 2 Sabdodadi? Statement anda seperti ini?” tulisnya.
Komentar tersebut dibalas oleh akun yang sama dengan pernyataan yang kembali menuai kontroversi.
“Lha ngopo?? Raoleh po?? Aku guru arep nerangke tapi nggon koyo ngene ki udu tempat dinggo nerangke, isine wong emosian kabeh, karo wong sik ra gelem salah, buktine koe komen,” tulis akun tersebut.
Tangkapan layar percakapan itu kemudian beredar luas dan menjadi bahan diskusi di berbagai platform media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan sensitivitas seorang pendidik terhadap persoalan bullying yang selama ini menjadi perhatian serius di dunia pendidikan.
Banyak pengguna media sosial menilai istilah “aleman” atau terlalu manja yang ditujukan kepada korban perundungan merupakan pernyataan yang tidak tepat, terlebih jika disampaikan oleh seseorang yang mengaku berprofesi sebagai guru.
Salah seorang pengguna media sosial menulis bahwa bullying dapat menimbulkan dampak psikologis serius bagi korban, mulai dari kehilangan rasa percaya diri hingga trauma berkepanjangan.
Perdebatan semakin meluas setelah sejumlah warganet membagikan pengalaman pribadi mereka terkait kasus perundungan di lingkungan sekolah.
Salah satunya disampaikan oleh akun Fitriana Lilis Setiyowati yang mengaku anaknya pernah mengalami bullying saat bersekolah.
Menurut pengakuannya, anak tersebut tidak hanya menerima perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya, tetapi juga dari siswa yang lebih senior.
Ia menyebut anaknya pernah dikurung di gudang sekolah setelah meluapkan emosi akibat tidak kuat menghadapi olok-olok yang diterimanya.
Cerita tersebut memicu diskusi panjang di kolom komentar. Sejumlah pengguna media sosial mengaku pernah mengalami atau menyaksikan kasus serupa yang berdampak pada kondisi psikologis korban.
Hingga kini, identitas pengelola akun @sabdo2project maupun keterkaitannya dengan SD 2 Sabdodadi Bantul masih menjadi perbincangan di kalangan warganet.
Banyak pihak menantikan klarifikasi resmi terkait akun tersebut maupun pernyataan yang telah memicu polemik.
Kasus ini kembali mengingatkan bahwa perundungan bukan sekadar persoalan candaan di lingkungan sekolah.
Berbagai penelitian menunjukkan bullying dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental korban, termasuk trauma, depresi, kecemasan, hingga penurunan kepercayaan diri.
Di era media sosial, pernyataan yang disampaikan oleh pihak yang dianggap memiliki peran sebagai pendidik kerap mendapat perhatian lebih besar dari masyarakat.
Karena itu, publik berharap dunia pendidikan dapat menjadi garda terdepan dalam membangun empati, mencegah perundungan, serta memberikan perlindungan kepada korban.
Sampai berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SD 2 Sabdodadi Bantul terkait polemik yang berkembang di media sosial tersebut.