
TUGU JOGJA – Gunungkidul kembali membuktikan daya tariknya sebagai destinasi unggulan saat momen libur Lebaran tiba. Meski perayaan Hari Raya tahun ini berlangsung berbeda selama dua hari, arus wisatawan justru melonjak tajam dan menghadirkan geliat ekonomi yang terasa hingga ke pelosok destinasi.
Sejak pagi, kawasan pantai hingga objek wisata alam di Gunungkidul mulai dipadati kendaraan. Deretan mobil pribadi dan sepeda motor mengular, membawa keluarga yang ingin mengisi libur Lebaran dengan suasana alam yang menenangkan.
Lonjakan ini tidak terjadi tanpa sebab. Perbedaan waktu Lebaran justru menciptakan gelombang kunjungan yang lebih panjang. Wisatawan datang bergantian, sehingga kepadatan tidak hanya terjadi dalam satu hari, melainkan terus berlanjut.
Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Ekonomi Kreatif Gunungkidul, Eko Nur Cahyo, menyampaikan bahwa pihaknya mencatat peningkatan signifikan dalam dua hari terakhir. Pada Jumat, 20 Maret 2026, jumlah pengunjung mencapai 11.926 orang dengan total pendapatan sebesar Rp147.447.600.
“Angka tersebut menjadi pembuka yang cukup menjanjikan, namun belum menggambarkan puncak arus wisata,” tuturnya.
Keesokan harinya, Sabtu, 21 Maret 2026, jumlah itu melonjak lebih dari dua kali lipat. Sebanyak 25.029 wisatawan memadati berbagai destinasi, menghasilkan pendapatan hingga Rp304.213.500. Lonjakan ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi untuk berwisata setelah merayakan Lebaran.
Suasana di lapangan memperlihatkan sisi humanis yang kuat. Anak-anak berlarian di pasir pantai, tertawa lepas sambil mengejar ombak. Orang tua duduk santai menikmati angin laut, sementara pedagang lokal sibuk melayani pembeli yang tak henti berdatangan.
Bagi para pelaku usaha kecil, momen ini menjadi berkah yang telah lama dinantikan. Setelah sempat mengalami pasang surut kunjungan, kini mereka kembali merasakan denyut ekonomi yang hidup. Warung makan, penyewaan tikar, hingga jasa parkir ikut menikmati dampak positif dari lonjakan wisatawan.
“Ini bukan sekadar angka, ini tentang harapan,” ungkap salah satu pedagang, Dina dengan wajah sumringah.
Ia mengaku pendapatannya meningkat drastis dibanding hari biasa. Terlebih selama sebulan terakhir jumlah wisatawan anjlok karena masih bulan puasa.
Pemerintah daerah pun terus berupaya menjaga kenyamanan dan keamanan wisatawan. Petugas disiagakan di berbagai titik untuk mengatur lalu lintas dan memastikan kelancaran kunjungan. Upaya ini dilakukan agar pengalaman wisata tetap menyenangkan meski jumlah pengunjung meningkat tajam.
Fenomena dua hari perayaan Lebaran tahun ini justru memberikan efek tak terduga. Alih-alih membagi kunjungan, kondisi ini malah memperpanjang masa libur wisata dan memperbesar potensi pendapatan daerah.
Gunungkidul kembali menunjukkan bahwa pesona alamnya tidak pernah kehilangan daya tarik. Dari debur ombak hingga senyum para pelaku usaha lokal, semua menyatu dalam satu cerita: tentang kebahagiaan, harapan, dan kebangkitan pariwisata di momen Lebaran.
Dengan tren yang terus meningkat, pemerintah optimistis kunjungan akan terus bertambah dalam beberapa hari ke depan. Dan bagi ribuan orang yang datang, Gunungkidul bukan hanya tempat wisata—melainkan ruang untuk merayakan kebersamaan setelah hari kemenangan.(ef linangkung)