Isu Krisis Plastik Disorot di Jogja Food Expo 2026, Industri Makanan Cari Solusi

Bagikan :
Jogja Food & Beverage Expo 2026 yang resmi dibuka pada Rabu (8/4/2026) di Jogja Expo Center, isu krisis bahan baku plastik menjadi perhatian utama. (Tugu Jogja/Feva)

Tugu Jogja – Isu krisis bahan baku plastik menjadi perhatian utama dalam gelaran Jogja Food & Beverage Expo 2026 yang resmi dibuka pada Rabu (8/4/2026) di Jogja Expo Center. Di tengah pameran yang menampilkan inovasi industri makanan dan minuman, pelaku usaha justru dihadapkan pada tantangan global yang kian nyata.

Krisis ini mencuat seiring terganggunya rantai pasok bahan baku plastik akibat konflik internasional, yang berdampak langsung pada industri pengemasan makanan.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia, Adhi S. Lukman, menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi salah satu isu krusial yang dibahas dalam pameran.

“Masa dampak perang Iran-Israel sangat luar biasa dan kali ini yang sangat terpukul salah satunya adalah komoditi kemasan plastik di mana ini menjadi tantangan yang sangat besar sekali,” ujarnya.

Expo Industri Makanan Digelar di Jogja Expo Center

Pameran yang berlangsung selama empat hari ini diikuti oleh sekitar 120 peserta, termasuk puluhan pelaku UMKM. Berbagai sektor ditampilkan, mulai dari bahan baku makanan, produk olahan, hingga teknologi pengemasan dan printing.

Baca juga  Jadwal SIM Keliling Bantul September 2025, Cek Lokasinya

Namun, di balik ragam inovasi yang dipamerkan, isu kemasan plastik justru menjadi topik hangat yang banyak diperbincangkan oleh pelaku industri dan pemangku kepentingan.

CEO Krista Exhibition, Daud Salim, menekankan pentingnya pameran ini sebagai wadah pengembangan industri.

Nah pameran ini sangat penting, kenapa? Karena disini menampilkan mulai dari bahan makanan minuman, mulai juga produk-produk makanan olahan dan juga teknologi pengolahan makanan dan teknologi pengemasan serta printing dihadirkan di kota Yogyakarta,” ungkapnya.

Isu Plastik Mengemuka di Jadi Tantangan Pelaku Usaha Makanan

Ketergantungan industri terhadap bahan baku plastik impor, khususnya dari Timur Tengah, membuat sektor ini sangat rentan terhadap gejolak global. Gangguan logistik menyebabkan pasokan tersendat dan harga meningkat.

Adhi mengungkapkan bahwa pemerintah bersama pelaku industri saat ini tengah mencari solusi alternatif.

“Karena bahan bakunya sebagian dari timur tengah yang kesulitan logistik. Nah inilah yang harus kita lakukan. Sekarang pemerintah sedang maraton untuk mencari jalan keluar itu,” jelasnya.

Upaya diversifikasi sumber bahan baku ke negara lain seperti Amerika Serikat pun mulai dilakukan, meski membutuhkan waktu.

Baca juga  Malioboro Tidak Ditutup Total saat Nataru 2025–2026, Penerapan Full Pedestrian Bersifat Situasional

Industri Dipaksa Beradaptasi Cari Alternatif

Dalam menghadapi krisis ini, sejumlah pelaku industri mulai beralih ke kemasan non-plastik sebagai solusi jangka menengah.

“Beberapa industri sudah mulai mencoba dari kemasan plastik menjadi kemasan kaca ya, botol dan lain sebagainya. Tapi ini membutuhkan waktu,” aebut Adhi.

Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga pada distribusi dan preferensi konsumen.

UMKM Hadapi Risiko Paling Besar

Di antara seluruh pelaku industri, UMKM menjadi pihak yang paling rentan terdampak krisis plastik. Keterbatasan stok dan modal membuat mereka sulit beradaptasi secara cepat.

Adhi menegaskan, “UMKM ini ketahanan industri-nya sangat rentan karena mereka punya stok sangat kecil sekali ya.”

Kondisi ini menjadikan dukungan dari pemerintah dan kolaborasi lintas sektor sebagai hal yang sangat krusial.

Kolaborasi Jadi Kunci Hadapi Krisis

Melalui Jogja Food Expo 2026, berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat kolaborasi untuk mencari solusi atas krisis yang terjadi. Pameran ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga ruang diskusi dan inovasi.

Baca juga  Cara Membuat Action Figure Mini dengan Gemini AI, Lengkap dengan Contoh Prompt Populer

Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad, mewakili Gubernur DIY Sultan HB X menilai momentum ini penting bagi pelaku usaha untuk berkembang.

“Sebetulnya ini merupakan peluang bagi pelaku-pelaku MKM, pelaku-pelaku usaha pun yang juga berkas di Yogyakarta untuk bisa mengembangkan diri naik kelas,” katanya. (Feva)

Berita Terbaru

Residivis Menodai Bocah
Terungkap! Bermula dari Main Nilah-nikahan, Residivis Menodai Bocah Perempuan 16 Tahun
iqbalstock-cash-7406000_1280
Gaji ke-13 ASN 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal, Besaran, dan Aturan Lengkapnya
adrien-Pvck4ScQH9E-unsplash
Cara Cek Bansos Kemensos 2026 Tahap 2 Lewat NIK KTP, Ini Panduan Lengkap dan Jenis Bantuan yang Cair
aprhille-salao-zhZn4X8tTrM-unsplash
Rekrutmen CPNS Bea Cukai untuk Lulusan SMA Segera Dibuka, Berikut Info Resmi dari Menkeu Purbaya
Klitih Jalan Kemasan
Teror Klitih Kembali Menghantui Bantul: Tiga Pemuda Jadi Korban Aksi Brutal di Jalan Kemasan

TERPOPULER

anoushka-puri-f1YfrZ1o2r8-unsplash
Bocoran Soal TKA SMP 2026 Matematika Beserta Jawaban dan Pembahasan
giorgio-trovato-8krX0HkXw8c-unsplash
Kisi-Kisi dan Contoh Soal TKA Bahasa Indonesia SMP 2026: Materi, Simulasi, dan Strategi Belajar Efektif
kode-seksi-pengawasan
Kode Seksi Pengawasan NPWP Diisi Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya
devin-pickell-1eRS74C-alQ-unsplash (2)
Cara Cek NISN Online 2026 di Laman Kemdikbud, Ini Link Resmi, Fungsi, dan Kaitannya dengan PIP
photo_6246885488446868853_y
Isu Krisis Plastik Disorot di Jogja Food Expo 2026, Industri Makanan Cari Solusi