UAJY Luncurkan Living Lab Sungai Yogyakarta, Libatkan Masyarakat dalam Pengelolaan Sungai Berkelanjutan

Bagikan :
UAJY meluncurkan Living Lab Sungai Yogyakarta untuk mendorong pengelolaan sungai berkelanjutan melalui kolaborasi akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat.

TUGU JOGJA – Tim dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) resmi meluncurkan program Bestari Saintek bertajuk “Living Lab Sungai Yogyakarta: Kolaborasi Sosioekologis untuk Pengelolaan Sungai Berkelanjutan” di Taman Gajahwong Muja Muju, Yogyakarta, Rabu (24/06/2026). Program ini menjadi langkah nyata dalam mendorong pengelolaan sungai yang lebih berkelanjutan melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Peluncuran program tersebut merupakan tindak lanjut dari keberhasilan tim dosen UAJY memperoleh pendanaan program hibah Bestari Saintek 2026 yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui program ini, tim peneliti berupaya menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan lingkungan, khususnya pencemaran sungai.

Ketua tim program, Monika Ruwaimana, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Teknobiologi (FTB) UAJY, memimpin kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan dosen dari Fakultas Teknobiologi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Tim dari FTB terdiri atas Prof. Ir. Ign. Pramana Yuda, M.Si., Ph.D., Dra. L. Indah Murwani Yulianti, M.Si., serta Vincencius Tri Setyo Budi, S.Si.. Sementara dari FISIP terdapat Prof. G. Arum Yudarwati, S.I.P., M.Mktg.Comm., Ph.D., Dr. MC. Ninik Sri Rejeki, M.Si., Pupung Arifin, M.Si., dan Alexander Beny Pramudyanto, M.Si..

Pengelolaan Sampah Organik Jadi Langkah Awal Program

Sebagai tahap awal implementasi, program Living Lab Sungai Yogyakarta diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran dan eksperimen berbasis masyarakat. Fokus kegiatan diarahkan pada pengelolaan sampah organik dengan memanfaatkan sistem Losida Vermicompost dan Biowash bersama para penggerak Bank Sampah Muja Muju.

Baca juga  Rekomendasi Ide Lomba 17 Agustus untuk Ibu-ibu: Pilihan Seru Buat Acara Kampung

Pendekatan yang digunakan dalam program ini mengusung konsep Living Lab, yaitu metode yang menjadikan lingkungan kehidupan sehari-hari sebagai ruang belajar sekaligus tempat mengembangkan dan menguji berbagai solusi atas persoalan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, para akademisi tidak hanya melakukan penelitian di lingkungan kampus atau laboratorium, tetapi juga bekerja langsung bersama masyarakat dan mitra terkait untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata.

Kolaborasi antara FTB dan FISIP UAJY juga diwujudkan melalui dua pendekatan riset yang berjalan beriringan, yakni penelitian sains berbasis biologi-ekologi dan penelitian sosial yang berfokus pada masyarakat.

“Riset kami tidak hanya berbasis di laboratorium saja, tetapi masyarakat juga terlibat sebagai ilmuwan yang mendukung program kami, sehingga peran dari dosen FISIP yang menjembatani komunikasi sains kami dengan masyarakat dan stakeholder pemerintah,” ujar Monika.

Menghubungkan Hasil Riset dengan Kebutuhan Masyarakat

Selain menghasilkan temuan ilmiah, program ini juga dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Karena itu, aspek komunikasi dan pemberdayaan menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.

Dr. MC. Ninik Sri Rejeki, M.Si. menjelaskan bahwa hasil penelitian yang diperoleh harus mampu diterjemahkan menjadi pengetahuan yang mudah dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Baca juga  Evolusi Trotoar Malioboro: Dari Jalanan Ramai Becak hingga Ramah Pejalan Kaki

“Tugas kami sebagai orang komunikasi adalah menyampaikan segala temuan yang didapatkan dalam riset dan memberdayakan masyarakat agar mampu merespon lingkungan sekaligus memanfaatkannya demi kesejahteraan bersama,” ungkap Ninik.

Menurut tim pelaksana, keterlibatan masyarakat sejak awal menjadi faktor penting agar solusi yang dikembangkan tidak hanya berhenti pada kajian akademik, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekitar sungai.

Didukung Pemerintah, Industri, dan Komunitas Lingkungan

Pelaksanaan Living Lab Sungai Yogyakarta melibatkan sejumlah mitra strategis yang mendukung upaya pelestarian lingkungan secara kolaboratif. Mitra tersebut meliputi Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, PT Aqua Danone Klaten, PT Sarihusada (SGM), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Shind Yogyakarta, serta Komunitas Bank Sampah Masyarakat Muja-Muju.

Kolaborasi berbagai pihak tersebut mencerminkan pendekatan Quadruple Helix yang mempertemukan unsur perguruan tinggi, pemerintah, sektor industri, dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan lingkungan secara bersama-sama.

Peluncuran program turut dihadiri perwakilan Pemerintah Kota Yogyakarta yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif UAJY dalam menghadirkan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Atas nama masyarakat dan pemerintah Yogyakarta, kami mengucapkan terima kasih kepada UAJY sudah menjadi bagian yang menyalurkan dan menerapkan ide-ide untuk dibumikan,” ujar Wirawan Hario Yudo, S.H., M.M, Staff Ahli Bidang Pemerintahan Kota Yogyakarta.

Baca juga  UAJY Perbarui Kerja Sama dengan Kemenkum DIY, Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual

Penandatanganan Kerja Sama dan Penyerahan Fasilitas Vermicompost

Sebagai simbol komitmen bersama dalam menjalankan program, kegiatan peluncuran dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama antara pihak perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan perwakilan masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, UAJY juga menyerahkan fasilitas Vermicompost secara simbolis kepada perwakilan pemerintah yang kemudian diteruskan kepada warga. Penyerahan fasilitas tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus penguatan program yang akan dijalankan di kawasan Muja Muju.

Setelah prosesi peluncuran, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai Program Living Lab Sungai Yogyakarta dan sesi berbagi pengalaman bersama masyarakat yang terlibat langsung dalam pelaksanaannya.

Perwakilan masyarakat Muja Muju, Yuni, mengaku telah merasakan manfaat dari pengolahan sampah organik menggunakan metode yang diperkenalkan dalam program tersebut.

“Sungguh kami berterima kasih khususnya kepada UAJY karena saya secara pribadi merasakan pengolahan sampah organik menggunakan cacing itu sangat luar biasa bermanfaat dan kami mengharapkan adanya edukasi secara berkelanjutan,” ujar Yuni.

Melalui program Living Lab Sungai Yogyakarta, tim dosen UAJY berharap dapat mendorong lahirnya berbagai solusi ekologis yang inovatif dan relevan bagi masyarakat. Pendampingan kepada warga di kawasan bantaran sungai juga akan terus dilakukan untuk mendukung terciptanya tata kelola lingkungan yang harmonis, inklusif, dan berkelanjutan.

situs toto

Berita Terbaru

IMG_20260628_205311_005
SPMB SMP Kota Yogyakarta 2026 Masuki Tahap Penentuan, JCW Minta Jalur Afirmasi KSJPS Diawasi Ketat
kecelakaan gunungkidul
Tabrakan Beruntun Tiga Motor di Simpang Tegalsari Gunungkidul, Lansia Alami Patah Tulang
6199244611688010215
Kebakaran Hanguskan Bengkel Jok Motor dan Rumah di Wates, Kerugian Capai Rp330 Juta
Api Misterius
Teror Api Misterius di Kasuran Belum Terungkap, Keluarga Agusyani Kembali Tempati Rumah di Tengah Penyelidikan
Lukisan Bunga Abundance Anton Afganial
Lukisan Bunga Abundance Anton Afganial Menjelma Busana Mewah, Kolaborasi PURANA dan PURAGRAPH Hadirkan Livable Art dari Yogyakarta

TERPOPULER

solo-jogja
Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun
falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)
Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian
ashwini-chaudhary-monty-w0OYkevw9N4-unsplash
Harga Minyak Goreng Nasional Naik Tipis per 29 April 2026, Ini Rincian Terbarunya
kecelakaan gunungkidul
Tabrakan Beruntun Tiga Motor di Simpang Tegalsari Gunungkidul, Lansia Alami Patah Tulang
dmitriy-frantsev-EqSKtEA50uk-unsplash
10 Rekomendasi Toko Sepatu di Jogja yang Menjual Produk Original dan Berkualitas