
TUGUJOGJA– Sebuah prestasi membanggakan lahir dari sudut kecil Gunungkidul. Perpustakaan Melati Kalurahan Patuk, Kapanewon Patuk, berhasil menembus panggung nasional dengan dipercaya mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam Lomba Perpustakaan Umum Terbaik Tingkat Nasional 2025 yang digelar Perpustakaan Nasional RI.
Perpustakaan ini tidak hanya berdiri sebagai rumah bagi ribuan buku. Ia menjelma menjadi ruang hidup masyarakat, tempat literasi bertemu kreativitas, seni berpadu olahraga, dan wisata bersanding dengan pengetahuan.
Inovasi Perpustakaan Melati Patuk
Perpustakaan Melati menghadirkan wajah baru dalam dunia literasi. Koleksi buku tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan pintu masuk bagi aktivitas masyarakat.
Warga Patuk menenun kebersamaan melalui kegiatan membatik, melestarikan budaya lewat karawitan, menjaga kesehatan lewat voli, hingga menyediakan permainan ramah anak yang menumbuhkan keceriaan.
Tak berhenti di situ, Pemerintah Kalurahan Patuk berani melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan layanan literasi ke sektor pariwisata. Dua destinasi populer Gunungkidul, HeHa Sky View dan PictNic, kini memiliki pojok baca yang langsung dikelola oleh Perpustakaan Melati.
Tokoh literasi nasional sekaligus dewan juri, Maman Suherman, hadir langsung ke Gunungkidul untuk memverifikasi data dan dokumen lomba. Ia menegaskan ada delapan komponen dengan 26 indikator yang menjadi tolok ukur penilaian, mulai dari koleksi, layanan, hingga akses inklusi bagi penyandang disabilitas.
“Yang paling penting adalah kolaborasi, inovasi, dan dampak nyata bagi masyarakat. Inovasi dan dampak masing-masing bernilai 200 poin dari total seribu poin. Dan di Patuk, kami melihat itu berjalan dengan baik,” tegasnya, Selasa (23/9/2025).
Ia menyatakan perpustakaan hari ini tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai ruang baca. Lebih dari itu, ada pemberdayaan, interaksi warga, kesenian, permainan, sampai produk UMKM.
“Itu semua bagian dari literasi,” imbuhnya
Kegiatan Perpustakaan Melati
Lurah Patuk, Catur Bowo, berdiri di barisan depan mendukung kiprah Perpustakaan Melati. Ia menegaskan, keikutsertaan dalam lomba bukan semata mengejar piala, tetapi demi meningkatkan kualitas layanan literasi.
“Tujuannya supaya warga semakin gemar membaca dan melihat perpustakaan bukan hanya tempat buku. Ada UMKM, olahraga, dan berbagai kegiatan lain. Antusias masyarakat luar biasa, setiap acara bisa dihadiri sampai 90 persen warga,” ungkapnya.
Catur menceritakan, keberadaan perpustakaan telah menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan warga. Anak-anak kini lebih memilih berkumpul di kelas belajar bersama daripada larut dalam layar gawai.
“Sabtu dan Minggu sore kami adakan kelas belajar anak. Ada juga pelatihan voli, pesertanya antusias sekali, sampai puluhan anak ikut rutin,” tambahnya.
Perjalanan Perpustakaan Melati belum berakhir. Tahap selanjutnya akan berlangsung di Jakarta, tempat dewan juri menilai langsung pemaparan final sebelum pengumuman pada 28 Oktober 2025.
“Sebelum 28 Oktober masih ada satu kali pemaparan lagi di Perpusnas. Kami siap melangkah dengan optimisme penuh,” tutupnya. (ef linangkung)
https://frankspizzapalace.com/menu