
TUGUJOGJA – Awan mendung menggantung di langit Kota Gudeg. Suara petir sesekali menyambar, mengingatkan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam.
Di tengah pergantian musim yang tak bisa ditawar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta mengibarkan peringatan keras: cuaca ekstrem siap menguji kesiapsiagaan warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menegaskan bahwa masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan menjelang pancaroba. Ia mengungkapkan, periode peralihan dari kemarau ke musim hujan akan berlangsung September hingga Desember 2025.
“Menurut prediksi BMKG, fase peralihan ini bisa memunculkan potensi cuaca ekstrem. Hujan deras, angin kencang, bahkan badai bisa datang sewaktu-waktu,” ujarnya.
Ancaman Bencana Mengintai di Balik Hujan Deras
Nur Hidayat menuturkan, cuaca ekstrem tidak berhenti pada derasnya hujan. Bencana susulan bisa datang tanpa permisi. Pohon tumbang, banjir, hingga atap rumah roboh menjadi ancaman nyata.
Ia bahkan mengingatkan, gangguan kesehatan seperti diare, demam berdarah, dan penyakit kulit kerap mengiringi musim peralihan.
“Kami mengimbau warga agar selalu siaga. Keselamatan itu harus dimulai dari diri sendiri. Baru kemudian kita bisa membantu orang lain,” tegasnya.
BPBD Kota Yogyakarta menekankan pentingnya mitigasi bencana di tingkat kampung. Warga diminta aktif membersihkan saluran air, mengelola sampah dengan bijak, memangkas ranting pohon berisiko, serta memperbaiki atap rumah yang rapuh.
“Dari total 169 kampung di Kota Yogyakarta, semuanya sudah memiliki Kampung Tangguh Bencana (KTB). Ini bukti nyata masyarakat diajak mandiri menghadapi bencana,” lanjut Nur Hidayat.
BPBD sendiri menyiagakan personel dan peralatan lengkap agar penanganan cepat bisa dilakukan ketika bencana datang. Namun, Nur menegaskan, keterlibatan masyarakat tetap menjadi benteng pertama untuk mengurangi risiko kerugian.
Alarm Siaga di Bantaran Sungai
Sementara itu, Ibnu Hajar, Ketua KTB Kampung Serangan, Kelurahan Notoprajan, menyampaikan kondisi berbeda di kawasan bantaran sungai. Ia mengatakan, warga di sekitar Sungai Winongo hidup berdampingan dengan risiko banjir dan longsoran talud.
“Kami sudah punya dua Early Warning System (EWS). Jika hujan deras turun disertai angin kencang, dan water level mencapai 250 sentimeter, warga langsung kami evakuasi,” jelasnya.
Menurut Ibnu, alarm EWS otomatis berbunyi begitu ketinggian air berada di angka 220 sentimeter. Peringatan dini ini memberi waktu emas bagi warga untuk bergerak sebelum air benar-benar meluap.
“Sungai Winongo lebar, tapi kami tidak pernah lengah. Evakuasi harus lebih cepat dari datangnya bahaya,” tandasnya.
BPBD Kota Yogyakarta juga menyiapkan call center 24 jam untuk situasi darurat bencana. Warga bisa langsung menghubungi 08112828911 atau 0274-372176.
“Setiap laporan masyarakat akan kami tindak cepat. Jangan pernah ragu untuk melapor,” pesan Nur Hidayat.