
TUGUJOGJA – Kekeringan di Gunungkidul memaksa warga Padukuhan Kemesu membeli air bersih secara rutin, bahkan menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan selama musim kemarau.
Musim kemarau kembali membawa dampak berat bagi warga Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Hingga saat ini, masyarakat di wilayah tersebut masih bergantung pada pasokan air bersih yang diangkut menggunakan truk tangki karena belum terjangkau jaringan air perpipaan. Kondisi itu membuat sebagian warga harus menyisihkan penghasilan rutin, bahkan menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan air.
Pemandangan antrean warga di tempat penampungan air umum kembali terlihat setiap kemarau tiba. Ember, jeriken, hingga berbagai wadah penampung berjajar menunggu giliran diisi. Suasana berlangsung tertib, namun setiap tetes air dimanfaatkan dengan penuh kehati-hatian karena pasokan berikutnya belum tentu datang dalam waktu dekat.
Air yang berhasil dibawa pulang dipakai untuk kebutuhan pokok sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan ternak. Penggunaannya diatur sehemat mungkin agar persediaan cukup sampai distribusi air berikutnya tiba.
Belum Terjangkau Jaringan Air Perpipaan
Kesulitan memperoleh air bersih di Padukuhan Kemesu bukan persoalan baru. Hingga kini wilayah tersebut belum dilayani jaringan distribusi air perpipaan sehingga masyarakat hanya mengandalkan pengiriman air menggunakan truk tangki, baik melalui pembelian secara swadaya maupun bantuan pemerintah.
Situasi tersebut membuat biaya hidup warga meningkat setiap musim kemarau. Pengeluaran yang semula dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga lain harus dialihkan untuk membeli air bersih.
Salah seorang warga, Wakino, mengaku keluarganya membeli satu tangki air bersih setiap dua pekan sekali. Untuk mendapatkan satu tangki penuh, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp120 ribu dan dibagi bersama beberapa keluarga.
“Ya kita patungan. Biar ndak banyak pengeluaran,” ujarnya.
Menurut Wakino, satu tangki air biasanya digunakan bersama oleh empat hingga lima kepala keluarga. Meskipun dibagi bersama, penggunaan air tetap harus dihemat agar persediaannya tidak cepat habis.
Beban Ekonomi Warga Semakin Berat
Bagi masyarakat Kemesu, membeli air bersih bukan lagi kebutuhan sesaat ketika kemarau datang. Pengeluaran tersebut telah menjadi bagian dari biaya rutin yang harus disiapkan setiap tahun.
Dukuh Kemesu, Sugiyanta, mengatakan hampir seluruh warga di padukuhannya masih bergantung pada pasokan air tangki. Ketiadaan jaringan perpipaan membuat pilihan masyarakat sangat terbatas.
Menurutnya, kemarau tidak hanya memicu krisis air, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap kondisi ekonomi warga.
“Ternak selama ini memang menjadi tabungan keluarga perlahan dilepas agar kebutuhan air tetap dapat dipenuhi,” tuturnya.
Penjualan ternak menjadi langkah yang terpaksa diambil sebagian warga. Selain membutuhkan tambahan biaya untuk membeli air, keterbatasan pasokan juga membuat mereka kesulitan menyediakan air minum bagi hewan peliharaan.
Akibatnya, aset yang selama ini berfungsi sebagai tabungan keluarga harus dilepas demi memastikan kebutuhan dasar rumah tangga tetap terpenuhi.
Gotong Royong Jadi Cara Bertahan
Di tengah keterbatasan, budaya saling membantu masih menjadi kekuatan utama masyarakat Kemesu.
Warga bergotong royong membeli air tangki, berbagi biaya pengiriman, hingga saling membantu ketika ada tetangga yang kesulitan memperoleh pasokan air.
Kebersamaan tersebut membuat beban yang dihadapi masyarakat sedikit lebih ringan. Meski demikian, pola ini hanya menjadi solusi sementara karena persoalan kekeringan terus berulang setiap musim kemarau.
Hingga pembaruan terbaru, distribusi air bersih masih menjadi tumpuan utama warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga Berharap Solusi Jangka Panjang
Masyarakat berharap persoalan yang terjadi setiap tahun tidak lagi hanya diatasi melalui bantuan distribusi air menggunakan truk tangki.
Harapan terbesar warga adalah pembangunan jaringan air perpipaan yang mampu menjangkau Padukuhan Kemesu sehingga akses terhadap air bersih dapat tersedia secara lebih berkelanjutan.
Dengan adanya jaringan tersebut, warga berharap tidak perlu lagi menjadikan pembelian air sebagai pengeluaran rutin saat musim kemarau maupun menjual ternak yang selama ini menjadi penyangga ekonomi keluarga.
Bagi masyarakat Kemesu, air bersih bukan sekadar kebutuhan harian. Ketersediaannya turut menentukan keberlangsungan ekonomi rumah tangga, aktivitas sehari-hari, hingga ketahanan hidup masyarakat setiap kali musim kemarau datang.***