
TUGUJOGJA โ Kasus dugaan perundungan yang dialami seorang alumni SMA Negeri 2 Bantul masih menjadi perhatian publik.
Pendamping korban, Dini Sandra, menilai masih ada hal mendasar yang belum dijelaskan secara terbuka oleh pihak sekolah, terutama terkait pengakuan atas dugaan perundungan yang disebut dialami korban saat masih berstatus siswa.
Dini mengapresiasi respons yang mulai diberikan pihak sekolah terkait polemik tersebut.
Namun, menurutnya, pernyataan yang disampaikan belum menyentuh substansi persoalan yang dipersoalkan korban dan keluarganya.
“Perkembangan ini tentu kami apresiasi. Tetapi sampai sekarang pihak sekolah belum mengakui apa yang sebenarnya terjadi kepada korban,” kata Dini.
Ia juga menanggapi pernyataan sekolah yang sebelumnya mengaku belum mengetahui identitas korban dalam kasus tersebut.
Menurut Dini, pernyataan itu bertentangan dengan fakta yang diketahuinya.
Dini mengungkapkan, setelah media mengonfirmasi informasi terkait dugaan perundungan kepada pihak sekolah, wakil kepala sekolah dan seorang guru bimbingan konseling disebut mendatangi rumah korban pada hari yang sama.
Menurutnya, kedatangan tersebut menunjukkan bahwa pihak sekolah mengetahui sosok yang dimaksud dalam pemberitaan.
“Faktanya, setelah berita dikonfirmasi oleh media, pada hari yang sama wakil kepala sekolah dan guru BK datang ke rumah korban,” ujarnya.
Dini mengatakan pihak sekolah saat itu bermaksud bertemu langsung dengan korban.
Namun keluarga memilih tidak memberikan izin karena masih berupaya memulihkan kondisi psikologis korban.
“Orang tua korban menolaknya karena masih menyimpan luka atas apa yang dialami anaknya,” katanya.
Menurut Dini, korban sebelumnya dikenal sebagai siswa yang memiliki prestasi di bidang teknologi informasi.
Namun setelah peristiwa yang disebut sebagai perundungan itu terjadi, kondisi psikologis korban disebut mengalami perubahan signifikan.
Ia menyebut korban kemudian mendapatkan diagnosis gangguan kesehatan mental dari tenaga medis dan harus menunda rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi selama satu tahun.
“Karena kondisi yang dialaminya, dia tidak kuliah selama setahun. Saat ini dia mencoba bangkit dan kembali mendaftar ke perguruan tinggi,” ujar Dini.
Meski demikian, korban disebut kini berusaha melanjutkan hidup dan menata kembali masa depannya dengan mengikuti proses seleksi perguruan tinggi.
Dini berharap ada pengakuan dan penyelesaian yang jelas terkait dugaan perundungan tersebut agar proses pemulihan korban dapat berjalan lebih baik.
“Masa depan anak ini dipertaruhkan. Yang kami harapkan sekolah mengakui adanya perundungan itu sehingga nanti ada pihak yang bertanggung jawab terhadap kondisi korban saat ini,” tegasnya.
Hingga berita ini ditulis, polemik mengenai dugaan perundungan di SMA Negeri 2 Bantul masih terus berkembang.
Pihak sekolah sebelumnya telah memberikan klarifikasi terkait kasus tersebut, sementara pendamping korban menilai masih diperlukan penjelasan lebih lanjut mengenai substansi persoalan yang dipersoalkan korban dan keluarganya.