
TUGUJOGJA – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar berdaya saing dan mampu naik kelas.
Bersama PT Pegadaian, Pemkot Yogyakarta meresmikan The Gade Preneur Space, ruang pembinaan UMKM yang akan menjadi mesin penggerak ekonomi lokal sekaligus penopang utama kesejahteraan warga.
Peresmian The Gade Preneur Space
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan kehadiran The Gade Preneur Space bukan sekadar simbol, melainkan senjata baru bagi UMKM untuk menguasai konsumsi lokal.
Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Pegadaian yang berani turun tangan mendampingi UMKM di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat.
“UMKM ini penting untuk kita tolong dan dukung. Banyak ahli ekonomi bilang, UMKM bisa jadi jalan keluar dari jebakan middle income trap. Harapan saya, melalui Gade Preneur Space ini, UMKM di Yogyakarta punya kesempatan menguasai konsumsi lokal sendiri,” tegas Hasto.
Hasto menilai Yogyakarta memiliki kekuatan besar dalam produk budaya, kuliner, dan fesyen. Ia mencontohkan produksi batik khas Segoro Amarto Reborn, karya UMKM lokal yang kini sudah memiliki Hak Kekayaan Intelektual milik Kota Yogyakarta. Bahkan, hampir 6.000 PNS Pemkot Yogyakarta diwajibkan mengenakan batik tersebut saat Hari Jadi Kota Yogyakarta pada 7 Oktober nanti.
“Kalau Pegadaian ikut membantu, masalah UMKM bisa teratasi tanpa masalah. Kita butuh dorongan agar otot-otot UMKM makin kuat,” kata Hasto.
Tak hanya soal produksi, Hasto menekankan pentingnya perputaran uang lokal. Ia berharap UMKM yang dibina Pegadaian tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjadi reseller. Dia berharap, uang belanja sehari-hari masyarakat tetap berputar di Yogyakarta.
“Kita harus hidupkan kembali konsep Warung Milik Rakyat agar konsumsi masyarakat tidak lari keluar kota,” tambahnya.
Rumah UMKM Naik Kelas
Sementara itu, Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk PT Pegadaian, Selvi Dewiyanti, menyebut Yogyakarta layak menjadi pusat pembinaan UMKM karena potensi yang luar biasa besar. The Gade Preneur Space di Yogyakarta menjadi cabang kelima, sekaligus satu-satunya yang terintegrasi dengan kantor cabang Pegadaian dan kafe.
“Di sini kami menyediakan ruang literasi dan workshop. Mentor-mentor berpengalaman akan membimbing UMKM mulai dari produksi, struktur keuangan, hingga packaging dan display. Semua dilakukan agar UMKM bisa naik kelas dan punya daya saing,” jelas Selvi.
Ia mengungkapkan, program Gade Preneur Space secara nasional sudah membina sekitar 11.000 UMKM, dan 10 persen di antaranya berasal dari Kota Yogyakarta. Angka ini menunjukkan bagaimana Yogya menjadi magnet bagi geliat usaha kecil yang kreatif dan inovatif.
“UMKM di Yogyakarta punya potensi besar, dari fesyen, makanan, sampai produk kreatif lain. Kami ingin program ini tidak hanya berhenti sebagai CSR, tapi jadi gerakan sosial berkelanjutan yang benar-benar mengubah wajah ekonomi rakyat,” ucapnya.
Kolaborasi antara Pemkot Yogyakarta dan Pegadaian melalui The Gade Preneur Space menegaskan satu hal: UMKM tidak boleh berjalan sendirian. Dukungan modal, pelatihan, hingga pemasaran menjadi kunci agar produk lokal mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.
Bagi Yogyakarta, kota budaya sekaligus kota pelajar, kehadiran The Gade Preneur Space ibarat suntikan energi baru. UMKM bukan lagi dianggap sekadar pelengkap ekonomi, melainkan pilar utama yang bisa membawa masyarakat menuju kesejahteraan bersama.
Dengan langkah ini, Pemkot Yogyakarta ingin memastikan bahwa perputaran uang masyarakat tidak lagi keluar, tetapi kembali ke pelaku UMKM lokal. Pegadaian hadir sebagai mitra strategis yang memperkuat pondasi ekonomi rakyat.
Kini, harapan besar bergantung pada UMKM yang terus bertumbuh. Jika berhasil, Yogyakarta bukan hanya sekadar kota wisata, tetapi juga kota dengan UMKM tangguh yang mampu berdiri di panggung global. (ef linangkung)