
TUGUJOGJA – Laju perdagangan internasional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menunjukkan denyut positif. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, selama Januari–Juni 2025, nilai ekspor daerah ini melesat hingga US$270,24 juta, tumbuh 9,84 persen dibanding periode sama tahun 2024.
Plt Kepala BPS DIY, Ir. Herum Fajarwati, M.M., menegaskan bahwa capaian ini menjadi sinyal kuat daya saing industri dan produk unggulan DIY di pasar global semakin menguat.
Amerika Serikat memegang peran utama sebagai pasar terbesar dengan nilai ekspor mencapai US$113,85 juta atau 42,13 persen dari total ekspor. Jerman menempati urutan kedua dengan US$34,90 juta, disusul Jepang dengan US$22,36 juta.
“Ketiga negara ini menyumbang lebih dari separuh total ekspor DIY, tepatnya 63,32 persen,” ungkap Herum.
Produk unggulan yang mengalir deras ke luar negeri masih didominasi sektor fesyen. Pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) menjadi primadona dengan nilai US$105,03 juta atau 38,87 persen dari total ekspor.
Sementara pakaian rajutan menyusul di posisi kedua sebesar US$35,06 juta, dan barang dari kulit samak di posisi ketiga sebesar US$29,42 juta.
Pertumbuhan Sektor Pertanian dan Peran Pelabuhan
Kenaikan signifikan juga terlihat pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 36,62 persen secara tahunan.
Meski kontribusinya hanya 0,72 persen terhadap total ekspor, laju pertumbuhannya melesat, mencerminkan mulai terbukanya peluang baru di pasar luar negeri untuk komoditas primer DIY.
Dari sisi pelabuhan muat, Jawa Tengah menjadi pintu ekspor utama DIY dengan kontribusi 70,94 persen, disusul DKI Jakarta 27,90 persen, Jawa Timur 0,99 persen, dan Bali 0,17 persen.
Kondisi ini menegaskan pentingnya konektivitas pelabuhan besar di luar DIY untuk menggerakkan roda perdagangan internasional.
Impor Naik, Surplus Tetap Terjaga
Namun, di tengah kabar manis ekspor, impor DIY juga ikut terkerek. Nilainya pada periode Januari–Juni 2025 tercatat US$89,74 juta, naik 20,23 persen dibanding tahun lalu.
Tiongkok mendominasi sebagai pemasok utama dengan nilai US$34,11 juta (38,01 persen), diikuti Hongkong US$17,43 juta, dan Amerika Serikat US$15,32 juta.
Barang impor terbesar berasal dari kategori kain rajutan (US$21,05 juta), kereta api, trem dan bagiannya (US$11,72 juta), serta filamen buatan (US$7,30 juta).
Dari sisi penggunaan, bahan baku/penolong mendominasi 88,64 persen dari total impor, menunjukkan impor lebih banyak digunakan untuk menunjang proses produksi industri lokal.
Meski impor melonjak, neraca perdagangan DIY tetap mencatat surplus yang mengesankan. Selama Januari–Juni 2025, surplus perdagangan mencapai US$180,51 juta, naik dibanding periode sama 2024 yang sebesar US$171,39 juta.
Surplus bulan Juni 2025 bahkan menembus US$35,20 juta, melampaui capaian Juni 2024 sebesar US$31,30 juta.
Herum menilai tren positif ini harus dijaga dengan memperkuat kualitas produk ekspor sekaligus mengendalikan impor barang konsumsi yang tidak produktif.
Masyarakat harus memanfaatkan momentum surplus ini untuk memperkokoh struktur industri, memperluas pasar, dan memastikan bahwa pertumbuhan ekspor memberi manfaat nyata bagi masyarakat DIY.
Dengan performa yang terus membaik, DIY bukan hanya membuktikan dirinya sebagai daerah berbudaya, tetapi juga sebagai pemain tangguh di panggung perdagangan internasional.
Angka-angka di semester pertama 2025 menjadi bukti bahwa produk lokal mampu menembus batas negara, membawa harum nama daerah di pasar global.