
TUGUJOGJA- Yogyakarta kembali gempar dengan temuan memprihatinkan terkait kasus dugaan kekerasan di Daycare Little Aresha yang berlokasi di kawasan Umbulharjo.
Hasil asesmen terhadap anak-anak korban Little Aresha mengungkap kondisi yang jauh dari kata baik, bahkan menunjukkan tanda-tanda gangguan serius pada aspek fisik, psikis, dan kognitif. Pemerintah Kota Yogyakarta pun bergerak cepat untuk melakukan penanganan menyeluruh.
Hasil Asesmen Korban Daycare Little Aresha
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, memaparkan hasil asesmen awal yang menunjukkan kondisi anak-anak korban sangat memprihatinkan.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar anak mengalami gangguan tumbuh kembang yang membutuhkan perhatian serius dan penanganan segera.
Retnaningtyas menjelaskan bahwa tim menemukan ketidaksesuaian antara tinggi dan berat badan anak dengan usia mereka. Kondisi tersebut menjadi indikator adanya gangguan pertumbuhan fisik yang tidak bisa kita abaikan.
โKami menemukan rata-rata anak mengalami gangguan tumbuh. Tinggi dan berat badan mereka tidak sesuai dengan standar usia,โ ujarnya.
Tidak hanya pada aspek fisik, tim asesmen juga menemukan gangguan signifikan pada kemampuan kognitif anak-anak korban. Beberapa anak belum mampu melakukan aktivitas dasar yang seharusnya sudah dikuasai sesuai usia mereka.
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa perlakuan di daycare tersebut berdampak luas terhadap perkembangan anak.
โDari sisi kognitif, perkembangan mereka juga terganggu. Anak usia dua tahun misalnya, belum mampu melakukan hal-hal yang seharusnya sudah bisa dilakukan,โ jelas Retnaningtyas dengan nada serius.
Sementara itu, indikasi stunting masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut oleh Dinas Kesehatan. Pemerintah menunggu hasil skrining mendalam untuk memastikan kondisi tersebut secara medis. Langkah ini akan menentukan intervensi yang tepat bagi para korban.
Selain gangguan fisik dan kognitif, perubahan perilaku anak-anak korban juga menjadi sorotan utama. Tim pendamping menemukan adanya perubahan sikap yang cukup drastis.
Anak-anak yang sebelumnya tenang kini menunjukkan perilaku yang lebih temperamental, mudah marah, dan sulit dikendalikan.
Retnaningtyas mengungkapkan bahwa perubahan tersebut mengarah pada indikasi trauma psikologis yang masih membekas. โKami melihat adanya bayang-bayang trauma.
Anak-anak menjadi lebih rewel, sering marah, dan menunjukkan gerakan refleks tertentu yang diduga berkaitan dengan pengalaman mereka di daycare,โ tegasnya.
Langkah Tegas Pemkot
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pemulihan fisik, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis secara intensif. Penanganan terpadu menjadi kunci untuk mengembalikan kondisi anak-anak ke tahap perkembangan yang semestinya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Yogyakarta juga mengambil langkah tegas terkait keberlanjutan pengasuhan anak-anak korban.
Sekitar 60 anak telah terdata untuk dipindahkan ke tempat penitipan yang lebih aman dan terpercaya. Langkah ini akan memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.
Pihak pemkot secara tegas mengarahkan orang tua untuk memilih lembaga penitipan anak yang telah memiliki izin resmi. Saat ini, terdapat 37 daycare legal yang telah terverifikasi dan rekomendasi dari pemerintah.
โKami mengimbau orang tua untuk memilih daycare yang sudah berizin resmi. Sesuai arahan Ngarsa Dalem, kami tidak mengizinkan operasional lembaga tanpa izin demi mencegah risiko yang tidak diinginkan,โ tegas Retnaningtyas.
Kasus Daycare Little Aresha menjadi peringatan keras bagi semua pihak tentang pentingnya pengawasan terhadap lembaga pengasuhan anak.
Pemerintah, orang tua, dan masyarakat harus lebih waspada demi memastikan keamanan dan tumbuh kembang anak tetap terjaga secara optimal. (ef linangkung)