
TUGUJOGJA – Transformasi besar mulai bergulir di Kabupaten Gunungkidul. Wilayah yang selama ini dikenal sebagai daerah kekeringan kini melangkah maju menjadi pusat pengembangan petani milenial tingkat nasional.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) mulai memfokuskan program pertanian modern berbasis generasi muda dengan semangat inovasi dan keberlanjutan.
Kepala DPP Gunungkidul, Rismayadi, menegaskan bahwa Gunungkidul kini tidak lagi hanya mengandalkan pertanian konvensional. Pemerintah menyisipkan pendekatan inovatif dalam berbagai programnya.
“Kami tidak sekadar membangun ketahanan pangan, tapi juga memastikan transformasi digital dan mekanisasi menyentuh para petani muda,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa Pemkab Gunungkidul bersinergi dengan Pemprov DIY dan Kementerian Pertanian RI untuk menjadikan daerah ini sebagai pilot project laboratorium pertanian milenial.
“Hari Kamis besok, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian akan hadir di Gunungkidul untuk memberikan dukungan penuh. Pemerintah pusat sudah menyatakan komitmennya mendampingi kami mulai 2026 hingga 2030,” lanjut Rismayadi.
Fokus pada Regenerasi dan Dukungan Nyata
Pemerintah daerah secara aktif mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian. Menurut Rismayadi, isu regenerasi petani kini menjadi perhatian serius di tingkat nasional.
“Kementerian menyasar kelompok usia 17 hingga 39 tahun sebagai petani milenial. Di Gunungkidul, kami sudah mulai membina dan memfasilitasi generasi ini sejak beberapa tahun terakhir,” jelasnya.
DPP Gunungkidul rutin menggelar pelatihan dan pendampingan setiap tahun. Program ini mencakup literasi keuangan, perencanaan usaha, serta praktik pertanian modern yang relevan.
“Kami membekali petani muda agar paham cara mengelola modal dan merancang kegiatan pertanian yang berorientasi pasar,” kata Rismayadi.
Tak hanya pelatihan, pemerintah juga menyiapkan hibah kompetitif bagi petani milenial. Para peserta diminta mengajukan proposal usaha.
“Siapkan proposal misalnya ingin menanam cabai, semangka, bawang merah, atau melon, maka kami akan bantu biayai. Mereka bisa mengajukan secara individu maupun dalam bentuk kelompok,” terangnya.
DPP juga menjalin kerja sama dengan mitra pasar dan jaringan distribusi hasil tani. Hal ini bertujuan agar hasil pertanian langsung terhubung ke pasar, sehingga para petani muda tidak kebingungan menjual produk.
“Model seperti ini akan terus kami sempurnakan hingga 2026,” sambungnya.
Rismayadi juga menyampaikan bahwa pihaknya tengah membangun sumber air baru dan memperluas jaringan irigasi guna mendukung pertanian berkelanjutan. Mekanisasi pertanian turut diperkuat.
“Upaya ini kami lakukan agar generasi muda melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan,” ujarnya.
Data internal menunjukkan peningkatan minat generasi muda untuk menekuni pertanian. Komoditas seperti semangka, melon, dan bawang merah menjadi daya tarik tersendiri karena nilai ekonominya yang tinggi.
Sebagai bentuk keseriusan, Gunungkidul juga akan menjadi tuan rumah sejumlah kegiatan strategis berskala nasional. Salah satunya adalah Pekanbaru Petani Milenial yang dijadwalkan berlangsung Agustus mendatang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Gunungkidul mampu menjadi lokomotif pertanian berbasis generasi muda. Ini bukan mimpi, tapi sudah mulai kami wujudkan,” tegas Rismayadi.