
TUGUJOGJA – Gunung Merapi kembali menunjukkan geliat aktivitas vulkaniknya sepanjang sepekan terakhir. Guguran lava pijar, gempa vulkanik, hingga semburan asap putih yang membumbung tinggi dari kawahnya menjadi tanda bahwa gunung paling aktif di Indonesia itu belum berhenti bernafas.
Meski cuaca sering berkabut, deru aktivitas Merapi tetap terpantau jelas oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa aktivitas Merapi masih berada pada level tinggi. Status Merapi saat ini masih Siaga (Level III).
Suplai magma dari perut bumi terus berlangsung dan ini bisa memicu terjadinya guguran lava maupun awan panas.
Guguran Lava Terus Terjadi
Selama periode pengamatan, Merapi tercatat meluncurkan 88 kali guguran lava ke berbagai arah sungai yang berhulu di puncaknya. Guguran paling banyak terjadi ke arah Kali Sat/Putih sebanyak 46 kali, disusul Kali Krasak 37 kali, dan Kali Bebeng 5 kali. Jarak luncuran rata-rata mencapai 2.000 meter dari kawah.
Sementara itu, asap putih dengan ketebalan tipis hingga pekat terus keluar dari kawah dengan ketinggian mencapai 200 meter. Kubah Barat Daya menunjukkan perubahan morfologi akibat pertumbuhan volume dan aktivitas guguran lava, sedangkan Kubah Tengah relatif stabil.
“Kegempaan Merapi juga tercatat lebih tinggi dibanding minggu sebelumnya. Seismograf merekam 81 kali gempa vulkanik dangkal, 644 kali gempa fase banyak, 520 kali gempa guguran, serta 9 kali gempa tektonik. Data ini memperkuat bukti bahwa suplai magma dari kedalaman masih aktif, “tutur dia.
Meski begitu, hasil pemantauan deformasi dengan alat EDM dan GPS menunjukkan kondisi masih stabil tanpa perubahan signifikan.
“Artinya tubuh Merapi belum mengalami penggembungan besar yang bisa memicu letusan eksplosif dalam waktu dekat,” tambah Agus.
Bahaya Masih Mengintai
BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya, mencakup Sungai Boyong (maksimal 5 km), Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km). Pada sektor tenggara, bahaya mengancam di Sungai Woro (3 km) dan Gendol (5 km).
Selain itu, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Hujan lebat juga bisa memicu lahar hujan yang meluncur deras melalui aliran sungai.
Warga Diminta Tidak Lengah
Meskipun aktivitas Merapi terlihat “biasa” oleh warga yang sudah akrab hidup berdampingan dengan ancaman erupsi, BPPTKG kembali mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekan bahaya.
“Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di zona bahaya. Jangan mencari rumput, jangan berwisata, apalagi mendekat untuk melihat luncuran lava. Potensi awan panas bisa muncul tiba-tiba,” tegas Agus.
BPPTKG juga meminta pemerintah daerah di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk menyiapkan jalur evakuasi, sarana pengungsian, serta memberikan edukasi kepada masyarakat.