
TUGUJOGJA – Kasus gladiator pelajar Jogja viral, dua anggota geng Vascal terluka akibat duel berdarah di Pakualaman. Simak kronologi lengkapnya.
Kasus kekerasan yang melibatkan pelajar kembali terjadi di Yogyakarta dan langsung menjadi perhatian publik.
Peristiwa ini mencuat setelah dua remaja yang tergabung dalam satu geng terlibat duel berdarah di kawasan Pakualaman. Insiden tersebut diduga dipicu oleh aturan internal kelompok yang mewajibkan anggotanya melakukan duel apabila ingin keluar dari geng.
Peristiwa ini kini tengah ditangani oleh aparat kepolisian dan menjadi sorotan luas karena melibatkan senjata tajam serta menimbulkan korban luka serius.
Kronologi Kejadian di Pakualaman
Peristiwa bentrokan terjadi pada Rabu dini hari, 25/3/2026, di wilayah Pakualaman, Kota Yogyakarta. Dua kelompok pelajar yang terlibat ternyata masih berasal dari satu geng yang sama, yakni geng Vascal.
Kasus ini pertama kali terungkap setelah pihak kepolisian menerima laporan dari Rumah Sakit Pratama sekitar pukul 03.00 WIB terkait adanya korban yang awalnya diduga mengalami kecelakaan. Namun, setelah dilakukan pengecekan langsung oleh petugas, ditemukan bahwa korban mengalami luka akibat senjata tajam yang mengarah pada dugaan perkelahian.
Petugas kemudian mengamankan para korban untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui kronologi sebenarnya dari kejadian tersebut.
Apa Itu Geng Vascal?
Nama Vascal menjadi sorotan dalam kasus ini. Berdasarkan informasi yang beredar, Vascal merupakan singkatan dari Vandalisme Esemca Lima. Kelompok ini diduga merupakan geng pelajar yang memiliki aturan internal tertentu, termasuk kewajiban duel bagi anggota yang ingin keluar dari kelompok.
Keberadaan geng seperti ini menjadi perhatian karena berpotensi memicu tindakan kekerasan di kalangan remaja.
Duel Dipicu Aturan Internal Geng
Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa peristiwa ini bukan terjadi secara spontan, melainkan sudah direncanakan sebelumnya oleh kedua kelompok. Bentrokan tersebut berkaitan dengan keinginan beberapa anggota geng untuk keluar dari kelompok.
Namun, dalam aturan internal geng Vascal, anggota yang ingin keluar diwajibkan menjalani duel atau yang disebut sebagai โgladiatorโ. Aturan ini kemudian menjadi pemicu utama terjadinya bentrokan.
Kedua kelompok sempat menyepakati lokasi pertemuan di Jalan Sukonandi. Akan tetapi, bentrokan akhirnya terjadi di Jalan Ki Mangun Sarkoro, Pakualaman, setelah kedua pihak bertemu di lokasi tersebut.
Korban Mengalami Luka Parah
Akibat duel tersebut, dua pelajar mengalami luka serius. Mereka adalah AP (18), pelajar asal Mergangsan, dan RA (17), pelajar asal Depok, Sleman.
Dalam kejadian tersebut, kedua korban diketahui sama-sama membawa senjata tajam. RA membawa dua celurit, sementara AP membawa satu celurit. Bentrokan yang terjadi menyebabkan keduanya mengalami luka bacok di sejumlah bagian tubuh.
AP mengalami luka di bagian pundak kiri, lengan kanan dan kiri, serta jari jempol tangan kanan. Sementara itu, RA mengalami luka lebih serius berupa bacokan di bagian dada sebelah kiri hingga menembus paru-paru.
Kedua korban sempat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan berbeda. AP dirawat di RSUD Wirosaban, sedangkan RA sempat dirawat di RS Pratama sebelum akhirnya dirujuk ke RS Bethesda Yogyakarta karena kondisi luka yang cukup parah.
Polisi Dalami Keterlibatan dan Senjata Tajam
Pihak kepolisian memastikan bahwa kejadian ini bukan disebabkan oleh pertemuan tidak sengaja atau saling ejek di jalan. Bentrokan terjadi setelah adanya kesepakatan antara kedua kelompok untuk melakukan duel.
Selain itu, terdapat indikasi bahwa para pelaku dan korban saling mengenal karena berasal dari geng yang sama. Polisi juga menemukan fakta bahwa kedua pihak membawa senjata tajam saat bentrokan berlangsung.
Saat ini, penanganan kasus telah dilimpahkan ke Polresta Yogyakarta untuk proses hukum lebih lanjut, khususnya terkait penggunaan senjata tajam dan keterlibatan pihak lain dalam aksi tersebut.
Identitas Sekolah Masih Belum Terungkap
Kasus ini menjadi viral di media sosial dan memunculkan berbagai pertanyaan dari masyarakat, termasuk terkait asal sekolah para pelaku. Namun, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai identitas sekolah yang bersangkutan.
Fokus penyelidikan masih diarahkan pada pengungkapan jaringan geng, kronologi lengkap kejadian, serta pihak-pihak yang terlibat dalam bentrokan tersebut.
Peristiwa ini kembali menjadi peringatan akan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas remaja, terutama yang berkaitan dengan kelompok pergaulan yang berpotensi memicu tindakan kekerasan.***