TUGU JOGJA – Pada gelaran Fashion on the Street Prawirotaman 2026 di Yogyakarta, 21 Agustus 2026, desainer Putri Ramadhany Amir memperkenalkan koleksi busana yang memadukan tenun lurik, batik kopi, dan pewarna alam.
Koleksi tersebut mengangkat limbah kopi sebagai pewarna kain sekaligus membawa tekstil tradisional Indonesia ke dalam gaya streetwear yang lebih dekat dengan generasi muda.
Perpaduan tradisi dan gaya hidup modern itu terlihat di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta, ketika kain tradisional tampil dalam pendekatan fesyen urban.
Batik hadir bersama streetwear, lurik dipadukan dengan siluet urban, sementara kopi yang selama ini dikenal sebagai minuman diolah menjadi motif sekaligus sumber warna pada kain.
Batik Kopi dan Limbah Kopi dalam Koleksi Modern
Di panggung itulah desainer Putri Ramadhany Amir memperkenalkan koleksi yang memadukan tenun lurik, batik kopi, dan pewarna alam dalam satu narasi besar tentang identitas Indonesia yang terus berkembang.
Koleksi tersebut menjadi bagian dari semangat Contemporary Batik Evolution โ Millennial Batik Revolution, sebuah gagasan yang mencoba menjawab pertanyaan penting: bagaimana warisan tekstil Indonesia tetap relevan di tengah perubahan gaya hidup generasi muda.
Ketika Kopi Tidak Lagi Sekadar Minuman
Di Indonesia, kopi memiliki cerita panjang yang melekat pada kehidupan masyarakat. Dari dataran tinggi Sumatra hingga pegunungan di Sulawesi dan Jawa, kopi bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari budaya.
Putri Ramadhany Amir membawa cerita tersebut ke dalam desain busana.
Melalui kolaborasi dengan Batik Kopi Indonesia, ia menghadirkan motif yang menggabungkan unsur kopi dan kepulauan Indonesia.
Pendekatan ini tidak hanya menampilkan kopi sebagai elemen visual, tetapi juga sebagai simbol keberagaman daerah penghasil kopi Nusantara.
Hal yang membuat koleksi ini berbeda adalah proses kreatif di baliknya.
Limbah kopi yang selama ini sering berakhir sebagai sisa konsumsi dimanfaatkan sebagai bahan pewarna kain. Inovasi tersebut menghadirkan dimensi baru dalam dunia batik, di mana bahan yang dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi sumber warna alami yang memiliki karakter unik.
โMelalui karya ini, saya ingin menunjukkan bahwa batik bisa berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda, salah satunya adalah kopi. Kopi kemudian saya terjemahkan bukan hanya menjadi motif, tetapi juga menjadi warna melalui pemanfaatan limbah kopi sebagai pewarna,โ ujar Putri Ramadhany Amir.
Putri memperlihatkan bagaimana sebuah bahan sederhana dapat menjadi medium untuk memperluas makna batik di era modern.
Lurik yang Keluar dari Zona Formal
Bagi banyak orang, tenun lurik masih identik dengan pakaian tradisional Jawa atau busana resmi pada acara adat tertentu. Namun dalam koleksi ini, lurik mendapatkan interpretasi yang berbeda.
Alih-alih tampil dalam bentuk yang konvensional, lurik dipadukan dengan material batik dan dikonstruksi menjadi busana bergaya streetwear yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Streetwear saat ini menjadi salah satu bahasa fesyen yang paling mudah diterima oleh kalangan muda.
Gaya yang kasual, fleksibel, dan ekspresif membuatnya menjadi medium yang efektif untuk memperkenalkan kembali tekstil tradisional kepada audiens yang lebih luas.
Dalam koleksi Putri Ramadhany Amir, lurik tidak kehilangan identitasnya sebagai tekstil tradisional Jawa.
Sebaliknya, karakter garis-garis khas lurik justru menjadi elemen visual yang memperkuat kesan modern sekaligus membedakan karya tersebut dari tren fesyen global yang seragam.
Tradisi yang Tetap Relevan
Perpaduan tenun lurik, batik kopi, dan pewarna alam menghasilkan busana yang membawa nilai budaya ke ruang urban.
Kain tradisional tidak lagi ditempatkan hanya sebagai simbol masa lalu, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup masa kini.
Pendekatan semacam ini menjadi penting ketika industri fesyen global semakin didominasi produk massal yang cenderung homogen. Di tengah arus tersebut, identitas lokal justru menjadi nilai yang semakin dicari.
Perempuan Pengusaha Menjadi Wajah Koleksi
Menariknya, peragaan busana ini tidak hanya berbicara mengenai desain.
Putri Ramadhany Amir menggandeng anggota HIPMI Jogja Womenpreneur sebagai muse yang memperagakan koleksinya. Kehadiran para perempuan pengusaha tersebut memberi lapisan makna yang lebih luas terhadap karya yang ditampilkan.
Fesyen dalam konteks ini menjadi ruang untuk menampilkan keberanian, kreativitas, dan semangat pemberdayaan perempuan.
Para muse yang tampil terdiri atas Iranova, Leonita, Afee Zaenab, Alvira, Bunga, Devita, dan Sarah. Kehadiran mereka menjadi simbol kolaborasi antara dunia fesyen, UMKM, kewirausahaan, budaya, dan ekonomi kreatif yang saling terhubung.
Di atas panggung, mereka sekaligus merepresentasikan sosok perempuan masa kini yang aktif membangun usaha, menciptakan peluang, dan membawa identitas Indonesia ke ruang-ruang yang lebih modern.
Membawa Indonesia Melalui Kain
Setiap elemen dalam koleksi ini memiliki peran yang saling melengkapi.
Kopi berbicara tentang kekayaan komoditas Nusantara. Batik menghadirkan warisan budaya yang telah berkembang selama ratusan tahun. Tenun lurik mewakili akar tradisi Jawa.
Sementara motif kepulauan Indonesia menjadi simbol keberagaman yang menyatukan semuanya.
Melalui kombinasi tersebut, Putri Ramadhany Amir membangun narasi bahwa identitas Indonesia tidak harus disampaikan secara kaku.
Budaya dapat hadir dalam bentuk yang lebih cair, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan lebih mudah diterima generasi baru.
Fesyen Berkelanjutan Semakin Mendapat Tempat
Penggunaan pewarna alam dan pemanfaatan limbah kopi juga mencerminkan kecenderungan industri fesyen menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Kesadaran terhadap lingkungan kini menjadi salah satu isu penting dalam dunia mode global.
Inovasi yang memanfaatkan bahan alami dan material sisa produksi menunjukkan bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan upaya mengurangi dampak lingkungan.
Koleksi ini tidak hanya menawarkan estetika, tetapi juga gagasan tentang bagaimana proses kreatif dapat memberikan nilai tambah pada material yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
Dari Warisan Masa Lalu Menuju Identitas Masa Depan
Fashion on the Street Prawirotaman selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai ruang yang mempertemukan kreativitas lokal dengan publik yang lebih luas.
Dalam gelaran 21 Agustus 2026, kehadiran karya Putri Ramadhany Amir menjadi salah satu contoh bagaimana tekstil tradisional Indonesia dapat terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan akar budayanya.
Dari secangkir kopi, limbah kopi, selembar batik, hingga tenun lurik, seluruh elemen tersebut dirangkai menjadi sebuah cerita tentang Indonesia yang terus bergerak maju.
Cerita yang tidak berhenti pada nostalgia terhadap masa lalu, tetapi juga berbicara tentang masa depan.
Melalui pendekatan streetwear yang dekat dengan generasi muda, Putri Ramadhany Amir menunjukkan bahwa batik dan tekstil tradisional bukan sekadar warisan yang disimpan di lemari atau dikenakan pada acara tertentu.
Keduanya dapat menjadi bagian dari identitas sehari-hari, hidup di jalanan kota, hadir dalam ruang kreatif, dan terus berevolusi mengikuti zaman. (Gal)





