TUGU JOGJA – Bangunan bergaya gothic yang berdiri di kawasan Sayidan, Yogyakarta, selama bertahun-tahun dikenal masyarakat sebagai “Gereja Gothic Sayidan”.
Bentuknya yang menyerupai bangunan gereja Eropa klasik membuat tempat ini menarik perhatian warga dan wisatawan, meski sebenarnya bangunan tersebut bukanlah tempat ibadah.
Bangunan lawas itu memiliki sejarah yang cukup berbeda dari kesan yang muncul dari tampilan luarnya. Adapun bangunan tersebut diketahui pernah digunakan sebagai rumah hunian, tempat produksi atau pabrik, sekaligus museum batik sebelum akhirnya kosong dan terbengkalai.
Dan untuk mengetahuinya lebih dalam, berdasarkan informasi yang dihimpun Tugujogja.id, berikut penjelasan lengkapnya.
Bangunan Gothic Sayidan Dibangun pada 1986-1987
Bangunan yang kini menjadi salah satu objek visual ikonis di kawasan Sayidan tersebut diperkirakan didirikan pada kurun waktu 1986 hingga 1987.
Arsitekturnya menggunakan gaya gothic yang kuat sehingga dari luar bangunan terlihat seperti gereja tua peninggalan Eropa.
Kesan tersebut kemudian membuat masyarakat lebih mudah menyebutnya sebagai Gereja Gothic Sayidan. Namun, fungsi asli bangunan itu tidak berkaitan dengan kegiatan peribadatan.
Pada masa awal penggunaannya, bangunan tersebut memiliki beberapa fungsi sekaligus. Pemiliknya memanfaatkannya sebagai rumah hunian, tempat produksi atau pabrik, serta museum yang menyimpan dan memamerkan berbagai koleksi batik.
Keberadaan fungsi tersebut membuat bangunan ini tidak sekadar menjadi tempat tinggal. Pada masa itu, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari aktivitas produksi dan penyimpanan koleksi batik yang dimiliki sang pemilik.
Aktivitas Produksi dan Museum Batik Berhenti
Perubahan terjadi setelah pemilik bangunan meninggal dunia. Berbagai kegiatan yang sebelumnya berlangsung di dalam bangunan, termasuk aktivitas produksi dan pameran batik, kemudian tidak lagi berjalan.
Kondisi tersebut membuat bangunan perlahan kehilangan aktivitas dan akhirnya menjadi tidak terurus. Sementara itu, koleksi barang serta artefak batik yang sebelumnya berada di dalam bangunan kemudian dipindahkan pengelolaannya ke Museum Ullen Sentalu.
Pemindahan koleksi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah bangunan Gothic Sayidan. Sebab, bangunan yang sebelumnya memiliki fungsi sebagai ruang hunian sekaligus tempat produksi dan museum akhirnya tidak lagi digunakan untuk kegiatan tersebut.
Bangunan Mulai Dikosongkan Sejak 2004
Bangunan tersebut kemudian mulai dikosongkan secara total sekitar tahun 2004. Salah satu persoalan yang berkaitan dengan lahan bangunan adalah Hak Guna Bangunan (HGB) yang diketahui telah berakhir pada tahun 2000.
Setelah tidak lagi digunakan, bangunan gothic tersebut dibiarkan dalam kondisi kosong selama bertahun-tahun. Tidak adanya aktivitas dan pemeliharaan kemudian membuat kondisi fisik bangunan semakin terpengaruh oleh usia serta cuaca.
Di sisi lain, pemerintah daerah setempat kemudian menetapkan bangunan unik tersebut sebagai cagar budaya sejarah arsitektur. Status tersebut menempatkannya sebagai bagian dari bangunan yang memiliki nilai sejarah dan arsitektur.
Kondisi Terbengkalai Memunculkan Berbagai Cerita Mistis
Bangunan yang telah lama kosong kemudian tidak hanya dikenal karena arsitekturnya. Kondisinya yang terbengkalai juga memunculkan berbagai cerita dan rumor bernuansa mistis yang beredar di tengah masyarakat.
Kisah-kisah tersebut berkembang dari cerita warga mengenai kondisi bangunan yang dianggap menyeramkan.
Melansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Yogyakarta, diketahui bahwa hal tersebut salah satunya berkaitan dengan orang yang disebut pernah memberanikan diri menyusup dan masuk ke dalam gedung.
Kondisi bagian dalam bangunan disebut sudah sangat tidak terawat. Sejumlah lorong berada dalam keadaan memprihatinkan, sementara lantainya digambarkan becek dan berair akibat bangunan yang lama tidak mendapatkan perawatan serta terus terpapar usia dan cuaca.
Cerita mengenai kondisi tersebut kemudian turut memperkuat kesan misterius yang selama ini melekat pada bangunan Gothic Sayidan.
Meski demikian, cerita mistis tersebut merupakan rumor yang beredar di masyarakat, bukan bagian dari fungsi asli bangunan.
Area Dalam Bangunan Dilarang untuk Dimasuki
Di balik daya tarik arsitekturnya, masyarakat maupun wisatawan tidak diperbolehkan memasuki bagian dalam bangunan tersebut. Larangan itu berkaitan dengan alasan keamanan struktur bangunan serta status kepemilikannya.
Karena itu, pengunjung yang ingin melihat bangunan Gothic Sayidan hanya dapat menikmati tampilan arsitekturnya dari area yang diperbolehkan. Memaksakan diri masuk ke dalam bangunan bukan pilihan yang tepat mengingat kondisi fisiknya telah lama tidak terawat.
Larangan tersebut juga penting karena bagian dalam bangunan disebut memiliki kondisi yang kuran baik.
Bangunan tua yang lama kosong tentu membutuhkan perhatian terhadap aspek keselamatan sebelum dapat digunakan atau dimasuki kembali.
Arsitektur Gothic Tetap Menjadi Daya Tarik Sayidan
Meski memiliki cerita panjang mengenai masa kejayaan, kekosongan, hingga berbagai rumor mistis, daya tarik utama bangunan ini tetap terletak pada arsitekturnya.
Fasad bergaya gothic yang menjulang memberikan tampilan berbeda dibandingkan bangunan lain di kawasan Sayidan. Karakter arsitektur tersebut membuat bangunan ini mudah dikenali dan menarik perhatian orang yang melintas.
Tidak sedikit anak muda dan wisatawan yang datang untuk mengabadikan keberadaan bangunan tersebut melalui foto.
Mereka biasanya memanfaatkan bagian luar bangunan sebagai latar untuk menangkap kesan klasik dan megah dari arsitektur gothic yang masih terlihat hingga kini.
Dengan sejarah yang berbeda dari anggapan masyarakat, bangunan yang populer dengan nama Gereja Gothic Sayidan ini menyimpan perjalanan panjang.
Tempat tersebut bukan gereja, melainkan bangunan yang pernah menjadi rumah hunian, lokasi produksi, sekaligus museum batik sebelum akhirnya kosong sejak sekitar 2004.
Keberadaannya kini menjadi bagian dari lanskap sejarah arsitektur di kawasan Sayidan, Yogyakarta. Di tengah berbagai cerita misteri yang berkembang, bangunan tersebut tetap menarik perhatian karena bentuknya yang khas dan nilai sejarah yang melekat padanya.***