TUGU JOGJA – Jogja Fashion Carnaval (JFC) 2026 digelar di kawasan Malioboro, Yogyakarta, pada Sabtu (22/8/2026), dengan menghadirkan 19 kelompok hasil kurasi dari Yogyakarta maupun luar daerah. Parade kostum kreatif dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu juga melibatkan puluhan mahasiswa asing dari sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta.
Sejak sore, ribuan penonton terlihat memenuhi sisi kanan dan kiri jalur parade untuk menyaksikan peserta yang tampil dengan kostum berukuran besar, warna mencolok, serta beragam interpretasi budaya Yogyakarta.
Tahun ini, Jogja Fashion Carnaval mengusung tema “Hangrengkuh Sesotiyatuhu”, yang mengandung makna memeluk dan menjaga nilai-nilai luhur sebagai kekayaan paling berharga dalam kehidupan masyarakat.
Gubernur DIY: Tradisi Harus Terus Dihidupkan
Dalam sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan Sekretaris Daerah DIY, Beny Suharsono, ditegaskan bahwa Yogyakarta selama ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas.
Menurutnya, warisan budaya tidak cukup hanya dijaga sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dihidupkan dan ditafsirkan kembali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Jogja Fashion Carnaval menjadi ruang bertemunya para desainer, seniman, perajin, generasi muda, komunitas, dan berbagai unsur masyarakat. Di ruang inilah kreativitas mendapatkan panggung dan kekayaan budaya memperoleh kemungkinan baru untuk berkembang,” ujar Beny membacakan sambutan Gubernur DIY.
Ia menegaskan bahwa tradisi dan inovasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
“Tradisi memberikan identitas dan kedalaman, sementara kreativitas menghadirkan daya hidup dan kemungkinan-kemungkinan baru. Keduanya harus berjalan beriringan,” lanjutnya.
Menurut Sultan, semangat Hangrengkuh Sesotiyatuhu diharapkan tidak berhenti sebagai tema acara semata, tetapi menjadi semangat bersama untuk merawat warisan budaya sekaligus mengembangkannya menjadi karya yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Jadi Etalase Kreativitas Yogyakarta
Kepala Dinas Pariwisata DIY Atik Sudarmi mengatakan Jogja Fashion Carnaval merupakan agenda tahunan yang didukung Dana Keistimewaan dan menjadi salah satu panggung utama industri kreatif Yogyakarta.
Selain memeriahkan peringatan kemerdekaan, acara ini juga menjadi ruang ekspresi bagi pelaku seni, desainer, komunitas, dan generasi muda.
“Jogja Fashion Carnaval menjadi kolaborasi antara seni, budaya, dan fashion yang menghadirkan Yogyakarta sebagai ruang pertunjukan visual yang meriah, edukatif, dan inspiratif,” kata Atik.
Menurutnya, tema Hangrengkuh Sesotiyatuhu dipilih untuk mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan secara lebih mendalam.
Sesotiya atau permata hati tidak dimaknai sebagai benda berharga secara material, melainkan nilai, akal budi, dan karakter yang menjadi identitas masyarakat Yogyakarta.
Empat Subtema Warnai Parade
Tema utama kemudian diterjemahkan ke dalam empat subtema yang menjadi inspirasi peserta dalam merancang kostum.
Subtema tersebut meliputi Abarana yang menggambarkan penghias raga dan rasa, Drisya yang terinspirasi dari keindahan alam, Purwakala yang mengangkat warisan leluhur, serta Tribangga yang merepresentasikan gerak dan ekspresi dalam seni budaya.
Mayoritas peserta menggunakan lurik khas Yogyakarta sebagai elemen utama kostum yang dipadukan dengan ornamen bertema kemerdekaan dan identitas budaya lokal.
Kostum-kostum berukuran besar dengan detail rumit menjadi daya tarik utama sepanjang jalur parade.
Peserta dari DIY hingga Banyuwangi
Jogja Fashion Carnaval 2026 menghadirkan 19 kelompok hasil kurasi yang berasal dari Yogyakarta maupun luar daerah.
Beberapa peserta yang tampil antara lain Plumeria, Pawon Warna Karnaval, Arsipelago Performing Arts, M Karnaval Banyuwangi, Nirwasitala, Forum Duta Keistimewaan, Elok Fashion Carnaval, Kolektif Rupa Karna, Rawikara, Kanggo Jayabaya, Antoseno Karnaval, Sanggar Inspirasi Rupa, Kapita Ayu, Wonderful Madiun Carnaval, Roshinesia Art Project, Sanggar Swarna Swarni, hingga Mahardika Carnaval.
Kehadiran peserta dari luar DIY membuat parade tahun ini menghadirkan ragam interpretasi budaya yang lebih beragam.
Mahasiswa Asing Ikut Meramaikan
Salah satu penampilan yang menarik perhatian penonton datang dari kelompok mahasiswa internasional.
Sebanyak puluhan mahasiswa asing dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, dan Universitas Alma Ata ikut berpartisipasi dalam karnaval.
Mereka berasal dari Timor Leste, Pakistan, Afrika Selatan, Madagaskar, China, hingga Nigeria.
Sebagian peserta mengenakan busana tradisional dari negara asal mereka, sementara lainnya tampil menggunakan kostum karnaval karya desainer Yogyakarta yang telah memiliki sertifikasi profesional.
Kehadiran mahasiswa internasional tersebut menjadi simbol keterbukaan Yogyakarta sebagai kota budaya yang mampu mempertemukan berbagai bangsa dalam ruang kreatif yang sama.
Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Dinas Pariwisata DIY menargetkan Jogja Fashion Carnaval tidak hanya menjadi tontonan tahunan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Melalui penyelenggaraan acara di jantung kawasan wisata Malioboro, pemerintah berharap terjadi peningkatan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selain itu, karnaval juga menjadi media promosi untuk memperkenalkan kekuatan industri fesyen, seni pertunjukan, dan ekonomi kreatif Yogyakarta ke tingkat nasional hingga internasional.





