
TUGUJOGJA– Warga di berbagai kemantren Yogyakarta perlahan membuktikan bahwa mereka mampu melawan masalah klasik perkotaan: sampah. Lewat program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos), masyarakat bergotong royong menciptakan perubahan nyata.
Mantri Pamong Praja Pakualaman, Saptohadi, dengan bangga mengungkapkan bahwa seluruh warga di wilayahnya kini benar-benar menjalankan program Mas Jos. Buktinya, volume sampah yang dulu mencapai enam ton per hari kini merosot drastis hingga hanya 2,6 ton per hari.
“Angka ini membuktikan keseriusan warga. Mereka tidak hanya mengikuti sosialisasi, tetapi langsung turun tangan memilah dan mengolah sampah,” tegasnya.
Program Mas Jos di Yogyakarta
Suara serupa juga datang dari Mantri Pamong Praja Kraton, Sumargandi. Ia menyatakan bahwa pihaknya mengoptimalkan peran bank sampah untuk mengurangi beban TPA. Mereka mempunyai 43 bank sampah aktif yang dikelola langsung masyarakat.
“Keberadaan bank sampah ini mampu menekan timbunan sampah secara signifikan,” ujarnya.
Keseriusan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menggelorakan program Mas Jos tidak berhenti pada seruan di atas mimbar. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turun langsung ke lapangan, Senin (8/9/2025). Ia meninjau dua wilayah kemantren, Pakualaman dan Kraton, memastikan program Mas Jos benar-benar berjalan.
Kehadiran Hasto di tengah masyarakat bukan sekadar seremonial. Ia menyusuri gang, mendatangi kelompok pengolah sampah organik, hingga berbincang dengan warga yang mengubah sisa dapur menjadi kompos untuk penghijauan lingkungan.
“Alhamdulillah di Kemantren Pakualaman program ini sudah berjalan baik. Saya sangat mengapresiasi kreativitas warga yang mampu mengolah sampah organik menjadi pupuk,” ungkapnya.
Arahan Teknis
Tidak berhenti di situ, Wali Kota juga memberi arahan teknis kepada Mantri Pamong Praja, lurah, dan kader lingkungan. Ia menekankan bahwa Mas Jos tidak boleh berhenti sebagai jargon, melainkan harus hidup di setiap RT, RW, kelurahan, hingga kemantren.
“Dengan cara ini, kita bukan hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman,” tegas Hasto.
Dalam kesempatan itu, Hasto mengingatkan bahwa masalah sampah tidak bisa diselesaikan pemerintah seorang diri. Partisipasi aktif masyarakat menjadi penentu utama keberhasilan.
“Sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Pemerintah hadir memfasilitasi, tetapi kesadaran masyarakat untuk memilah, mengolah, dan mengurangi sampah dari rumah masing-masing adalah kunci. Inilah semangat yang kami dorong melalui Mas Jos,” ujarnya.
Menurut Hasto, langkah kecil masyarakat Pakualaman dan Kraton kini memberi harapan besar. Sampah yang tadinya menumpuk kini perlahan berkurang. Warga tidak lagi menganggap sampah sebagai masalah, tetapi sebagai peluang untuk dikelola menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Program Mas Jos pun terbukti bukan sekadar slogan. Ia lahir sebagai gerakan nyata, menjelma menjadi kebiasaan baru masyarakat Jogja. Dengan konsistensi dan dukungan pemerintah, Yogyakarta berpeluang besar menjadi kota teladan dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Indonesia. (ef linangkung)