Asal Usul Nama Jalan Kaliurang, Berawal dari ‘Sungai Udang’ hingga Jadi Pusat Keramaian

Bagikan :
Ilustrasi sejarah dan asal usul nama Jalan Kaliurang Jogja (AI // Tugu Jogja)

TUGU JOGJA – Jalan Kaliurang atau yang populer disebut Jakal merupakan salah satu ruas jalan utama di Yogyakarta yang menghubungkan kawasan perkotaan dengan wilayah lereng Gunung Merapi.

Di balik fungsinya sebagai jalur transportasi sekaligus kawasan pendidikan, wisata, kuliner, dan perdagangan, nama Kaliurang memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan kawasan tersebut sejak masa kolonial Hindia Belanda.

Jalan yang membentang melintasi wilayah Kabupaten Sleman ini kini dikenal sebagai salah satu kawasan yang ramai sepanjang hari.

Aktivitas masyarakat, mahasiswa, wisatawan, serta pelaku usaha membuat Jakal berkembang menjadi salah satu koridor penting yang menghubungkan pusat Kota Yogyakarta dengan kawasan utara Sleman.

Dan untuk mengetahuinya lebih dalam, berdasarkan informasi yang dihimpun Tugujogja.id, berikut penjelasan lengkapnya.

Nama Kaliurang Berasal dari Gabungan Kata dalam Bahasa Jawa

Nama Kaliurang terdiri dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni “kali” dan “urang”. Kata “kali” berarti sungai, sedangkan “urang” berarti udang.

Dengan demikian, Kaliurang secara harfiah dapat dimaknai sebagai “sungai udang”. Nama tersebut kemudian melekat pada kawasan di lereng Gunung Merapi dan menjadi nama yang dikenal luas hingga sekarang.

Jalan Kaliurang sendiri pada dasarnya merujuk pada jalur yang menjadi penghubung utama menuju kawasan Kaliurang.

Kawasan tersebut berada di kaki Gunung Merapi dan berkembang sebagai salah satu tujuan wisata yang dikenal masyarakat.

Baca juga  Kisah Mistis Ring Road Barat Jogja: Dikenal Jalur Angker hingga Ada Penumpang Gaib

Pada Masa Kolonial, Jalan Kaliurang Dikenal sebagai Pakemweg

Sebelum dikenal dengan nama Jalan Kaliurang, ruas jalan tersebut memiliki nama Pakemweg pada masa kolonial Hindia Belanda.

Nama Pakemweg berkaitan dengan batas pembangunan jalan raya beraspal pada masa tersebut. Pemerintah kolonial membangun jalur itu hingga wilayah Kapanewon Pakem sehingga ruas jalan yang tersedia kemudian dikenal dengan sebutan Pakemweg.

Perkembangan kawasan di lereng Gunung Merapi kemudian turut mengubah arah pembangunan jalan tersebut. Pada era 1920-an, kawasan lereng Merapi mulai dibuka sebagai tempat peristirahatan atau tetirah bagi para pejabat Belanda.

Pembukaan kawasan tersebut mendorong pembangunan jalan untuk dilanjutkan lebih jauh. Ruas yang sebelumnya berakhir di wilayah Pakem akhirnya diperpanjang hingga mencapai kawasan Kaliurang.

Perkembangan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya jalur menuju Kaliurang seperti yang dikenal saat ini.

Jalan Kaliurang Berkembang Menjadi Kawasan Wisata dan Pendidikan

Seiring perubahan zaman, fungsi Jalan Kaliurang tidak lagi sebatas jalur penghubung menuju kawasan lereng Merapi. Ruas jalan ini berkembang menjadi kawasan dengan beragam aktivitas masyarakat.

Kawasan Jakal kemudian dikenal memiliki karakter berbeda antara bagian atas dan bagian bawah.

Baca juga  Kulon Progo atau Kulonprogo? Ini Aturan Tulisan yang Benar

Pembagian tersebut banyak digunakan masyarakat dan mahasiswa untuk menggambarkan kondisi kawasan sepanjang Jalan Kaliurang.

Jakal Atas Identik dengan Kawasan Wisata

Jakal Atas merupakan bagian Jalan Kaliurang yang mengarah semakin dekat ke lereng Gunung Merapi. Kawasan ini memiliki karakter yang lebih kuat sebagai kawasan wisata dan tempat peristirahatan.

Di sepanjang kawasan tersebut terdapat destinasi wisata alam, termasuk Taman Wisata Kaliurang.

Selain itu, terdapat pula berbagai vila dan penginapan yang mendukung aktivitas wisatawan yang berkunjung ke kawasan lereng Merapi.

Jakal Atas juga menjadi kawasan pendidikan karena terdapat sejumlah perguruan tinggi. Salah satunya adalah Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia (UII).

Keberadaan destinasi wisata dan institusi pendidikan membuat kawasan ini memiliki aktivitas yang beragam, mulai dari kegiatan wisata hingga mobilitas mahasiswa.

Jakal Bawah Menjadi Kawasan Komersial dan Kuliner

Berbeda dengan Jakal Atas, bagian bawah Jalan Kaliurang yang lebih dekat dengan pusat Kota Yogyakarta berkembang sebagai kawasan komersial dan kuliner.

Kawasan ini dipenuhi berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Pusat perbelanjaan, kafe, hingga sentra kuliner kaki lima dapat ditemukan di sepanjang jalur tersebut.

Salah satu kawasan yang dikenal berada di bagian ini adalah area sekitar Mirota Pasaraya. Aktivitas komersial juga berkembang hingga kawasan sekitar Grha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Baca juga  Sejarah Selokan Mataram, Jejak Taktik Sri Sultan HB IX Selamatkan Rakyat dari Romusha

Kehadiran UGM turut memperkuat karakter Jakal Bawah sebagai kawasan yang ramai oleh aktivitas mahasiswa dan masyarakat.

Kondisi tersebut membuat ruas Jalan Kaliurang menjadi salah satu kawasan yang terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Dari Jalur Menuju Lereng Merapi hingga Menjadi Ikon Kawasan Utara Yogyakarta

Sejarah Jalan Kaliurang menunjukkan perubahan fungsi sebuah jalur yang awalnya dibangun hingga wilayah Pakem menjadi akses menuju kawasan lereng Gunung Merapi.

Nama Kaliurang sendiri berkaitan dengan makna “sungai udang”, sedangkan sejarah jalannya tidak terlepas dari keberadaan Pakemweg pada masa kolonial Hindia Belanda.

Perpanjangan pembangunan jalan pada era 1920-an kemudian membuka akses yang lebih jauh menuju kawasan Kaliurang.

Kini, Jalan Kaliurang atau Jakal tidak hanya dikenal sebagai jalan menuju destinasi wisata. Ruas ini telah berkembang menjadi kawasan yang mempertemukan aktivitas pendidikan, perdagangan, kuliner, tempat tinggal, dan pariwisata di wilayah utara Yogyakarta.

Perubahan tersebut menjadikan Jalan Kaliurang sebagai salah satu ruas jalan yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Sleman dan kawasan Yogyakarta.

Nah, itu tadi penjelasan soal sejarah, asal usul nama, hingga perkembangan Jalan Kaliurang (Jakal) di Yogyakarta.***

Berita Terbaru

Kisah Mistis Gereja Gothic Sayidan
Kenapa Disebut Gereja Gothic Sayidan? Ternyata Ini Misteri dan Sejarah Bangunan Sebenarnya
Asal Usul Taman Siswa Jogja
Asal Usul Nama Taman Siswa di Jogja, Mengingat Kembali Perjuangan Ki Hadjar Dewantara
6057855748592571425
Warga Tolak Portal Besi Exit Tol Banyurejo, Khawatir UMKM dan Nilai Tanah Anjlok
Arus kendaraan di Yogyakarta meningkat saat long weekend. Smart Province mencatat 322.909 kendaraan pada 15 Agustus 2026.
322.909 Kendaraan Masuk dan Keluar DIY dalam 2 Hari Long Weekend HUT RI 2026
Penumpang Kereta
Long Weekend HUT RI, 41.379 Penumpang KA Jarak Jauh Tercatat Padati Stasiun Yogyakarta

Sedang Banyak Dibaca

IMG_20260811_052315_072

Vaksinasi Rabies Gratis di Kota Yogyakarta, Ini Jadwal dan Lokasinya

Arus kendaraan di Yogyakarta meningkat saat long weekend. Smart Province mencatat 322.909 kendaraan pada 15 Agustus 2026.

322.909 Kendaraan Masuk dan Keluar DIY dalam 2 Hari Long Weekend HUT RI 2026

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

agto-nugroho-NYMRvWePmn8-unsplash (5)

Pesta Rakyat Jogja 17 Agustus 2026 di Titik Nol KM dan Malioboro, Ada Kibar 1.000 Merah Putih

WhatsApp Image 2026-08-15 at 16.19

Menikmati Sunset dari Ketinggian, Rooftop Skybar ibis Styles Yogyakarta Kembali Hadir dengan Panorama 270 Derajat