
TUGUJOGJA – Jogja Corruption Watch (JCW) menyoroti lambatnya proses verifikasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk tingkat SMA/SMK Negeri di Yogyakarta. JCW menyatakan bahwa banyak calon siswa mengalami keterlambatan verifikasi data meski sudah mendaftar lebih dari dua hari sebelumnya.
Deputi Pengaduan Masyarakat JCW, Baharuddin Kamba, menjelaskan bahwa pihaknya menerima sejumlah aduan dari orang tua dan siswa yang merasa kecewa karena proses verifikasi berlangsung terlalu lama.
Ia menegaskan bahwa lambatnya verifikasi dapat mengganggu kelancaran proses seleksi dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Proses Verifikasi SPMB SMA/SMK di Yogyakarta
“JCW menerima laporan dari warga bahwa ada siswa yang baru diverifikasi setelah empat hari memasukkan berkas secara daring. Proses ini jelas tidak efisien dan perlu perhatian khusus,” tegas Baharuddin.
JCW mencatat bahwa kendala utama terletak pada jumlah petugas verifikator yang tidak sebanding dengan volume pendaftar. Baharuddin menyebutkan bahwa dalam satu hari bisa ada hingga 750 pendaftar yang masuk ke sistem. Ia menilai bahwa jumlah ini membutuhkan tenaga verifikator yang jauh lebih banyak agar proses tidak menumpuk.
“Kami temukan ada siswa yang memasukkan data sejak Senin, tapi baru diverifikasi Kamis malam. Ini bisa terjadi karena jumlah berkas sangat banyak, ditambah penggunanya pun membludak. Maka, sangat logis jika solusi tercepat adalah menambah tenaga verifikator,” terang Baharuddin.
JCW mendorong Dinas Pendidikan DIY untuk segera mengevaluasi dan menyesuaikan jumlah verifikator berdasarkan jumlah pendaftar harian. Dengan sistem berbasis daring yang kompleks dan waktu terbatas, JCW menilai penambahan verifikator menjadi hal mutlak untuk menjaga kecepatan dan akurasi proses.
Pantauan JCW
Sementara itu, pantauan JCW terhadap pelaksanaan SPMB tingkat SMP Negeri di Kota Yogyakarta menunjukkan situasi yang relatif terkendali dan lancar.
JCW melakukan pemantauan langsung di SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 6 Yogyakarta. Meskipun sempat terjadi gangguan server, pihak sekolah dan teknisi berhasil mengatasi masalah dalam waktu singkat.
“Hingga pukul 10.30 WIB, kami mencatat jarak terdekat dari pendaftar ke SMP Negeri 6 adalah 137 meter, sedangkan ke SMP Negeri 5 berjarak 159 meter. Proses berjalan lancar dan tidak ada kendala serius,” ujar Baharuddin.
JCW juga melakukan uji petik terhadap beberapa berkas dari jalur zonasi (radius tempat tinggal) untuk memastikan validitas data. Dari hasil pemeriksaan tersebut, JCW tidak menemukan indikasi manipulasi data, seperti penggunaan status famili lain ataupun penerbitan Kartu Keluarga yang berusia kurang dari satu tahun.
Dengan melihat dinamika di lapangan, JCW berharap agar seluruh tahapan SPMB, baik tingkat SMP maupun SMA/SMK Negeri di Daerah Istimewa Yogyakarta, bisa berlangsung dengan lebih lancar. JCW menekankan pentingnya respons cepat dari petugas terhadap setiap aduan dan keluhan dari masyarakat.
“Selain memperkuat sistem, kami meminta agar petugas lebih responsif terhadap laporan masyarakat. Tujuannya agar kepercayaan terhadap sistem penerimaan siswa baru tetap terjaga,” pungkas Baharuddin.
JCW menegaskan bahwa transparansi, kecepatan, dan keadilan dalam sistem verifikasi menjadi kunci dalam menciptakan proses seleksi yang bersih dan akuntabel.
Oleh karena itu, JCW mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengawal jalannya SPMB agar benar-benar memberi keadilan akses pendidikan bagi semua siswa di Yogyakarta. (ef linangkung)