
TUGU JOGJA – Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menghadirkan solusi pengelolaan sampah berbasis komunitas di Kelurahan Muja Muju pada Rabu (22/4/2026) dalam rangka peringatan Hari Bumi. Program ini melibatkan 12 RW dengan fokus pada edukasi dan praktik langsung pengolahan sampah organik menggunakan metode sederhana seperti LOSIDA (Lodong Sisa Dapur), pendekatan cacing, hingga biokatalis. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UAJY.
Kolaborasi Lintas Disiplin dan Komunitas
Program ini digagas melalui kolaborasi antara Fakultas Teknobiologi (FTB) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UAJY bersama LSM Shind. Keterlibatan lintas disiplin ini bertujuan menghadirkan solusi yang tidak hanya berbasis ilmu pengetahuan, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Tim akademisi yang terlibat antara lain Monika Ruwaimana, Ph.D.; Dra. Indah Muwarni, M.Si.; Prof. G. Arum Yudarwati, Ph.D.; serta Alexander Beny Pramudyanto, M.Si. Mereka turut didampingi mahasiswa FTB dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. Sementara itu, perwakilan LSM Shind seperti Dhara, Alwi, dan Anggi aktif mendampingi warga selama proses diskusi dan praktik berlangsung.
Fokus pada Metode Sederhana: LOSIDA hingga Biokatalis
Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mempraktikkan berbagai metode pengolahan sampah organik. Salah satu metode yang menjadi perhatian adalah LOSIDA atau Lodong Sisa Dapur, yang dinilai praktis dan mudah diterapkan di rumah tangga.
Diskusi berlangsung secara terbuka dengan mengangkat pengalaman nyata warga. Salah satu warga, Yanti, menyampaikan kenyamanannya menggunakan metode tersebut.
“Lebih enak menggunakan LOSIDA karena tidak perlu bungkuk-bungkuk kalau memasukan sampah,” ujar Yanti salah satu warga.
Selain LOSIDA, tim juga memperkenalkan metode pengolahan berbasis cacing serta penggunaan biokatalis untuk mempercepat proses dekomposisi sampah organik. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi pengolahan sekaligus menghasilkan produk turunan yang bermanfaat.
Antusiasme Warga dan Rencana Uji Coba
Minat warga terhadap metode alternatif terlihat dari respons peserta selama kegiatan. Ibu Heni, salah satu peserta, mengaku tertarik mencoba metode berbasis cacing meskipun awalnya merasa ragu.
Ia menilai metode tersebut memiliki potensi manfaat, terutama dari hasil kascing yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman. Sebagai tindak lanjut, peserta—khususnya kelompok ibu-ibu—akan melakukan uji coba selama lima minggu ke depan.
Hasil dari percobaan ini nantinya akan dibagikan sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama antarwarga. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Menuju Living Lab Sungai Yogyakarta
Kegiatan ini menjadi langkah awal menuju program yang lebih besar. UAJY telah menyiapkan pengembangan Living Lab Sungai Yogyakarta melalui hibah Bestari Saintek senilai Rp 465 juta.
Program tersebut akan dijalankan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta dan PT Danone, dengan jadwal pelaksanaan mulai Mei 2026 hingga Februari 2027. Living lab ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan solusi lingkungan berbasis riset dan praktik lapangan.
Pendekatan Solutif dan Berkelanjutan
Melalui kegiatan ini, UAJY menegaskan komitmennya dalam menghadirkan solusi yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga aplikatif di masyarakat. Pendekatan yang digunakan menekankan pada kemudahan adopsi, relevansi dengan kebutuhan warga, serta keberlanjutan dalam jangka panjang.
Pengelolaan sampah berbasis komunitas dinilai menjadi salah satu kunci dalam mengatasi persoalan lingkungan di tingkat lokal. Dengan melibatkan warga secara langsung, program ini diharapkan mampu menciptakan perubahan perilaku sekaligus memperkuat kesadaran kolektif terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.