12 Kasus Reaktif Selama Semester I 2026, Skrining Ibu Hamil Jadi Benteng Pertahanan Hepatitis B di Gunungkidul

Bagikan :
Januari hingga Juni 2026, sebanyak 1.645 ibu hamil telah mengikuti pemeriksaan. Hasilnya, sebanyak 12 orang dinyatakan reaktif Hepatitis B.

TUGU JOGJA — Di balik senyum para ibu hamil yang datang memeriksakan kandungan di puskesmas, tersimpan satu ikhtiar besar untuk melindungi generasi masa depan. Pemeriksaan kehamilan kini bukan lagi sekadar memastikan kondisi janin tumbuh sehat, tetapi juga menjadi garis pertahanan pertama untuk mencegah penularan Hepatitis B dari ibu kepada bayi sejak detik pertama kehidupan.

Kesadaran itulah yang terus diperkuat Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul melalui skrining rutin Hepatitis B bagi seluruh ibu hamil. Program tersebut menjadi strategi utama untuk menemukan kasus sedini mungkin, memberikan pengobatan secara tepat, sekaligus memutus mata rantai penularan penyakit yang masih menjadi perhatian dunia kesehatan.

Di tengah berbagai tantangan pengendalian penyakit menular, Hepatitis B tetap menjadi ancaman yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Penyakit ini memang kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi dapat berkembang menjadi gangguan hati kronis yang berujung pada komplikasi serius apabila tidak segera ditangani.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Zoonosis Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dr. Yuyun Ika Pratiwi, menjelaskan hepatitis terdiri atas beberapa jenis, yakni Hepatitis A, Hepatitis B, dan Hepatitis C. Ketiganya memiliki karakteristik penularan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pencegahan yang berbeda pula.

Menurut Yuyun, Hepatitis A menyebar melalui jalur oral akibat makanan dan minuman yang terkontaminasi, sanitasi lingkungan yang kurang baik, maupun perilaku hidup bersih yang belum optimal. Penyakit ini umumnya dapat sembuh dengan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Baca juga  Rumah Karbu Racing Jogja Terbakar Hebat, Api Diduga Berasal dari Mesin Blower

“Kabupaten Gunungkidul hingga saat ini belum menemukan kasus Hepatitis A,” ujarnya.

Meski demikian, perhatian pemerintah daerah justru lebih tertuju pada Hepatitis B dan Hepatitis C. Kedua jenis hepatitis tersebut memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi karena dapat menular melalui hubungan seksual, transfusi darah yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, hingga penularan dari ibu kepada bayi saat proses persalinan.

Karena alasan itulah, skrining ibu hamil menjadi langkah yang tidak bisa ditawar. Pemeriksaan tersebut memungkinkan tenaga kesehatan mengetahui kondisi ibu lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan sebelum virus berpindah kepada bayi yang akan dilahirkan.

“Dalam penanganannya, Hepatitis B dan Hepatitis C harus mengikuti standar pelayanan kesehatan dan prosedur yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan. Kami terus mengedepankan upaya pencegahan, salah satunya melalui skrining pada ibu hamil untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi,” kata Yuyun.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menunjukkan upaya deteksi dini terus berjalan secara konsisten. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 5.160 ibu hamil menjalani pemeriksaan Hepatitis B. Dari jumlah tersebut, petugas menemukan 17 ibu hamil dengan hasil reaktif.

Sementara itu, pada periode Januari hingga Juni 2026, sebanyak 1.645 ibu hamil telah mengikuti pemeriksaan. Hasilnya, sebanyak 12 orang dinyatakan reaktif Hepatitis B. Angka tersebut memang tidak besar jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan ibu hamil yang diperiksa. Namun, setiap kasus tetap menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan dua nyawa sekaligus, yakni ibu dan bayi yang dikandungnya.

Baca juga  Tradisi Utang di Warung Kelontong: Masih Jadi Andalan Warga dan Anak Kos Jogja di Tanggal Tua

Dinas Kesehatan pun tidak berhenti pada proses pemeriksaan semata. Seluruh pasien yang dinyatakan reaktif langsung masuk dalam sistem pemantauan agar perkembangan kesehatannya terus terkontrol.

“Untuk yang reaktif ini kemudian terus kami pantau perkembangannya, rutin pemeriksaan dan pengobatan,” jelas Yuyun.

Ia mengatakan keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh respons tubuh masing-masing pasien serta tingkat keparahan penyakit ketika pertama kali terdeteksi. Oleh sebab itu, pemeriksaan berkala menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan pengobatan.

Semakin cepat penyakit ditemukan, semakin besar peluang pasien menjalani terapi secara optimal sekaligus menekan risiko penularan kepada orang lain.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dr. Wanda Abrar, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap hepatitis sebagai penyakit biasa. Meskipun penyakit tersebut dapat dikendalikan melalui pengobatan jangka panjang, hepatitis tetap berpotensi menimbulkan komplikasi berat apabila pasien terlambat mendapatkan penanganan.

“Hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat hepatitis di Gunungkidul. Namun kewaspadaan tetap harus ditingkatkan melalui edukasi, deteksi dini, dan pemantauan pasien,” katanya.

Wanda menjelaskan Dinas Kesehatan terus memperkuat berbagai strategi pengendalian hepatitis secara menyeluruh. Upaya tersebut dimulai dari edukasi kepada masyarakat mengenai faktor risiko penularan, pemeriksaan dini melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemantauan pasien yang sedang menjalani terapi, hingga pemberian vaksinasi kepada bayi yang lahir dari ibu dengan hasil reaktif Hepatitis B maupun Hepatitis C.

Baca juga  Kasus DBD Gunungkidul Turun pada 2026, Dinkes Tetap Siaga: Ancaman Nyamuk Aedes aegypti Masih Mengintai, Warga Diminta Waspada

Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun perlindungan sejak awal kehidupan. Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis membutuhkan penanganan sesuai prosedur agar peluang penularan dapat ditekan semaksimal mungkin.

Di sisi lain, seluruh puskesmas di Kabupaten Gunungkidul juga mendapat instruksi untuk lebih aktif mengingatkan masyarakat, khususnya ibu hamil, agar menjalani pemeriksaan darah secara rutin. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dalam pelayanan antenatal sekaligus investasi kesehatan bagi ibu dan bayi.

Tidak hanya memperkuat pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan juga melakukan validasi data hepatitis dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Proses tersebut bertujuan mencocokkan setiap laporan kasus sehingga data yang dihasilkan benar-benar akurat dan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan.

Data yang valid akan mempermudah pemerintah menentukan langkah pencegahan, memperkuat layanan pengobatan, hingga mengevaluasi efektivitas program pengendalian hepatitis di Kabupaten Gunungkidul.

“Dinas juga melakukan validasi data untuk mencocokkan laporan kasus dari masing-masing fasilitas kesehatan sehingga menghasilkan data yang akurat,” ujar Wanda.

Ia menegaskan penguatan layanan pengobatan akan terus dilakukan agar risiko penularan hepatitis di tengah masyarakat semakin menurun. Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat, Dinas Kesehatan berharap setiap kasus dapat ditemukan lebih cepat, ditangani lebih baik, serta tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih besar bagi kesehatan masyarakat.

“Penguatan layanan pengobatan juga dilakukan untuk menekan risiko penularan hepatitis di masyarakat,” tutupnya.(ef linangkung)

Berita Terbaru

Screenshot 2026-07-12 131344
Meteor Hijau Gegerkan Langit Yogyakarta, Ahli Pastikan Bolide Berukuran Besar Melintas dan Berpotensi Sisakan Meteorit
pexels-olly-3808000
Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswa UAD Saat KKN Berujung Laporan Polisi, Korban Alami Trauma hingga Takut Kembali ke Kampus
pexels-pixabay-40568 (1)
12 Kasus Reaktif Selama Semester I 2026, Skrining Ibu Hamil Jadi Benteng Pertahanan Hepatitis B di Gunungkidul
photo_6237676447204053750_y
Karyawan Konveksi di Bantul Nekat Curi Uang Majikan Berkali-kali, Guru Baru Sadar Saat Hendak Belanja, Polisi Ringkus Pelaku dalam Hitungan Jam
umy
Dugaan Pelecehan Dosen Farmasi UMY Viral di Threads, Percakapan Bernada Tak Pantas Picu Desakan agar Kampus Bertindak Tegas

TERPOPULER

scott-graham-OQMZwNd3ThU-unsplash (1)
Contoh SK Panitia MPLS SD 2026/2027 Lengkap dengan Susunan Panitia dan Format Resmi
falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)
Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian
solo-jogja
Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun
fajar-grinanda-Fq22SDBudRA-unsplash
Demo Buruh Penolakan UMP 2026 Ada di Mana Saja? Ini Lokasi, Jadwal, dan Tuntutan Lengkapnya
mikhail-pavstyuk-EKy2OTRPXdw-unsplash
Cara Menyusun RPP Kurikulum Merdeka 2025 Beserta Panduan Struktur, Prinsip, dan Cara Unduh Modul Ajar