
TUGU JOGJA– Langit malam Yogyakarta mendadak berubah menjadi panggung pertunjukan alam yang mengundang decak kagum sekaligus rasa penasaran. Sabtu (11/7/2026) sekitar pukul 21.41 WIB, sebuah cahaya hijau menyala melesat sangat cepat di angkasa. Dalam hitungan detik, benda langit itu memecah gelapnya malam sebelum akhirnya menghilang di balik cakrawala. Kemunculan cahaya terang tersebut langsung menghebohkan warga.
Berbagai laporan bermunculan dari sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Media sosial dipenuhi unggahan, sementara grup percakapan warga ramai membahas fenomena yang jarang terjadi itu. Salah satu unggahan yang paling banyak menyita perhatian berasal dari akun media sosial @merapiuncover. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa benda langit berwarna hijau terlihat jelas melintas dari kawasan Simpang Patung Elang, Maguwoharjo, Sleman.
Seorang warga yang melintas di lokasi mengaku menyaksikan langsung detik-detik kemunculan cahaya tersebut. “Tadi pas lagi di jalan lewat area Patung Elang Maguwoharjo, tiba-tiba di langit arah utara ada cahaya hijau terang jatuh ke bawah. Cepat sekali kejadiannya,” ujarnya. Karena sedang mengendarai kendaraan, saksi mata itu tidak sempat mengabadikan momen langka tersebut melalui foto maupun video. Namun kesaksiannya segera menyebar luas dan memicu rasa penasaran masyarakat.
Tidak hanya warga Sleman, laporan serupa juga datang dari berbagai daerah lain. Banyak orang mengaku melihat cahaya hijau terang melintas sangat cepat di langit malam. Sebagian bahkan mendengar suara dentuman beberapa saat setelah cahaya itu menghilang.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi. Ada yang menduga cahaya itu berasal dari meteor, satelit yang jatuh, bahkan tidak sedikit yang mengaitkannya dengan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat.
Di tengah derasnya berbagai dugaan itu, ahli astronomi dari Griya Antariksa Astronomi Yogyakarta, Mutoha, memastikan bahwa benda langit yang terlihat tersebut memang merupakan meteor. “Ya, dari informasi yang saya terima itu positif meteor, tepatnya termasuk bolide,” katanya.
Bolide, Meteor yang Lebih Besar dari Fireball
Mutoha menjelaskan bahwa fenomena yang terlihat di langit Yogyakarta bukan sekadar fireball atau bola api biasa. Berdasarkan karakteristik cahaya yang terlihat dan adanya laporan suara dentuman, meteor tersebut masuk kategori bolide.
Menurut dia, bolide merupakan meteor berukuran relatif besar yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sangat tinggi sehingga menghasilkan cahaya luar biasa terang. “Namanya tetap meteor, tetapi jenisnya bolide, bukan sekadar fireball,” jelasnya.
Ia mengatakan kemunculan bolide memang jauh lebih jarang dibanding meteor biasa. Karena ukurannya lebih besar, bolide mampu menghasilkan pancaran cahaya yang sangat terang dan dalam beberapa kasus dapat menimbulkan suara dentuman ketika memasuki atmosfer.
Suara Dentuman Menjadi Petunjuk Ukuran Meteor
Fenomena kali ini juga berbeda dibanding kemunculan meteor hijau yang sempat terlihat sekitar satu bulan sebelumnya. Menurut Mutoha, perbedaan paling mencolok terletak pada adanya laporan suara dentuman. “Iya, kali ini sedikit berbeda karena disertai dentuman,” katanya.
Suara dentuman tersebut menjadi salah satu indikator bahwa ukuran meteor yang melintas kemungkinan jauh lebih besar dibanding meteor biasa. “Biasanya kalau ada suara dentuman, setidaknya ukurannya minimal sekitar satu meter,” ujarnya.
Meski demikian, hingga kini belum ada laporan resmi mengenai lokasi pasti jatuhnya benda langit tersebut. “Kalau laporan jatuh belum ada. Tetapi kemungkinan besar menyisakan meteorit,” katanya.
Cahaya Hijau Ungkap Kandungan Logam Meteor
Warna hijau terang yang menjadi ciri khas meteor tersebut juga memiliki penjelasan ilmiah. Mutoha mengatakan warna hijau muncul akibat kandungan unsur logam tertentu di dalam meteor yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
“Dari warnanya mengindikasikan meteor banyak mengandung unsur nikel atau magnesium,” katanya.
Gesekan luar biasa hebat antara meteor dan atmosfer menyebabkan logam tersebut berpijar sehingga menghasilkan cahaya hijau yang sangat terang.
Karakteristik tersebut juga mengindikasikan bahwa benda langit tersebut termasuk kelompok meteor besi.
“Ini termasuk meteor besi, bukan meteor batuan, sehingga ada kemungkinan menyisakan meteorit di tanah,” ujarnya.
Terlihat dari Sejumlah Daerah di Pulau Jawa
Menariknya, fenomena tersebut ternyata tidak hanya terlihat dari wilayah Yogyakarta.
Mutoha mengatakan laporan pengamatan juga datang dari berbagai daerah lain di Pulau Jawa.
“Iya, terlihat di sebagian besar Pulau Jawa, termasuk Jogja,” katanya.
Ia menyebut laporan pengamatan berasal dari wilayah Yogyakarta, Brebes, Cirebon, Purwakarta, Bandung hingga Madiun.
Luasnya wilayah pengamatan menunjukkan bahwa bolide tersebut melintas pada ketinggian yang cukup tinggi sehingga dapat diamati dari banyak daerah secara bersamaan.
Meteor Sporadis, Sulit Diprediksi
Banyak warga kemudian bertanya apakah kemunculan meteor seperti ini sebenarnya dapat diprediksi.
Mutoha menjelaskan bahwa meteor yang muncul kali ini termasuk meteor sporadis sehingga tidak berkaitan dengan hujan meteor tahunan.
“Secara pasti tidak bisa diprediksi. Kalau hujan meteor memang ada periode aktifnya, tetapi kapan meteor muncul tetap tidak bisa dipastikan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa meteor sporadis umumnya berasal dari pecahan asteroid yang bergerak bebas di tata surya.
“Sumber meteor adalah meteoroid. Kalau ukurannya besar umumnya berasal dari sabuk asteroid,” ujarnya.
Karena tidak berkaitan dengan hujan meteor, arah maupun waktu kemunculannya tidak mengikuti pola tertentu.
“Karena tidak bersesuaian dengan hujan meteor, peristiwa seperti ini disebut meteor sporadis,” katanya.
Warga Diminta Tidak Panik
Meski sempat mengundang kekhawatiran, Mutoha meminta masyarakat tetap tenang. Menurut dia, fenomena meteor merupakan peristiwa alam yang lazim terjadi.
“Ya, fenomena biasa. Itu jatuhan meteor, tetapi yang semalam memang cukup besar,” katanya.
Ia menjelaskan sebagian besar meteor akan habis terbakar akibat gesekan sangat kuat dengan atmosfer sehingga tidak pernah mencapai permukaan Bumi.
“Umumnya meteor habis terkikis atmosfer sebelum sampai tanah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua meteor meninggalkan meteorit. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan apabila melihat fenomena serupa.
“Tidak semua meteor menyisakan meteorit karena sebagian besar habis saat bergesekan dengan atmosfer,” katanya.
Langit Gunungkidul Pernah Digegerkan Fenomena Serupa
Fenomena meteor sebenarnya bukan kali pertama menggegerkan langit Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada pertengahan Juni 2026, warga Gunungkidul juga menyaksikan cahaya terang menyerupai bola api dengan ekor panjang meluncur di langit malam.
Saat itu, sekitar pukul 22.30 WIB, seorang warga Kapanewon Wonosari bernama Agus mengaku melihat langsung benda bercahaya tersebut. Ia mengatakan cahaya itu bergerak cepat dari arah utara menuju barat Kota Wonosari.
“Saya melihat cahaya seperti bola api meluncur di langit. Arahnya ke barat Kota Wonosari. Saya sempat memperhatikan beberapa saat karena cahayanya cukup terang dan berbeda dengan cahaya biasa,” katanya.
Agus mengaku terus mengikuti arah cahaya tersebut hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
“Saya melihatnya sampai hilang. Sepertinya jatuh di wilayah Piyungan karena tiba-tiba cahayanya lenyap di daerah itu,” ujarnya.
Kemunculan fenomena tersebut saat itu juga memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat karena bertepatan dengan datangnya Bulan Suro. Namun para astronom kembali menegaskan bahwa kemunculan meteor merupakan fenomena astronomi yang memiliki penjelasan ilmiah dan tidak berkaitan dengan mitos ataupun pertanda tertentu.
Bumi Setiap Hari Dihujani Puluhan Ton Material Antariksa
Mutoha mengungkapkan fakta menarik bahwa Bumi sebenarnya setiap hari menerima material dari luar angkasa. Menurut perkiraan para astronom, hampir 50 ton material antariksa memasuki atmosfer Bumi setiap harinya.
“Tiap hari selalu ada meteor jatuh. Menurut perkiraan hampir 50 ton batuan menghujani Bumi setiap hari, mulai ukuran debu hingga beberapa meter. Namun banyak yang tidak terlihat karena terjadi pada siang hari atau ukurannya sangat kecil,” katanya.
Karena itu, fenomena meteor sebenarnya bukan kejadian langka. Yang membuat peristiwa Sabtu malam menjadi sangat istimewa adalah ukuran meteor yang relatif besar, warna hijaunya yang mencolok, jangkauan pengamatannya yang sangat luas, serta adanya laporan suara dentuman yang mengiringi kemunculannya.
Hingga Minggu (12/7/2026), belum ada laporan resmi mengenai lokasi jatuhnya meteorit maupun temuan serpihan batuan dari peristiwa tersebut. Para astronom memperkirakan analisis lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan lintasan, ukuran, serta kemungkinan adanya meteorit yang berhasil mencapai permukaan Bumi.
Sementara itu, bagi ribuan warga yang sempat mendongakkan kepala ke langit malam, beberapa detik cahaya hijau yang membelah angkasa itu telah menjadi pengalaman langka yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup. Di balik kilatan dramatis yang memukau mata, alam kembali mengingatkan manusia bahwa semesta terus bergerak, menghadirkan kejutan-kejutan yang tak selalu dapat diprediksi.(ef linangkung)