
TUGUJOGJA – Aktivitas Gunung Merapi menunjukkan peningkatan signifikan selama periode 20–26 Maret 2026.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan status gunung masih berada pada level “SIAGA” dengan potensi bahaya yang perlu diwaspadai.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa aktivitas visual didominasi oleh guguran lava dan emisi asap dari puncak gunung.
Selama periode pengamatan, kondisi cuaca umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sementara siang hingga sore tertutup kabut.
Gunung Merapi terpantau mengeluarkan asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tekanan lemah, dan tinggi kolom antara 10 hingga 150 meter.
Aktivitas guguran lava tercatat cukup intens, dengan 79 kali guguran ke arah Kali Krasak sejauh maksimal 1.900 meter, 9 kali ke Kali Bebeng sejauh 1.800 meter, serta 64 kali ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak hingga 2.000 meter.
BPPTKG juga mencatat perubahan morfologi pada kubah Barat Daya akibat aktivitas guguran lava, sementara kubah Tengah relatif stabil.
“Berdasarkan analisis foto udara terbaru per 16 Maret 2026, volume kubah lava tercatat sangat besar kubah Barat Daya: 4.020.600 m³ dan kubah Tengah: 2.368.800 m³,” ujar Agus.
Kegempaan Vulkanik Meningkat
Peningkatan aktivitas juga terlihat dari data kegempaan yang mengalami lonjakan dibandingkan periode sebelumnya.
Dalam rentang 20–26 Maret 2026, tercatat:
- 19 gempa Vulkanik Dangkal (VTB)
- 626 gempa Fase Banyak (MP)
- 1.024 gempa Guguran (RF)
- 1 gempa Low Frequency (LF)
- 8 gempa Tektonik (TT)
Data tersebut menunjukkan adanya aktivitas magma yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung.
Deformasi dan Curah Hujan
Meskipun aktivitas kegempaan meningkat, hasil pemantauan deformasi menggunakan EDM dan GPS menunjukkan kondisi relatif stabil.
Pengukuran EDM di sektor barat laut berada pada kisaran 3.840,216 hingga 3.840,225 meter. Sementara itu, baseline GPS Labuhan–Jrakah tercatat sekitar 7.108,13 meter.
Di sisi lain, curah hujan juga menjadi perhatian. Hujan dengan intensitas tertinggi terjadi pada 26 Maret 2026 di Pos Kaliurang dengan curah mencapai 31,18 mm/jam selama 23 menit.
Kondisi ini meningkatkan potensi bahaya lahar, meskipun hingga kini belum terpantau adanya aliran lahar tambahan.
Status SIAGA dan Rekomendasi
BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas Gunung Merapi masih tinggi dalam bentuk erupsi efusif dengan suplai magma yang tetap berlangsung.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi:
- Guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya hingga 7 kilometer
- Potensi bahaya di sektor tenggara hingga 5 kilometer
- Lontaran material hingga radius 3 kilometer jika terjadi erupsi eksplosif
Pemerintah daerah di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diminta meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk memperkuat sistem evakuasi.
Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di zona bahaya serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar dan abu vulkanik, terutama saat terjadi hujan.
BPPTKG menyatakan akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi dan melakukan evaluasi lanjutan apabila terjadi perubahan signifikan.