
TUGUJOGJA – Suasana pagi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gembongan, Kalurahan Sentolo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendadak terasa berbeda pada Rabu (28/1/2026).
Di antara deretan siswa yang berlarian menuju kelas dengan tas punggung berwarna-warni, tampak seorang bocah perempuan melangkah perlahan sambil menggendong balita di pelukannya.
Bocah itu bernama Ariendra Ralea (9), siswi kelas 3 SDN Gembongan. Setiap pagi, Ralea tidak hanya membawa buku pelajaran dan alat tulis, tetapi juga menggendong adik kandungnya yang masih berusia tiga tahun. Pemandangan itu bukan terjadi sekali dua kali, melainkan hampir setiap hari.
Ketegaran menyatu dalam langkah kecil Ralea. Di usia yang seharusnya diisi dengan bermain dan tertawa bersama teman sebaya, Ralea justru memikul tanggung jawab besar yang lazimnya diemban orang dewasa. Ia menjalani hari-hari sebagai kakak, pengasuh, sekaligus penopang keluarga kecilnya.
Kepala SDN Gembongan, Pri Hastuti Komarul, mengungkapkan bahwa Ralea awalnya hanya membawa adiknya ke sekolah dua kali dalam sepekan. Namun, seiring memburuknya kondisi keluarga, kebiasaan itu berubah menjadi rutinitas harian.
โAwalnya cuma dibawa dua kali seminggu, namun sekarang hampir setiap hari,โ ujar Hastuti kepada wartawan.
Ralea terpaksa membawa adiknya, Reyfan (3), ke sekolah karena kondisi sang ibu, Rubiyanti (36), yang tengah berjuang melawan kanker payudara.
Penyakit itu menggerogoti kekuatan fisik Rubiyanti, yang selama ini berjuang seorang diri membesarkan tiga anaknya setelah menjalani peran sebagai orang tua tunggal.
Sejak enam bulan terakhir, Rubiyanti harus menjalani rangkaian kemoterapi di RSPAU Hardjolukito, Bantul. Proses pengobatan yang panjang dan melelahkan itu membuatnya tidak lagi sanggup menjaga anak-anaknya di rumah dari pagi hingga malam hari.
Keterbatasan ekonomi semakin mempersempit pilihan keluarga tersebut. Rubiyanti tidak memiliki kerabat dekat yang dapat membantu menjaga anak-anaknya. Dalam situasi terdesak itulah, Ralea mengambil keputusan berat yang mengubah hidupnya.
Menurut Hastuti, Rubiyanti sempat meminta Ralea untuk tidak bersekolah sementara waktu agar bisa menjaga adik-adiknya selama ia menjalani kemoterapi. Namun, Ralea menolak permintaan itu dengan tegas.
โLea menolak karena takut ketinggalan pelajaran di sekolah,โ tutur Hastuti.
Penolakan itu justru menunjukkan tekad kuat Ralea untuk tetap mengenyam pendidikan di tengah badai kehidupan. Akhirnya, Rubiyanti menghubungi pihak sekolah dan memohon izin agar Ralea diperbolehkan membawa salah satu adiknya ke sekolah.
Secara aturan, sekolah tidak mengizinkan siswa membawa kerabat ke lingkungan belajar. Namun, pihak sekolah memilih mengedepankan empati dan kemanusiaan. Hastuti memberikan izin khusus setelah mempertimbangkan kondisi keluarga Ralea yang sangat memprihatinkan.
Sejak saat itu, Reyfan setia menemani kakaknya selama berada di sekolah. Setiap pagi, Ralea bersepeda sejauh sekitar satu kilometer dari rumahnya menuju rumah seorang teman.
Ia menitipkan sepedanya di sana, lalu melanjutkan perjalanan ke sekolah bersama adiknya dengan diantar orang tua temannya menggunakan sepeda motor. Jarak dari rumah teman tersebut ke sekolah lebih dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Saat pulang sekolah, Ralea kembali berjalan kaki bersama adiknya menuju rumah temannya. Setelah itu, ia membonceng Reyfan menggunakan sepeda hingga tiba di rumah mereka.
Sebagai kakak, Ralea selalu mengemong dan menjaga adiknya selama berada di sekolah. Ia mengawasi Reyfan saat mengikuti pelajaran di kelas, bahkan ketika mengikuti kegiatan Pramuka. Meski harus membagi perhatian antara pelajaran dan adiknya, Ralea tetap menunjukkan ketekunan yang luar biasa.
Guru-guru mengenal Ralea sebagai siswi yang rajin, sopan, dan tidak pernah mengeluh. Ia tetap mengikuti pelajaran dengan serius, mencatat, dan mengerjakan tugas sekolah seperti siswa lainnya. Di balik wajah polosnya, tersimpan ketabahan yang sulit dibayangkan dimiliki anak seusianya.
Sementara itu, Reyfan dikenal cukup pendiam. Balita itu sesekali bermain di teras kelas atau di lapangan sekolah saat merasa bosan. Para guru turut memberikan perhatian ekstra agar Reyfan tetap aman dan nyaman selama berada di lingkungan sekolah.
Kisah perjuangan Ralea perlahan menyentuh hati banyak pihak. Keteguhan bocah kecil itu akhirnya mengetuk pintu kepedulian para wakil rakyat. Pada Rabu (28/1/2026) siang, jajaran Komisi IV DPRD Kulon Progo mendatangi SDN Gembongan untuk menemui Ralea secara langsung.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV DPRD Kulon Progo menyerahkan bantuan tali kasih kepada keluarga Ralea sebagai bentuk kepedulian. Kehadiran para legislator itu menjadi secercah harapan di tengah kesulitan yang melilit keluarga kecil tersebut.
Komisi IV DPRD Kulon Progo memastikan bahwa Ralea dan keluarganya telah terdaftar dalam sejumlah program bantuan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.
Bantuan tersebut mencakup akses layanan kesehatan untuk mendukung pengobatan Rubiyanti serta bantuan sosial untuk meringankan beban ekonomi keluarga.
Tidak berhenti di situ, Komisi IV juga menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan kelanjutan pendidikan Ralea.
Para wakil rakyat itu berjanji akan memastikan Ralea tetap memperoleh haknya sebagai anak, yakni belajar dengan layak tanpa harus menanggung beban hidup yang terlalu berat.
Kisah Ralea menjadi potret nyata ketimpangan sosial yang masih terjadi di sekitar kita. Di balik bangku sekolah dan buku pelajaran, masih ada anak-anak yang harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup. Keteguhan Ralea tidak hanya mengundang rasa haru, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya empati dan kepedulian sosial.
Di tengah derita dan keterbatasan, langkah kecil Ralea terus melangkah. Ia berjalan perlahan sambil menggendong adiknya, membawa harapan bagi masa depan keluarganya.
Ketabahan bocah kelas 3 SD itu menjadi pengingat bahwa di balik kesederhanaan, tersimpan kekuatan besar yang mampu menggerakkan nurani banyak orang.