
TUGUJOGJA– Langit cerah di kawasan Kebonagung, Imogiri, Bantul, akhir Juni 2026 akan menjadi arena pertarungan kreativitas, ketangkasan, dan kebanggaan daerah dalam gelaran Festival Olahraga Masyarakat Daerah (Forda) II DIY 2026. Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) DIY adalah penyelenggaranya.
Mengusung tema Bergerak untuk Jogja Bugar dan Sehat dengan tagline Masyarakat Bugar dan Sehat, Jogja Hebat, Forda II DIY 2026 hadir sebagai ruang besar bagi masyarakat untuk membudayakan olahraga sekaligus memperkuat persatuan, keguyuban, dan semangat kebersamaan melalui aktivitas yang sehat dan menggembirakan.
Salah satu cabang olahraga masyarakat yang pasti menyedot perhatian publik adalah lomba layang-layang oleh Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) DIY.
Ribuan pasang mata akan tertuju ke lapangan Kebonagung, Imogiri, pada Minggu, 28 Juni 2026 mulai pukul 10.00 WIB. Berbagai karya terbaik para pelayang dari sejumlah kabupaten dan kota di DIY mengudara menghiasi cakrawala Bantul.
Partisipasi dalam Forda II DIY 2026
Ketua Pelangi DIY, Markus Purnomo Adi, menegaskan bahwa partisipasi dalam Forda II bukan sekadar perlombaan untuk mencari juara. Agenda ini juga menjadi momentum penting untuk melestarikan budaya bermain layang-layang.
“Forda menjadi wadah yang sangat baik untuk memperkenalkan olahraga masyarakat kepada generasi muda sekaligus membangun semangat kebersamaan. Layang-layang bukan hanya permainan, tetapi juga seni, kreativitas, dan olahraga yang membutuhkan keterampilan serta ketekunan,” ujar Markus.
Menurut Markus, Pelangi DIY sebagai salah satu induk olahraga masyarakat di bawah naungan Kormi DIY berkomitmen penuh menyukseskan Forda II DIY 2026.
Melalui ajang ini, pihaknya ingin menunjukkan bahwa olahraga masyarakat mampu menghadirkan hiburan berkualitas sekaligus membangun karakter masyarakat yang sehat dan produktif.
Pada Forda II DIY 2026, Pelangi DIY akan mempertandingkan tiga kategori utama yang selama ini menjadi favorit para pelayang.
- Layang-layang dua dimensi (2D) yang menonjolkan keindahan visual, kreativitas desain, dan harmonisasi warna
- Layang-layang tiga dimensi (3D) yang menghadirkan tantangan lebih kompleks karena peserta harus mampu menggabungkan unsur seni, konstruksi, dan kemampuan terbang secara seimbang
- Train naga, jenis layang-layang rangkaian yang memiliki bentuk spektakuler dan kerap menjadi pusat perhatian karena panjang serta gerakan meliuk-liuk di udara
Keikutsertaan kontingen dari Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta membuat persaingan berlangsung sengit. Masing-masing daerah telah menyiapkan karya terbaik.
Markus mengatakan, setiap peserta membawa identitas dan ciri khas daerah masing-masing. Oleh karena itu, penampilan layang-layang yang mengudara nanti tidak hanya menjadi kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi pameran kreativitas masyarakat DIY.
“Setiap daerah memiliki karakter dan ide yang berbeda. Itulah yang membuat lomba layang-layang selalu menarik untuk disaksikan. Penonton tidak hanya melihat siapa yang menang, tetapi juga menikmati karya-karya luar biasa yang diterbangkan peserta,” katanya.
Penilaian Ketat
Untuk menjamin objektivitas dan kualitas perlombaan, panitia menerapkan sistem penilaian yang cukup ketat. Penilaian dilakukan dalam dua tahapan, yakni penilaian bawah dan penilaian atas.
Pada tahap penilaian bawah, dewan juri akan mengamati keserasian gambar layang-layang dengan tema atau judul yang diangkat peserta. Juri juga akan menilai kerapian konstruksi, kualitas pembuatan, orisinalitas karya, hingga komposisi warna yang digunakan.
Setelah itu, peserta memasuki tahap penilaian atas yang menjadi penentuan utama. Pada tahap ini, juri akan mengamati proses penerbangan layang-layang, kestabilan saat berada di udara, kemampuan rangka layang-layang mengangkat badan secara sempurna, serta komposisi warna yang tetap terlihat menarik ketika mengudara.
Tahapan tersebut menjadikan kompetisi tidak hanya bergantung pada keindahan desain. Peserta juga harus mampu membuktikan bahwa karya mereka benar-benar memiliki kemampuan terbang yang baik.
Suasana kompetisi akan berlangsung dramatis. Tidak sedikit karya layang-layang yang terlihat indah saat berada di darat, tetapi gagal menunjukkan performa maksimal ketika menghadapi hembusan angin di udara.
Sebaliknya, ada pula layang-layang yang sederhana secara visual tapi mampu terbang stabil dan memukau selama proses penjurian berlangsung.
Dalam setiap kategori, panitia akan menetapkan tiga pemenang terbaik. Para juara tersebut berhak mendapatkan penghargaan sekaligus peluang untuk mewakili daerah pada ajang olahraga masyarakat tingkat lebih tinggi.
Kesempatan tersebut menjadi motivasi tambahan bagi para peserta. Mereka tidak hanya mengejar prestasi di tingkat DIY, tetapi juga membawa nama daerah dan komunitas menuju panggung yang lebih luas.
Markus optimistis pelaksanaan Forda II DIY 2026 akan berlangsung meriah dan menjadi salah satu agenda olahraga masyarakat paling menarik tahun ini.
Ia berharap masyarakat memanfaatkan momentum tersebut untuk datang langsung ke lokasi, menikmati keindahan layang-layang, sekaligus mendukung semangat hidup sehat.
“Melalui Forda, kami ingin menunjukkan bahwa olahraga masyarakat mampu menghadirkan kegembiraan, mempererat persaudaraan, dan membangun masyarakat yang sehat. Layang-layang menjadi media yang sangat efektif untuk menyatukan berbagai kalangan tanpa batas usia,” ungkapnya. (ef linangkung)