
TUGUJOGJA— Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta bergerak cepat menindaklanjuti dugaan penggunaan obat tidur jenis Chlorpheniramine Maleate (CTM) terhadap balita korban daycare Little Aresha.
Pemkot memilih pendekatan psikologis sebagai langkah utama dalam proses penanganan kasus yang memicu keresahan publik tersebut.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa timnya tidak hanya fokus pada aspek administratif dan investigasi teknis, tetapi juga langsung menyentuh kondisi psikologis anak dan orang tua yang terdampak.
Dugaan Obat CTM di Daycare Little Aresha
Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa Pemkot Yogyakarta menghadapi tantangan dalam pembuktian secara medis terkait dugaan paparan CTM pada balita. Ia menyebut CTM sebagai zat yang mudah larut dalam tubuh sehingga tidak mudah dilacak setelah beberapa jam.
“CTM itu jenis obat yang dalam waktu sekitar delapan jam bisa larut di tubuh, sehingga pembuktian secara biologis menjadi tidak sederhana,” ujar Hasto saat melakukan pemantauan daycare di Pelangi Anak Negeri, Kelurahan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Rabu (29/4/2026).
Karena kondisi tersebut, Pemkot Yogyakarta mengalihkan fokus pada pendekatan psikologis untuk menilai dampak yang mungkin dialami anak-anak korban.
Hasto menegaskan bahwa Pemkot Yogyakarta akan melibatkan psikolog profesional untuk mengamati kondisi perilaku anak secara langsung.
“Saya kira pendekatan bisa lewat psikolog. Kita ingin melihat apakah anak-anak ini menunjukkan tanda-tanda tertentu, misalnya ketergantungan obat atau kondisi psikologis yang tidak stabil,” jelasnya.
Di tengah proses penanganan kasus daycare Little Aresha, Pemkot Yogyakarta juga melakukan pemantauan langsung terhadap fasilitas penitipan anak lain yang kini menjadi tempat penampungan sementara.
Hasto Wardoyo memantau aktivitas di Daycare Pelangi Anak Negeri yang berlokasi di Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo. Ia mencatat terdapat tujuh balita yang saat ini dititipkan di lokasi tersebut.
Dari tujuh balita itu, Pemkot menemukan bahwa lima anak membutuhkan perhatian khusus karena mengalami gangguan perkembangan.
“Di Pelangi Anak Negeri ada tujuh balita. Lima di antaranya memiliki kebutuhan khusus seperti autisme, down syndrome, dan hiperaktif,” ungkap Hasto.
Pemkot Yogyakarta kemudian menempatkan tenaga pendamping untuk memastikan anak-anak tersebut mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Pemkot Yogyakarta Siapkan 15 Daycare untuk 103 Balita Korban
Dalam upaya penanganan lebih luas, Pemkot Yogyakarta juga menyiapkan 15 fasilitas daycare sebagai tempat penampungan bagi 103 balita yang terdampak kasus daycare Little Aresha.
Langkah ini akan memastikan seluruh anak tetap mendapatkan layanan pengasuhan yang aman dan terpantau selama proses investigasi berlangsung.
Hasto Wardoyo menegaskan bahwa Pemkot Yogyakarta tidak hanya fokus pada pemindahan anak, tetapi juga memastikan kondisi psikologis mereka tetap stabil selama masa transisi.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, Pemkot Yogyakarta memutuskan untuk menanggung seluruh biaya perawatan dan penitipan anak selama tiga bulan ke depan. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan psikologis pada orang tua korban.
“Biar orang tua yang juga mengalami tekanan secara psikis bisa lebih terbebas dari beban pikiran soal biaya. Kita juga hadirkan psikolog untuk mendampingi mereka,” terang Hasto Wardoyo.
Pemkot Yogyakarta berharap kebijakan ini dapat memberikan ruang pemulihan bagi keluarga sekaligus memastikan anak-anak tetap berada dalam lingkungan yang aman.
Kasus dugaan penggunaan CTM di lingkungan daycare Little Aresha kini tidak hanya menjadi perhatian dari sisi hukum dan administrasi, tetapi juga dari sisi kesehatan mental anak.
Pemkot Yogyakarta menempatkan pemulihan psikologis sebagai prioritas utama, baik bagi anak-anak maupun orang tua. Pendekatan ini akan mengurangi dampak trauma jangka panjang yang mungkin timbul akibat kejadian tersebut.
Dengan melibatkan psikolog, memperluas kapasitas daycare, serta menanggung biaya operasional sementara, Pemkot Yogyakarta berupaya memastikan seluruh proses penanganan berjalan komprehensif dan manusiawi.
Pemkot Yogyakarta memastikan bahwa penanganan kasus daycare Little Aresha akan terus berlanjut secara transparan.
Hasto Wardoyo menegaskan bahwa pemerintah akan membuka ruang evaluasi dan pemantauan berkala terhadap seluruh fasilitas daycare yang berada di bawah koordinasi kota. (ef linangkung)
https://frankspizzapalace.com/menu