
TUGU JOGJA – Libur Lebaran 2026 membawa berkah tersendiri bagi pelaku wisata di lereng Gunung Merapi. Di tengah suasana hari raya yang identik dengan silaturahmi, ratusan wisatawan justru memilih merayakan momen kebersamaan dengan cara berbeda menyusuri jalur ekstrem menggunakan jip wisata di kawasan Sleman.
Sejak pagi buta, deru mesin jip terdengar memecah keheningan lereng Merapi. Para sopir tampak sigap menyambut kedatangan wisatawan yang datang silih berganti. Wajah-wajah penuh antusias terlihat dari keluarga yang ingin merasakan pengalaman liburan yang tak biasa.
Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Gunung Merapi (AJWLM), Dardiri, mengungkapkan lonjakan kunjungan sudah mulai terasa sejak sehari sebelum Lebaran.
“Sejak kemarin sudah mulai ramai, lebih dari 100 wisatawan. Hari ini juga sudah ramai, sejak pagi sudah ada sekitar 100-an pengunjung,” ujar Dardiri saat ditemui, Sabtu (21/3/2026).
Ia melihat fenomena menarik pada pola liburan tahun ini. Meski pemerintah menetapkan Hari Raya Idulfitri jatuh pada Sabtu, banyak wisatawan tampaknya telah merayakan lebih awal. Hal itu membuat hari pertama Lebaran justru dipenuhi aktivitas wisata.
“Sepertinya banyak yang merayakan kemarin, sehingga hari ini sudah langsung berwisata,” tambahnya.
Wisata Keluarga Jadi Primadona
Tidak hanya wisatawan lokal dari Yogyakarta dan sekitarnya, pengunjung juga berdatangan dari berbagai kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan, beberapa wisatawan rela menempuh perjalanan jauh dari luar pulau, termasuk dari Kalimantan.
Mayoritas dari mereka datang bersama keluarga. Mereka memilih paket perjalanan singkat atau short trip yang menawarkan rute menuju bunker Merapi—destinasi favorit yang menyimpan cerita sejarah erupsi.
“Sekitar 85 persen wisatawan memilih rute short, biasanya sampai ke bunker. Itu yang paling diminati saat liburan keluarga,” jelas Dardiri.
Pilihan ini bukan tanpa alasan. Selain durasi yang lebih singkat, rute tersebut tetap menyuguhkan sensasi petualangan sekaligus edukasi tentang keganasan alam yang pernah melanda kawasan Merapi.
Dari Sepi Ramadan ke Ramainya Lebaran
Dardiri mengakui, kondisi saat Ramadan sempat membuat kawasan wisata ini nyaris sepi. Minimnya kunjungan wisatawan dimanfaatkan oleh para pelaku wisata untuk melakukan pembenahan besar-besaran.
Para anggota AJWLM memperbaiki mesin, mengganti cat, hingga memastikan seluruh armada dalam kondisi prima. Upaya tersebut kini membuahkan hasil saat lonjakan wisatawan datang di momen Lebaran.
“Kami memperbaharui semuanya saat puasa kemarin. Catnya baru, armadanya juga sudah diperbaiki,” ujarnya.
Persiapan matang itu menjadi kunci untuk menjaga kenyamanan dan keamanan wisatawan, terutama di jalur yang terkenal menantang.
Harapan di Tengah Debu Merapi
Di balik gemuruh mesin dan debu yang beterbangan, tersimpan harapan besar para pelaku wisata. Mereka menggantungkan rezeki dari geliat wisatawan yang datang, terutama setelah melewati masa sepi selama Ramadan.
Dardiri memprediksi lonjakan wisatawan akan terus berlanjut hingga satu minggu ke depan. Ia optimistis momen libur panjang Lebaran akan menjadi titik kebangkitan ekonomi bagi komunitas jip wisata di lereng Merapi.
Bagi para wisatawan, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan. Mereka membawa pulang cerita, tawa keluarga, dan kenangan yang tercipta di tengah lanskap eksotis Merapi.
Sementara bagi para pengemudi jip, setiap perjalanan yang mereka antar bukan hanya soal rute dan destinasi, tetapi juga tentang menjaga harapan tetap hidup—di tengah kerasnya medan dan tak menentunya roda pariwisata.(ef linangkung)