
TUGUJOGJA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi dalam sepekan terakhir terpantau masih tinggi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat gunung api tersebut lima kali meluncurkan awan panas guguran selama periode 26 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Seluruh kejadian mengarah ke sektor barat daya.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menyampaikan, rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Merapi masih berada dalam fase erupsi efusif. Data pemantauan visual dan instrumental mengindikasikan suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu kejadian serupa.
Awan Panas dan Guguran Lava Capai Dua Kilometer
Selama masa pengamatan, lima kali awan panas guguran tercatat dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Awan panas tersebut meluncur ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Krasak serta Sungai Sat/Putih.
Selain awan panas, aktivitas guguran lava pijar juga masih intens. BPPTKG mencatat 24 kali guguran lava ke arah hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter. Delapan guguran lava tercatat mengarah ke Kali Bebeng sejauh hingga 1.900 meter, sementara 20 guguran lava lainnya meluncur ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak maksimum 2.000 meter.
Rangkaian guguran tersebut menunjukkan pergerakan material vulkanik dari kubah lava masih terus terjadi, terutama di sektor selatan hingga barat daya Gunung Merapi.
Asap Putih Teramati dari Kawah
Secara visual, Gunung Merapi terpantau relatif jelas pada pagi dan malam hari. Namun, pada siang hingga sore, puncak gunung kerap tertutup kabut. Selama periode pengamatan, aktivitas hembusan asap putih terus teramati dari kawah.
Asap bertekanan lemah tersebut tercatat memiliki ketinggian antara 10 hingga 50 meter dari puncak, dengan ketebalan bervariasi dari tipis hingga tebal. Kondisi ini mencerminkan pelepasan gas vulkanik yang masih berlangsung secara kontinu.
Perubahan Morfologi Kubah Lava
BPPTKG juga melakukan analisis perubahan morfologi kubah lava melalui kamera pemantauan di Ngepos dan Babadan 2. Hasil analisis menunjukkan adanya sedikit perubahan morfologi pada Kubah Barat Daya, yang dipengaruhi oleh dinamika volume kubah dan aktivitas guguran lava.
Sementara itu, Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan. Berdasarkan analisis foto udara tertanggal 13 Desember 2025, volume Kubah Barat Daya tercatat sebesar 4.171.800 meter kubik. Adapun volume Kubah Tengah mencapai 2.368.800 meter kubik.
Aktivitas Kegempaan Meningkat
Dari sisi kegempaan, aktivitas seismik Gunung Merapi mengalami peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya. Selama periode pengamatan, BPPTKG merekam 5 gempa Awan Panas Guguran (APG), 5 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 430 gempa Fase Banyak (MP), 1 gempa Low Frequency (LF), 720 gempa Guguran (RF), serta 7 gempa Tektonik (TT).
“Pola kegempaan tersebut memperkuat indikasi bahwa pergerakan magma dan material vulkanik masih aktif di tubuh Gunung Merapi,” ujar Agus Budi Santoso.
Deformasi Relatif Stabil
Meskipun aktivitas permukaan dan kegempaan terpantau meningkat, hasil pengukuran deformasi menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Pengukuran Electronic Distance Measurement (EDM) di sektor barat laut, dari titik BAB0 ke reflektor RB2, mencatat jarak berkisar antara 3.840,404 meter hingga 3.840,415 meter.
Sementara itu, data Global Positioning System (GPS) pada baseline Labuhan–Jrakah menunjukkan jarak antara 7.108,13 meter hingga 7.108,14 meter. BPPTKG menyimpulkan tidak terdapat perubahan deformasi yang signifikan selama periode tersebut.
Curah Hujan dan Kondisi Lahar
Hujan sempat mengguyur kawasan Gunung Merapi, dengan intensitas tertinggi tercatat pada 1 Januari 2026. Pos Pengamatan Babadan mencatat curah hujan mencapai 14,97 milimeter per jam dengan durasi selama 355 menit.
Meski demikian, hingga akhir periode pengamatan, petugas tidak melaporkan adanya peningkatan aliran sungai maupun kejadian lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Status Siaga Tetap Berlaku
Berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh, BPPTKG menetapkan status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau “SIAGA”. Agus Budi Santoso menegaskan bahwa suplai magma yang masih berlangsung berpotensi memicu awan panas guguran sewaktu-waktu, terutama di dalam kawasan potensi bahaya.
Potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas diperkirakan mengancam sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi mencapai radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Imbauan kepada Pemerintah dan Masyarakat
BPPTKG mengimbau pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk terus meningkatkan upaya mitigasi bencana, memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, serta memastikan ketersediaan sarana dan prasarana evakuasi.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan potensi bahaya, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas guguran dan lahar, terutama saat hujan, serta mengantisipasi dampak abu vulkanik.
Informasi resmi dan terkini mengenai aktivitas Gunung Merapi dapat diperoleh melalui Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat, situs resmi BPPTKG dan Magma Indonesia, aplikasi Magma Indonesia, media sosial BPPTKG, serta layanan radio komunikasi VHF.