
TUGU JOGJA – Mencetak debater yang kompetitif tidak cukup hanya dengan melatih kemampuan berbicara. Kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi berbasis bukti, dan mempertanggungjawabkan gagasan secara logis juga menjadi bagian penting dalam pembinaan talenta debat siswa.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus Workshop Pemandu Ajang Talenta Debat yang diikuti sekitar 50 guru Bahasa Inggris Kabupaten Bantul serta tim debat DIY untuk Lomba Debat Indonesia (LDI) 2026 di Aula SMA Negeri 1 Bantul, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut menghadirkan dosen Program Studi Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Rachmat Nurcahyo, M.A., untuk membekali guru dengan strategi pembinaan debat.
Guru Punya Peran Penting dalam Membentuk Debater
Sebagai Koordinator Juri Lomba Debat Nasional dan sosok yang pernah mendampingi tim debat Indonesia di ajang internasional, Rachmat menilai kualitas pembinaan guru menjadi salah satu faktor penting dalam melahirkan debater yang kompetitif.
“Debat bukan sekadar kemampuan berbicara atau memenangkan perlombaan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana siswa belajar berpikir kritis, menyusun argumentasi berbasis bukti, dan mampu mempertanggungjawabkan gagasannya secara logis,” kata Rachmat saat membuka sesi pelatihan.
Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam proses pembinaan karena menjadi pihak yang berinteraksi langsung dengan siswa setiap hari.
“Guru bukan hanya pelatih yang mempersiapkan siswa menghadapi lomba. Guru adalah pemandu talenta yang membantu peserta didik menemukan cara berpikir, berargumentasi, dan berkomunikasi secara sistematis,” ujarnya.
Hadirkan Praktisi Debat Nasional
Dalam workshop tersebut, Rachmat didampingi oleh Dr. Andy Bayu Nugroho, M.Hum., juri terakreditasi kompetisi debat nasional yang memberikan materi mengenai analisis isu, penguatan argumentasi, dan strategi membaca mosi debat.
Peserta mendapatkan pembekalan mulai dari format dan struktur debat, teori argumentasi, keterampilan berpikir kritis, hingga teknik membedah mosi yang kerap muncul dalam kompetisi tingkat nasional.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Guru-guru tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga terlibat dalam simulasi, diskusi kelompok, dan latihan analisis isu yang menuntut mereka melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Kualitas debat tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak berbicara, tetapi oleh kemampuan menganalisis persoalan, menyusun alasan yang kuat, dan menyampaikan argumentasi secara logis,” kata Andy Bayu Nugroho.
Menyiapkan Talenta dari Ruang Kelas
Kepala SMA Negeri 1 Bantul yang membuka kegiatan menyambut positif kolaborasi antara UNY dan MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Bantul tersebut. Ia menilai kemampuan berpikir kritis dan komunikasi menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan siswa pada jenjang pendidikan tinggi maupun dunia kerja.
Bagi Rachmat, keberhasilan pembinaan debat tidak semata diukur dari jumlah piala yang diraih siswa.
“Prestasi memang penting, tetapi tujuan yang lebih besar adalah melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, menyampaikan gagasan secara rasional, dan menghargai perbedaan pandangan. Itu yang ingin kami bangun melalui pembinaan debat di sekolah,” tuturnya.
Melalui kegiatan PkM ini, UNY berharap guru-guru Bahasa Inggris di Bantul memiliki bekal yang lebih kuat untuk mengembangkan klub debat dan pembinaan talenta secara berkelanjutan. Dari ruang kelas dan latihan rutin di sekolah, potensi siswa diharapkan dapat tumbuh menjadi prestasi di tingkat regional, nasional, hingga internasional. (Gal)