TUGU JOGJA – Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat 680 kasus Tuberkulosis (TB) terdeteksi hingga Juli 2026. Untuk mengantisipasi penambahan kasus yang setiap tahun rata-rata mencapai sekitar 1.000 penderita, pemerintah daerah menggelar skrining massal terpadu di 52 titik pelayanan.
Skrining tersebut mengintegrasikan program Active Case Finding (ACF) TB dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kegiatan menyasar 45 kelurahan, area perkantoran, hingga rutan dan lapas dan berlangsung mulai 31 Juli sampai 19 November 2026.
Percepat Target Eliminasi dan Zero TB
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menegaskan integrasi ini menjadi langkah krusial untuk memutus rantai penularan di masyarakat.
“Kegiatan ACF TB yang terintegrasi dengan cek kesehatan gratis didanai dengan anggaran pemerintah pusat. Integrasi ACF TB dan cek kesehatan gratis adalah upaya percepatan eliminasi dan zero TB,” kata Lana Unwanah dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Program pencarian kasus aktif ini sebenarnya telah dirintis sejak 2020 dengan dukungan LSM Zero TB Yogyakarta. Lewat skema teranyar ini, penemuan kasus di lapangan diharapkan bisa dipercepat agar pasien langsung mendapat penanganan medis sejak dini.
Ancaman Mobilitas: 60% Pasien Berasal dari Luar Daerah
Ancaman penularan di Kota Gudeg terbilang tinggi karena 50 hingga 60 persen pasien yang mengakses fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) di Kota Jogja merupakan warga berdomisili luar daerah. Tinggi mobilitas warga antarwilayah ini berisiko melipatgandakan penularan lewat udara.
Dari total 680 kasus yang sudah teridentifikasi per Juli 2026, sebanyak 637 pasien di antaranya telah masuk tahap pengobatan intensif. Petugas kini memburu sisa kasus tersembunyi, terutama warga yang tidak menyadari dirinya membawa bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Peta Kendali dan Risiko Penanganan TB Kota Yogyakarta
| Indikator Penanganan | Angka / Estimasi | Detail | Implikasi Lapangan |
|---|---|---|---|
| Temuan Kasus Teridentifikasi | 680 Kasus | Data akumulasi hingga Juli 2026 | |
| Pasien Aktif Pengobatan | 637 Pasien | Terapi obat berkala yang dipantau ketat | |
| Rata-rata Kasus Tahunan | ~1.000 Kasus | Estimasi tren penularan saban tahun | |
| Pasien Non-Domisili Jogja | 50% โ 60% | Mengakses faskes lokal, memicu risiko penularan silang | |
| Tingkat Kesembuhan (Success Rate) | 80% โ 85% | Capaian standar, terancam turun jika pasien mangkir |
Teknologi X-Ray Portable dan Bahaya Putus Obat
Antrean warga tampak memadati posko pelayanan di sejumlah titik kelurahan. Tim medis menerjunkan alat portable X-ray ke lokasi agar pemindaian kondisi paru-paru warga bisa langsung keluar saat itu juga, disertai pelacakan kontak erat pasien aktif.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan menumpuk perhatian pada ketaatan pasien menjalani pengobatan selama enam bulan nonstop. Pasien yang berhenti minum obat di pertengahan jalan karena merasa tubuhnya membaik berisiko tinggi memicu kekebalan bakteri (Multi-Drug Resistant TB).
Untuk menekan risiko penularan harian, masyarakat diimbau rutin menjemur perlengkapan rumah yang lembap seperti kasur dan sofa, menjaga sirkulasi udara rumah, serta konsisten memakai masker di area kerumunan.





