TUGU JOGJAย – Peristiwa kesurupan massal yang dialami belasan siswa saat mengikuti kegiatan perkemahan di Gunungkidul, Yogyakarta, pada 2016 kembali menarik perhatian setelah kisahnya diangkat di layar lebar. Adapun film tersebut berjudul Kemah Terlarang: Kesurupan Massal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tugujogja.id, diketahui bahwa peristiwa tersebut melibatkan siswa SMK Kesehatan Giri Handayani Gunungkidul yang sedang mengikuti kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu (Persami).
Kala itu, kabar mengenai adanya fenomena tersebut sempat ramai diperbincangkan di segala lini media sosial, termasuk TikTok, Instagram, Facebook dan lain sebagainya.
Sehingga, kisahnya kemudian dikembangkan menjadi buku berjudul Perkemahan Terlarang dan diadaptasi ke film.
Sementara itu, berdasarkan kabar yang beredar, peristiwa tersebut memang terjadi di tahun 2016 dimana belasan siswa SMK Kesehatan Giri Handayani mengikuti kegiatan Persami.
Sejumlah siswa pun kemudiandilaporkan mengalami gejala kesurupan massal. Beberapa di antaranya bahkan melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri, termasuk mencakar tubuhnya.
Kisah inilah yang kemudian selanjutnya dikembangkan menjadi buku Perkemahan Terlarang. Cerita dalam buku itu kemudian menjadi dasar pengembangan film Kemah Terlarang: Kesurupan Massal.
Sementara, diketahui bahwa film Kemah Terlarang: Kesurupan Massal disutradarai Ginanti Rona dan diproduksi Rapi Films.
Film tersebut tayang pada 10 Oktober 2024 dengan mengangkat kisah yang terinspirasi dari peristiwa perkemahan di Yogyakarta pada 2016.
Dalam film, penonton akan diperkenalkan dengan Rini, siswi kelas satu SMA Pandega yang diperankan Callista Arum.
Ia mengikuti kegiatan perkemahan di Hutan Wana Alus dengan tujuan membuktikan keberanian sekaligus mendekati Miko, ketua panitia yang disukainya.
Situasi kemudian berubah menjadi mencekam setelah muncul larangan menyentuh area tertentu. Pementasan drama dan rangkaian kejadian berikutnya berkembang menjadi cerita kesurupan yang melibatkan banyak peserta.
Namun, nama SMA Pandega, tokoh Rini, Miko, dan Hutan Wana Alus merupakan bagian dari pengembangan fiksi film. Unsur tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan identitas sekolah, peserta, maupun lokasi kejadian sebenarnya.
Meski begitu, film tersebut diketahui menggunakan kebebasan dramatik untuk membangun ketegangan dan menghadirkan pengalaman horor bagi penonton.
Sehingga, dapat diketakan karya tersebut merupakan adaptasi yang terinspirasi peristiwa nyata, bukan rekonstruksi dokumenter.
Dan berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa kisah kesurupan massal 2016 memiliki dua perjalanan berbeda.
Peristiwa yang dialami belasan siswa menjadi cerita yang menyebar di masyarakat, sedangkan buku dan film mengembangkannya menjadi narasi horor.
Dan memahami perbedaan keduanya membuat kisah ini dapat dikenang tanpa mencampuradukkan fakta kejadian dengan imajinasi sinematik.***





