TUGU JOGJA – Keraton Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa, tetapi juga menyimpan berbagai peninggalan bersejarah berupa kereta kencana yang memiliki nilai historis dan sakral.
Salah satu yang paling tua dan terkenal adalah Kereta Kanjeng Nyai Jimat, kereta pusaka yang dibuat di Belanda pada rentang 1740 hingga 1750 dan pernah digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono III.
Kereta ini kemudian tidak lagi digunakan sebagai kendaraan operasional Sultan, tetapi tetap dirawat sebagai salah satu kereta pusaka utama Kasultanan Yogyakarta.
Keberadaan Kereta Kanjeng Nyai Jimat tidak hanya berkaitan dengan sejarah perjalanan Keraton Yogyakarta. Kereta tersebut juga dikelilingi tradisi dan kepercayaan masyarakat yang terus bertahan hingga sekarang.
Salah satu yang paling dikenal adalah mitos mengenai air bekas ritual Jamasan yang dipercaya dapat membawa berkah dan kesembuhan.
Kereta Kanjeng Nyai Jimat Menjadi Kereta Pusaka Tertua Keraton Yogyakarta
Dari berbagai koleksi kereta yang dimiliki Keraton Yogyakarta, Kanjeng Nyai Jimat tercatat sebagai kereta pusaka tertua.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Kraton Jogja, kereta tersebut dibuat di Belanda pada rentang tahun 1740 hingga 1750.
Nilai sejarah Kanjeng Nyai Jimat semakin kuat karena kereta ini pernah digunakan langsung oleh sejumlah Sultan Yogyakarta.
Penggunaannya berlangsung sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755โ1792) hingga Sri Sultan Hamengku Buwono III (1812โ1814).
Setelah masa tersebut berakhir, Kanjeng Nyai Jimat tidak lagi digunakan sebagai kendaraan operasional Sultan.
Meski demikian, kedudukannya tidak berhenti sebagai benda peninggalan sejarah. Kereta tersebut tetap dirawat dan disimpan di lingkungan keraton sebagai kereta pusaka utama Kasultanan Yogyakarta.
Status tersebut membuat Kanjeng Nyai Jimat memiliki posisi khusus dalam sejarah dan tradisi Keraton Yogyakarta. Keberadaannya menjadi bagian dari peninggalan masa lalu yang masih mendapatkan perawatan hingga saat ini.
Kanjeng Nyai Jimat Disebut Hadiah Gubernur Jenderal VOC
Sejarah Kanjeng Nyai Jimat juga berkaitan dengan hubungan politik pada masa awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, kereta tersebut disebut sebagai hadiah dari Gubernur Jenderal VOC Jacob Mussel kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Jacob Mussel menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC pada 1750โ1761. Pemberian kereta tersebut disebut berlangsung setelah Perjanjian Giyanti disepakati pada 1755.
Perjanjian Giyanti menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Dalam konteks sejarah Kanjeng Nyai Jimat, kereta tersebut kemudian menjadi salah satu peninggalan yang melekat dengan perjalanan awal pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Selain memiliki nilai sejarah, Kanjeng Nyai Jimat juga memperlihatkan pengaruh desain kendaraan Eropa pada zamannya. Bentuk kereta tersebut identik dengan kendaraan yang berkembang di Eropa, khususnya gaya Renaissance.
Pada masa itu, kereta dengan bentuk dan gaya tersebut bukan kendaraan biasa. Di Eropa, model kereta semacam itu merupakan kendaraan mewah yang digunakan oleh kalangan bangsawan kelas tertinggi maupun para raja.
Karena itu, bentuk fisik Kanjeng Nyai Jimat menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan hubungan antara sejarah keraton dan perkembangan budaya material pada masa lalu.
Ritual Jamasan Kereta Kanjeng Nyai Jimat Dilakukan Setiap Tahun
Sebagai kereta pusaka yang dipandang sakral, Kanjeng Nyai Jimat mendapatkan perawatan khusus melalui ritual Jamasan.
Ritual tersebut dilakukan setiap tahun pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di bulan Sura dalam penanggalan Jawa.
Dalam pelaksanaannya, Kereta Kanjeng Nyai Jimat dikeluarkan dari Museum Keraton untuk dibersihkan. Proses pembersihan tersebut bukan sekadar perawatan fisik, tetapi menjadi bagian dari tradisi yang memiliki nilai khusus bagi keraton dan masyarakat.
Pelaksanaan Jamasan juga menjadi salah satu momen ketika perhatian masyarakat terhadap kereta pusaka tersebut terlihat secara langsung. Masyarakat umum yang datang biasanya berusaha mendapatkan air yang tersisa dari proses pembersihan kereta.
Air tersebut kemudian menjadi bagian dari kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat dan melahirkan salah satu mitos paling dikenal terkait Kanjeng Nyai Jimat.
Air Bekas Jamasan Dipercaya Membawa Berkah
Dalam pelaksanaan Jamasan Kereta Kanjeng Nyai Jimat, air yang digunakan untuk membersihkan kereta kemudian bercampur dengan perasan jeruk nipis dan air kembang setaman.
Masyarakat yang hadir meyakini air sisa cucian tersebut memiliki nilai khusus. Air bekas Jamasan dipercaya dapat membawa berkah keselamatan bagi orang yang mendapatkannya.
Tidak hanya itu, air tersebut juga diyakini ampuh menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat berdesakan untuk memperoleh sisa air saat ritual Jamasan berlangsung.
Mitos mengenai air pembawa berkah tersebut menjadi bagian dari cerita yang menyelimuti Kanjeng Nyai Jimat. Kepercayaan masyarakat terhadap air bekas Jamasan juga memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi keraton dapat
memiliki makna yang lebih luas di tengah masyarakat.
Jadi Bagian dari Tradisi Keraton Yogyakarta
Kisah Kanjeng Nyai Jimat mempertemukan sejumlah unsur penting, mulai dari sejarah, peninggalan kerajaan, arsitektur Eropa, tradisi keraton hingga kepercayaan masyarakat. Kereta yang dibuat di Belanda pada rentang 1740 hingga 1750 itu memiliki perjalanan panjang sejak digunakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono III.
Setelah tidak lagi digunakan sebagai kendaraan operasional Sultan, Kanjeng Nyai Jimat tetap dipertahankan sebagai kereta pusaka utama Kasultanan Yogyakarta. Adapun kegiatan perawatan lewat ritual Jamasan kemudian menjadi bagian dari tradisi yang terus dilakukan setiap tahun.
Dan pada saat yang sama, ritual tersebut juga melahirkan kepercayaan masyarakat mengenai air bekas pembersihan kereta.
Air yang telah bercampur dengan perasan jeruk nipis dan air kembang setaman dipercaya membawa berkah keselamatan dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Nah, itu tadi penjelasan soal mitos dan sejarah panjang di balik sakralnya Kereta Kencana Kanjeng Nyai Jimat milik Keraton Yogyakarta.***





